SAMPIT – Warga Kota Sampit mulai merasakan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah kabut asap tipis terpantau menyelimuti sejumlah wilayah pada Rabu (28/1/2026) pagi. Meskipun sebaran asap belum merata, aroma menyengat sisa pembakaran lahan mulai dikeluhkan warga, khususnya mereka yang bermukim di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kecamatan Baamang.
Kondisi ini diperkuat dengan data rekapitulasi hotspot dari BMKG Sampit yang mendeteksi adanya empat titik panas dalam 24 jam terakhir. Titik-titik panas tersebut tersebar di wilayah Kelurahan Bapanggang Raya, Bagendang Tengah, dan Bagendang Hulu. Sebagian besar titik panas berada pada tingkat kepercayaan kategori menengah, yang menunjukkan adanya aktivitas kebakaran lahan yang nyata di lapangan.
Warga di kawasan pesisir Sungai Mentaya melaporkan bahwa asap lebih sering muncul pada malam hingga dini hari. Ojan, seorang warga Baamang, menyebutkan bahwa tiupan angin di sepanjang aliran sungai membuat asap kadang datang dan pergi, namun aroma menyengatnya tetap tertinggal. Hal ini selaras dengan analisis atmosfer yang menyebutkan bahwa wilayah dataran rendah dan sepanjang aliran sungai memang menjadi area yang paling rentan terjebak kabut asap tipis.
Berdasarkan analisis potensi kebakaran lahan di Kalimantan Tengah, BMKG memperingatkan bahwa untuk tanggal 28 Januari 2026, sebagian besar wilayah Kotawaringin Timur masih masuk dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Kondisi lahan yang mulai mengering menjadi pemicu utama cepatnya kemunculan titik panas di wilayah-wilayah penyangga kota Sampit.
Namun, terdapat angin segar dari prakiraan cuaca 24 jam ke depan. Citra satelit Himawari mulai menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang signifikan di seluruh wilayah Kotim. BMKG memprediksi esok hari, Kamis (29/1/2026), potensi kebakaran lahan akan mulai menurun seiring dengan meningkatnya tutupan awan dan peluang hujan ringan. Curah hujan ini sangat diharapkan dapat membantu petugas di lapangan untuk meredam titik api serta membersihkan sisa-sisa asap yang mulai mengganggu pernapasan warga.
Editor : Indra Zakaria