Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Kisah Mistis Museum Kayu Sampit, Ada Cerita Penampakan Cristopel Mihing hingga Gambar Bergerak Sendiri

Radar Sampit • 2024-08-12 13:15:00

WISATA EDUKASI: Pelajar SMPN 1 Sampit didampingi guru wali kelas mengunjungi sekaligus mencatat koleksi benda bersejarah yang ada di  Museum Kayu, Selasa (21/2). (HENY/RADAR SAMPIT)
WISATA EDUKASI: Pelajar SMPN 1 Sampit didampingi guru wali kelas mengunjungi sekaligus mencatat koleksi benda bersejarah yang ada di Museum Kayu, Selasa (21/2). (HENY/RADAR SAMPIT)
 

Museum Kayu Sampit menjadi saksi sejarah kejayaan bisnis kayu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di balik ratusan koleksinya, nuansa mistis menyergap pengunjung dan pemandu museum.

HENY

Prokal.co, Museum Kayu Sampit sering dikaitkan dengan hal mistis yang menyimpan beragam misteri. Gedung yang berdiri di pusat Kota Sampit, Jalan S Parman tahun 2003 silam itu berdiri di atas lahan seluas 5.310 meter persegi dengan luas bangunan 1.500 meter persegi.

Diresmikan 6 Oktober 2004 oleh Wahyudi Kaspul Anwar, Bupati Kotim Periode 2000-2010. Banyak kesan yang dialami pengunjung ketika memasuki Museum Kayu yang terdiri dari dua lantai ini. Ada ratusan item koleksi yang memenuhi ruang pameran.

Dalam dua bulan terakhir ini, Museum Kayu tak pernah sepi pengunjung. Setiap hari ada saja pengunjung yang ingin berwisata edukasi mengenal lebih jauh koleksi benda bersejarah yang tersimpan didalam Museum Kayu.

Pengunjung yang datang mulai dari murid taman kanak-kanak, pelajar SMP, SMA, mahasiswa, serta masyarakat umum. Dalam sehari, ada 50-100 pengunjung yang menyambangi museum tersebut.

Pelayanan museum dibuka mulai pukul 07.30-15.30 WIB pada Senin-Kamis. Pada Jumat pukul 07.00-15.00 WIB dan Sabtu 11.00 WIB- 13.00 WIB. Pada hari-hari biasa, museum ditutup sementara untuk waktu istirahat setiap jam 11.00 WIB dan dibuka kembali jam 14.00 WIB.

Setiap pengunjung yang masuk museum menikmati waktu sepuasnya di dalam ruang pameran dan tidak dikenakan tarif tiket masuk alias gratis.

Kemarin (21/2) pagi, sebanyak 37 siswa kelas VIII SMPN 1 Sampit berkunjung ke Museum Kayu. Didampingi wali kelasnya, puluhan siswa membawa buku catatan. Mencatat koleksi museum.

Di depan pintu bangunan, siswa terlihat gembira. Namun, setelah masuk ruang pameran dan menjelajahi sudut demi sudut ruangan, beberapa siswa mulai mengalami perasaan yang tak membuat mereka nyaman.

Badan keringat dingin, perut mual, muka pucat pasi, dada terasa sesak seperti tertekan, hingga nyaris ‘kesurupan’ makhluk gaib. Estiliawati, pemandu museum yang mendampingi setiap langkah pelajar SMPN 1 Sampit terus mengenalkan dan memberikan edukasi kepada puluhan pelajar.

Di luar pantauannya, sejumlah pelajar mulai menaiki tangga menuju lantai dua ruang pameran. Jika pada umumnya, ruang pameran lantai dua terasa panas, namun tidak bagi pelajar SMPN 1 Sampit.

Meraka merasa ruang lantai dua begitu dingin. Padahal, lantai dua tidak dilengkapi pendingin ruangan. ”Tadi siswa ada yang bilang kakinya merasa ada yang memegang dan merasa dingin ketika berada di lantai dua,” kata Estiliawati saat ditemui  Radar Sampit di ruang administrasi Museum Kayu, Selasa (21/2).

Esti juga mengingatkan pelajar agar tak membiarkan pikiran kosong alias melamun selama berada di museum. ”Tadi ada pelajar yang melamun saya tepuk bahunya agar jangan sampai melamun. Fokus saja mempelajari dan mengetahui apa saja koleksi yang ada di Museum Kayu,” katanya.

Sejumlah pelajar juga mengaku merasa lapar. Esti lalu menyarankan berbelanja di dekat museum. ”Daripada perut mereka kosong, saya sarankan saja mereka menikmati makanan pedagang kaki lima yang cukup banyak berjualan di sekitar pagar museum,” ujarnya.

Sekembalinya ke Museum Kayu, ada tiga pelajar perempuan yang mengeluh tidak enak badan. ”Badannya keringat dingin. Katanya dadanya sesak seperti tertekan, mukanya pucat, seperti orang yang hampir kesurupan (dirasuki) makhluk gaib,” katanya.

Sebagai pemandu museum yang sudah bekerja sejak 2005, bagi Esti hawa tak nyaman itu sudah biasa ia alami.

”Dulu ada yang sampai kesurupan teriak-teriak. Sudah banyak sekali cerita pengunjung yang bilang setelah masuk ada merasa keringat dingin setelah melihat atau mengunjungi sudut ruang atau melihat koleksi tertentu,” ujarnya.

Kendati demikian, tak semua pengunjung mengalami pengalaman yang serupa. Ada saja yang merasa santai menjelajah museum tanpa gangguan atau perasaan tak nyaman.

