Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengenal Wakil Kalteng di Ajang Putra Putri Kebudayaan Nusantara

izak-Indra Zakaria • Minggu, 4 Juli 2021 - 20:48 WIB
WAKIL KALTENG: Doni Miseri Cordias Domini dan Cindy Destasya Masal mewakili Kalteng ke ajang PPKN tingkat nasional pada November 2021. BAWI BALINGA MANAGEMENT UNTUK KALTENG POS
WAKIL KALTENG: Doni Miseri Cordias Domini dan Cindy Destasya Masal mewakili Kalteng ke ajang PPKN tingkat nasional pada November 2021. BAWI BALINGA MANAGEMENT UNTUK KALTENG POS

Pepatah mengatakan; Banyak jalan menuju Roma. Banyak pula cara menjaga budaya Nusantara, khususnya Kalteng dengan julukannya Bumi Pancasila.

 

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

ASA menjaga warisan budaya dibalut dalam ajang pemilihan Putra Putri Kebudayaan Nusantara (PPKN) Kalteng pertama kalinya digelar tahun ini. Ajang pemilihan bakat dimotori Bawi Balinga Management, didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, menjadi salah satu upaya milenial turut aktif merawat kerifan lokal.

Malam penganugerahan 27 Juni 2021 di Hotel Aurilla Palangka Raya, menobatkan Doni Miseri Cordias Domini dan Cindy Destasya Masal sebagai Putra Putra Kebudayaan Nusantara Kalteng. Keduanya bakal mewakili Bumi Tambun Bungai pada ajang PPKN tingkat nasional yang akan digelar November 2021 nanti.

"Ingat, kita Kalteng dijuluki Bumi Tambun Bungai, Bumi Pancasila, refleksi Indonesia harusnya ada di Kalteng. Ini yang harus dipegang bersama. Makanya kami berupaya memperkenalkan budaya Kalteng ke tingkat nasional," kata Doni mengawali percakapan di sebuah kedai kopi. 

Unggul bersaing dengan 17 peserta (7 putra dan 10 putri), pasangan Doni dan Cindy kini memiliki tugas mempelajari, menjaga, mengajak generasi muda, hingga mengenalkan budaya Kalteng ke kancah nasional bahkan internasional. Berusia 18 tahun, Doni yang baru lulus SMAN 4 Palangka Raya memiliki banyak pemikiran saat pemilihan sampai menjalankan tugas dan seterusnya.

 "Saya membawa advokasi budaya manjawet (menganyam, red) rotan dan purun," ucap pemuda berpostur jangkung kelahiran Gohong, Pulang Pisau, 6 Mei 2003 saat berbincang-bincang dengan Kalteng Pos, beberapa hari lalu. 

Melanjutkan pemikiran kritisnya, menurutnya Kalteng sudah lama mengalami krisis pemahaman budaya. Alasan utama, karena kebanyakan masyarakat khususnya pemuda, penggunaan bahasa lebih memilih bahasa Banjar ketimbang bahasa Dayak dalam bertutur sehari-hari. "Pelaksanaan kegiatan pelestarian budaya juga kurang, ini menjadi tantangan tersendiri," lanjut anak pertama dari dua saudara pasangan Perianto dan Yulian Santie. 

Pemuda yang memiliki hobi berorganisasi, basket, dan gabung sebagai Indonesia Scout Journalism (ISJ) atau Jurnalis Pramuka Indonesia ini punya segudang ide untuk mendekatkan kaum milenial dengan kearifan lokal. Dicontohkannya, pemuda sudah saatnya percaya diri pakai bahasa Dayak, gabung organisasi kebudayaan, dan ikut aktif kegiatan adat. 

"Potensi wisata budaya, ya harus dipromosikan dong. Misalnya, Riam Sandung Amui, Tumbang Manyan Kotim, ada arung jeram, di sana itu kawasan khusus, banyak yang belum tahu, padahal potensi budaya luar biasa," imbuhnya. 

Sebagai jawara PPKN, Doni berharap pemerintah bisa memasukkan muatan lokal bahasa daerah sampai jenjang sekolah menengah atas (SMA). Pemangku kebijakan lebih peduli dan mau melihat potensi ikon dan masyarakat budaya, sehingga semangat mengurus dan melestarikan senada dengan semangat para pemuda. 

Belum lagi bicara usaha mikro kecil menengah (UMKM) budaya, kata dia, pemerintah tidak hanya sebatas memberi imbauan, tapi juga mesti ada dukungan nyata. Pun begitu, Doni menyadari masih adanya pemuda yang lebih memilih bersenang-senang dengan gawai ketimbang memanfaatkannya untuk meningkatkan pengetahuan budaya dan pariwisata. 

Senada, sang jawara PPKN Kalteng 2021, Cindy mengutarakan pemikiran dan upayanya sebagai generasi muda yang aktif melestarikan budaya. Gadis 19 tahun kelahiran Palangka Raya 15 Desember 2001 itu meyakini banyak harapannya bakal terwujud seiring tugas dan kesempatannya sebagai perwakilan Kalteng. 

"Tentu saja saya ingin upgrade (meningkatkan) pengetahuan dan wawasan kebudayaan maupun pariwisata melalui PPKN ini," celetuk lulusan SMA Presiden Boarding School, Cikarang, Jabar tersebut. Masih di kedai kopi yang sama, putri bungsu dari lima bersaudara pasangan Sandra Jaya Masal dan Connie Relae itu bertekad mengenalkan kekayaan budaya Kalteng ke seantero negeri hingga mancanegara. 

Untuk itu, ia berharap penggunaan bahasa dan tari daerah terus abadi. Sehingga apresiasi dan rasa memiliki makin tinggi seiring memudarnya kesadaran mencintai budaya sendiri, khususnya pada kalangan pemuda Bumi Tambun Bungai.

 "Sarana dan prasarana belajar bahasa dan tari misalnya, harus mendapat dukungan pemerintah. Sama dengan ide Doni tadi, muatan lokal bahasa dan tari sampai SMA bisa jadi upaya bersama," ucap gadis yang hobi modelling dan sangat menggandrungi tari Dadas.  Mendukung UMKM, lanjut Cindy, bisa dengan promo dan membuat suvenir getah nyatu tentang ikon budaya Kalteng, karena mudah didapat dan ada di mana-mana.

Sementara itu, mewakili Bawi Balinga Management, Dessy menuturkan sejumlah persiapan bagi anak didiknya, Cindy dan Doni. Mulai dari public speaking hingga karantina sebelum ajang nasional digelar November nanti.

“Harapannya tentu saja adik-adik kita ini khususnya dan semua pemuda pada umumnya, lebih semangat lagi menggelorakan budaya dan pariwisata daerah. Karena saya rasa kaum milenial kurang peduli dengan kelestarian budaya. Semoga pemerintah mendukung setiap kegiatan seperti kami, tak hanya secara moril tapi juga materiel,” bebernya. (abe/ktv/ce/ala)

Editor : izak-Indra Zakaria