Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Alarm Bahaya HIV di Kotim: Usia Produktif Paling Rentan, Deteksi Dini Jadi Kunci Bertahan Hidup

Redaksi Prokal • 2026-01-28 12:30:00
Ilustrasi HIV/AIDS
Ilustrasi HIV/AIDS

SAMPIT – Tren penyebaran virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Kotawaringin Timur kini berada pada level yang mengkhawatirkan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit melaporkan adanya peningkatan kasus yang signifikan, di mana virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini mayoritas ditemukan menyerang kelompok usia produktif antara 25 hingga 49 tahun.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr. Anggun Iman Hernawan, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2024 saja, tercatat ada 270 pasien yang mendapatkan pengobatan. Memasuki bulan Januari 2026, data menunjukkan sebanyak 148 pasien terdaftar dalam penanganan medis, dengan 80 di antaranya aktif menjalani pengobatan intensif. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena HIV sering kali muncul tanpa gejala nyata pada fase awal, sehingga banyak pasien baru menyadari statusnya saat kondisi kesehatan mulai menurun drastis.

Kondisi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tidak datang khusus untuk melakukan tes HIV, melainkan mengeluhkan gejala lain seperti tubuh yang mudah lelah atau infeksi yang tak kunjung sembuh. Melalui pemeriksaan laboratorium yang mendalam, barulah status infeksi tersebut terungkap. dr. Anggun menekankan bahwa deteksi dini adalah kunci harapan hidup bagi pasien, mengingat gejala klinis biasanya baru muncul satu hingga lima tahun setelah paparan awal, tepat saat sistem imun mulai melemah.

Terkait pola penularan, mayoritas kasus di Kotim dipicu oleh perilaku seksual tidak aman dengan pasangan berganti-ganti. Namun, RSUD dr Murjani juga menemukan kasus pada balita yang tertular dari ibu selama masa kehamilan atau melalui pemberian ASI. Hal ini mempertegas pentingnya pemeriksaan dan pendampingan medis bagi ibu hamil, karena risiko penularan ke anak dapat ditekan secara signifikan jika sang ibu rutin menjalani terapi Antiretroviral (ARV).

Tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah fenomena pasien yang berhenti berobat atau lost contact. Pada tahun 2024, tercatat sebanyak 68 orang tidak lagi melanjutkan pengobatan rutin di RSUD dr Murjani. Meskipun sebagian diduga berpindah ke fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan domisili, kondisi ini tetap berisiko bagi keberlanjutan kesehatan pasien. Padahal, dengan pengobatan yang tepat dan disiplin, penyandang HIV tetap dapat hidup sehat, produktif, serta menekan risiko penularan ke pihak lain.

Pemerintah sendiri telah berkomitmen untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030 melalui strategi global "95-95-95". Target ini mencakup pemastian bahwa 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, mendapatkan akses terapi ARV, dan mencapai tingkat supresi virus dalam tubuhnya. Di Kotim, masyarakat dapat mengakses layanan penanganan HIV di berbagai titik, mulai dari RSUD dr Murjani Sampit, Rumah Sakit Pratama Parenggean, hingga Puskesmas Ketapang I dan Puskesmas Baamang II, dengan jaminan kerahasiaan identitas yang ketat sesuai kode etik medis. (*)

Editor : Indra Zakaria