SAMPIT – Warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini mulai merasakan dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Sejak Selasa malam hingga Rabu pagi (28/1/2026), kabut asap tipis dengan aroma menyengat mulai menyelimuti sejumlah kawasan, terutama di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Namun, di tengah ancaman kesehatan ini, pemantauan kualitas udara justru mengalami kendala serius akibat rusaknya fasilitas negara.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim mengonfirmasi bahwa alat pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang menjadi tumpuan data kualitas udara saat ini tidak berfungsi alias rusak. Hal ini mengakibatkan tingkat pencemaran udara akibat asap karhutla di Kotim tidak dapat dipastikan secara akurat melalui data real-time.
Kepala DLH Kotim, Marjuki, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan perbaikan alat tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kendala utama yang dihadapi daerah adalah ketiadaan teknisi khusus yang mampu memperbaiki kerusakan alat sensor tersebut secara mandiri. Sejauh ini, DLH Kotim hanya memiliki operator untuk menjalankan alat, sementara untuk urusan teknis perbaikan sepenuhnya bergantung pada tenaga ahli dari pusat.
Ketiadaan data ISPU ini membuat kondisi kualitas udara di Kotim seolah "gelap" tanpa angka pasti, meski warga secara fisik sudah merasakan dampak paparan asap. Di kawasan pesisir Sungai Mentaya dan beberapa titik di dalam kota, aroma asap tercium tajam terutama saat menjelang pagi hari. Kondisi ini dikhawatirkan akan memburuk jika titik panas (hotspot) terus bertambah tanpa adanya alat ukur yang memberikan peringatan dini bagi kesehatan warga.
Menanggapi situasi tersebut, DLH Kotim mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mandiri. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat penyakit pernapasan diminta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah juga sangat disarankan guna meminimalisir dampak buruk partikel asap karhutla terhadap paru-paru.
Pemerintah daerah berharap proses perbaikan dari kementerian dapat segera terealisasi. Kehadiran data ISPU yang akurat dinilai sangat krusial sebagai dasar pengambilan kebijakan darurat kesehatan bagi warga Sampit dan sekitarnya di tengah musim karhutla yang mulai menunjukkan eskalasi. (*)
Editor : Indra Zakaria