”Ada pengunjung tertentu saja yang punya pengalaman seperti itu,” ujarnya. Maisaroh, mahasiswa Unda yang berkunjung Selasa (21/2) siang, menikmati setiap sudut ruang sambil swafoto. Dia mengajak dua temannya yang lain yang penasaran dengan isi Museum Kayu.

”Museum ini menarik dan bagus. Kami enjoy saja melihat sambil foto-foto. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda. Kalau saya sih beranggapan itu tergantung sugesti saja. Kalau tidak berpikiran macam-macam dan niatnya baik ingin melihat-lihat, yakin saja ada pembelajaran yang didapat setelah keluar dari museum. Yang pasti jadi menambah pengetahuan,” ujar Maisaroh yang sudah menunggu dua jam lebih museum kayu buka kembali.

Sementara itu, dalam sebulan terakhir, Esti dan pemandu lainnya yang terdiri dari tiga pegawai tenaga kontrak dan lima ASN memang merasa ada sedikit keganjilan dan kejadian di luar akal sehat. Lusi, pemandu museum membagikan ceritanya.

Dia mengaku mendengar ada suara anak-anak yang sangat mirip dengan anak rekan kerjanya. ”Agustina izin ke saya katanya mau keluar sebentar mengambil anak. Ada suara anak-anak ribut yang mirip anaknya Agustina. Saat ditanya, mana anak-anak Agustina tadi, ternyata anaknya belum dijemput,” ujar Lusi yang sudah bertugas dari tahun 2007 ini.

Di awal bertugas di Museum Kayu, Lusi mengaku pernah mengalami hal aneh yang membuatnya ketakutan.

”Dari dulu sampai sekarang museum ini memang angker. Semua museum saja ada sisi mistisnya, karena di dalamnya menyimpan benda-benda bersejarah yang disenangi makhluk gaib. Di awal tugas dulu saya merasa kedingian, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba pintu wc tertutup kencang,” ujarnya.

Pengalaman mistis juga dialami Agustina, pemandu museum. Baru-baru ini ia mengalami ada hal aneh pada laptopnya.

”Saya sedang menulis di laptop, lalu saya tinggal keluar sebentar jemput anak. Setiba saya kembali, ternyata tulisan saya hancur berantakan. Saya masih ingat terakhir itu menulis apa. Saya tanya Bu Lusi juga tidak ada yang mengganggu laptop saya,” ujar Agustina bertugas sejak 2005.

”Saya baru-baru ini juga mengalami hal yang serupa seperti yang dialami Bu Lusi. Senin kemarin saya sedang ngobrol dengan wali kelas guru pendamping. Saya melihat Bu Lusi datang. Lalu saya cari-cari tidak ada, pintu ruangan masih terkunci, saya pikir beliau ini sedang belanja ke pasar. Saya telepon beliau, ternyata masih di rumah dan yang saya lihat itu perawakan yang persis menyerupai Bu Lusi,” tambahnya.

Setiap pemandu museum tak pernah luput dari pengalaman mistis. Hal itu juga dialami Agustina pada masa awal bertugas.

”Pertama saya bertugas masuk Museum Kayu, ada yang tiba-tiba suara lemparan batu kerikil di lantai dua dan saya melihat bayangan hitam setinggi tiang dan itu padahal siang bolong,” ujarnya.

”Ibu Wiwi, Kepala UPTD  Museum Kayu dulu juga pernah melihat lukisan foto HM Arsyad bergerak,” tambahnya lagi. Pada 2006 silam, ada pameran yang digelar di Museum Kayu. Pengunjung melihat ada seorang nenek duduk di atas kepala tulang ikan paus di lantai dua.

Di tahun 2019, seorang pelajar SMKN 4 Sampit juga mengalami pengalaman Cristopel Mihing berjalan.

”Pelajar itu nanya ke saya sambil menunjukkan foto Cristopel Mihing, Bupati Kotim Periode 1961-1963 dan bertanya, bapak ini masih hidup kah? Saya melihat beliau berjalan di Museum Kayu dan saya katakan Bapak Cristopel Mihing sudah lama wafat,” ujarnya.

Pada 2021, Agustina dan Esti juga mengalami hal aneh. Saat itu mereka sedang lembur mengerjakan laporan. ”Saat itu malam Jumat. Waktu masuk ruangan sudah tak nyaman, mau keluar ruangan juga tidak berani. Seperti padat aktivitas orang, padahal tidak ada orang,” ujarnya.

Di luar banyaknya pengalaman mistis yang dialami, Agustina dan pemandu museum lainnya sebisa mungkin memberikan wisata edukasi. Mereka tak ingin mengaitkan dengan hal mistis.

”Di Museum ini ada disediakan photo boot untuk tempat berfoto. Tujuannya agar menjauhkan dari stigma masyarakat yang sering mengaitkan hal mistis di museum. Sebagai umat Muslim, kami harus mempercayai keberadaan makhluk gaib yang kasat mata. Di mana saja, di tempat mana saja tidak mesti di museum, itu ada. Tergantung sikap saja. Kalau tidak niat mengganggu, yakin saja ’mereka’ tidak mengganggu dan yang terpenting selalu berdoa dan ucapkan salam setiap memasuki ruangan manapun agar mereka menyadari keberadaan kita. Mereka bisa melihat kita, tetapi kita sebagai manusia tak bisa melihat mereka,” ujarnya. (***/ign)

---

Dapatkan update berita dan info terbaru dari seluruh wilayah Kalimantan, follow Channel Whatsapp PROKAL | Portal Berita Kalimantan

Klik dan follow>>
https://whatsapp.com/channel/0029VakiP19FCCoPh7YL3j02

Editor : Indra Zakaria
#Museum Kayu Sampit