Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Melihat Kehidupan Warga Penghuni Rumah Apung, Merasa Tenang dan Nyaman, Tetangga seperti Keluarga Sendiri

izak-Indra Zakaria • 2024-01-13 00:35:17
Photo
Photo

Rumah apung atau lanting merupakan tempat tinggal yang biasa ditemui di pinggiran sungai seperti Sungai Kahayan. Hunian yang terbuat dari kayu itu menjadi tempat yang nyaman bagi warga yang mendiaminya, meski dengan segala keterbatasan.

 

NOVIA NADYA CLAUDIA, Palangka Raya

 

SEJATINYA rumah tidak harus dibangun di atas tanah dan terbuat dari batako ataupun semen. Tak sedikit yang justru memiliki hunian berupa rumah apung atau lanting di pinggiran sungai. Rumah-rumah seperti itu banyak dijumpai di Pulau Kalimantan. Pasalnya, Kalimantan memiliki banyak sungai yang lebar. Tak sedikit warga yang memiliki untuk membangun rumah di wilayah sepanjang aliran sungai.

Bangunan yang umumnya terbuat dari kayu itu, menjadi hunian yang nyaman. Alih-alih menggeruk pinggiran sungai, masyarakat justru membuat rumah apung atau lanting agar dapat melindungi mereka beserta keluarga dari terik matahari dan guyuran hujan. Uniknya, ketika curah hujan tinggi dan air sungai naik, masyarakat yang tinggal di rumah apung justru merasa aman karena terhindar dari banjir. Sebab, rumah apung ini akan menyesuaikan dengan tinggi rendahnya air sungai.

Seorang warga yang memiliki rumah apung di pinggir Sungai Kahayan, Bahrudin, mengaku merasa nyaman menempati rumahnya tersebut. Pria berusia 52 tahun itu mengatakan, ia dan keluarga merasa senang tinggal di rumah apung, karena ada suasana yang tenang dan hubungan yang kuat antartetangga. Gotong royong masyarakat yang begitu kental saat kemarau maupun musim hujan, membuatnya betah untuk tetap tinggal di kawasan rumah apung itu.

“Saya di sini bersama keluarga sudah kurang lebih 10 tahun. Saya merasa tenang dan nyaman. Meskipun dengan segala keterbatasan, tetap bersyukur. Para tetangga juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Kalau air sedang naik atau kering, bisa saling membantu, karena rumah apung ini akan mengikuti air. Apabila air naik, posisi rumah akan lebih maju mendekati darat, bila air surut posisi rumah akan mundur kearah tengah sungai, tergantung kondisi air,” katanya kepada Kalteng Pos, Kamis (11/1).

Meski merasa nyaman menempati rumah apung, Bahrudin tidak menampik jika ia punya keinginan memiliki rumah hunian di darat. Namun kondisi perekonomian belum memungkinkan untuk memenuhi keinginannya itu. Hanya berdoa dan berharap suatu saat impiannya itu dapat terwujud. Untuk saat ini cukup mensyukuri yang ada. Menikmati kehidupan di pinggir sungai bersama keluarga tercinta.

Tak jauh dari rumah apung milik Bahrudin, terlihat seorang ibu sedang mengupas bawang merah di depan rumah apungnya, ditemani anak kecil laki-laki yang tampak asyik berlarian tanpa takut terjatuh ke sungai. Wanita itu bernama Mala. Anak bungsunya itu baru berusia 4 (empat) tahun. Mala bersama suami dan anak-anaknya telah menempati rumah apung itu selama 20 tahun.

Mereka memiliki tambak ikan yang berada tepat di depan rumah (arah sungai). Itulah salah satu mata pencaharian mereka. Dengan sapaan ramah, wanita berusia 38 tahun itu menceritakan, selama ini ia tidak pernah mengeluh. Sebaliknya ia bersyukur memiliki tempat tinggal di pinggir sungai. Rumah yang mereka bangun sejak lama itu menjadi tempat ternyaman. Saya (penulis) pun penasaran, bagaimana mereka dapat membawa masuk barang-barang berukuran besar, seperti kulkas, lemari, dan kasur. Sementara akses jalan menuju rumah mereka hanya berupa papan-papan kayu berukuran kecil.

“Kami bawa barang menggunakan kapal sampai depan rumah. Terkadang ada juga kapal yang menjual berbagai perabotan rumah tangga. Mereka bisa berhenti di depan rumah, sehingga tinggal memasukkan barang melalui pintu depan (arah sungai). Awal-awal dulu saya sering merasa pusing, apabila ada kapal yang lewat, karena rumah ikut bergoyang. Namun semenjak ada tambak ikan, rumah tidak terlalu bergoyang lagi sekalipun ada gelombang,” tuturnya.

Seperti Bahrudin, Mala pun punya keinginan untuk memiliki rumah pribadi di daratan. Bisa tinggal di perumahan menjadi cita-cita mala beserta keluarga. Tidak bisa dipungkiri, perekonomian menjadi menghambat untuk menggapai impian itu.

Dengan kesederhanaan itu, suasana rumah apung milik Mala terasa nyaman. Pemandangan langsung ke arah sungai, membuat saya memiliki pengalaman baru. Tiap hari bisa melihat pemandangan perkotaan. Penasaran dengan jumlah rumah apung atau lanting yang ada di daerah tersebut, akhirnya saya mendatangi ketua RT 05/ RW II Kelurahan Pahandut Seberang, Kecamatan Pahandut. Namanya Syahran (50). Ia mengatakan, rumah apung yang berada di wilayah itu berjumlah 50 unit dengan masing-masing satu kepala keluarga.

“Mereka itu rata-rata sudah lama menghuni, ada yang 10 tahun hingga 20 tahun lebih. Kalau terjadi banjir, akses jalan mereka juga tertutup, tetapi rumah mereka tidak kemasukan air. Apabila banjir, biasanya mereka menggunakan kelotok untuk bepergian. Jumlah jiwa kurang lebih sekitar 165 jiwa. Hitungannya mereka itu membangun rumah di wilayah milik warga yang punya tanah di darat. Sebab, kalau di sini bila kita memiliki tanah di pinggir sungai, maka sampai ke pinggir sungai juga itu milik kita, yang biasanya masyarakat bikin tambak ikan,” tandasnya.

Jika melintasi Jembatan Kahayan, maka rumah apung atau lanting ini terlihat berjejer rapi di tepian sungai. Tak heran jika sungai bukan hanya dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian, tetapi juga menjadi area tempat tinggal. Rumah apung atau lanting tentu menambah keunikan Kalimantan Tengah dan memiliki pesona tersendiri. (*/ce/ala)

Editor : izak-Indra Zakaria