Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dunia Konservasi Berduka: Prof. Biruté Galdikas Berpulang, Jenazah Akan Dimakamkan di Pangkalan Bun

Redaksi Prokal • Kamis, 26 Maret 2026 - 18:02 WIB

Profesor Birute Mary Galdikas, saat pelepasliaran Orangutan ke habitat aslinya, beberapa waktu lalu. (dok.syamsudin/radarsampit)
Profesor Birute Mary Galdikas, saat pelepasliaran Orangutan ke habitat aslinya, beberapa waktu lalu. (dok.syamsudin/radarsampit)

PANGKALAN BUN – Kabar duka yang mendalam menyelimuti dunia konservasi internasional dan masyarakat Kalimantan Tengah. Profesor Biruté Mary Galdikas, sosok legendaris yang mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk pelestarian orangutan, dikabarkan meninggal dunia di Los Angeles, Amerika Serikat, pada Selasa (24/3) pukul 04.30 waktu setempat. Kepergian Presiden Orangutan Foundation International (OFI) ini menjadi kehilangan besar bagi upaya perlindungan primata endemik Borneo yang selama puluhan tahun ia perjuangkan.

Prof. Biruté bukan sekadar peneliti; ia adalah pelopor yang mengangkat nama Taman Nasional Tanjung Puting ke panggung dunia. Tiba di Kalimantan pada usia 25 tahun, ia nekat menetap di pedalaman hutan yang ekstrem dengan mendirikan "Camp Leakey". Di sana, ia bergelut dengan tantangan alam demi memahami dan merehabilitasi orangutan yang terancam punah. Dedikasinya yang tanpa batas membuahkan penghargaan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia, sebuah pengakuan atas jasanya dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati tanah air.

Kecintaan mendalam Prof. Biruté terhadap bumi Kalimantan tercermin dari amanah terakhirnya. Direktur OFI, Dorprawati Siburian, menyampaikan bahwa jenazah almarhumah akan dibawa pulang ke Indonesia untuk dimakamkan di Pangkalan Bun. Saat ini, pihak keluarga dan yayasan tengah mengurus proses administrasi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amerika Serikat. Rencananya, sang profesor akan dikebumikan berdampingan dengan mendiang suaminya, Pak Bohap, sosok pria Dayak asal Desa Pasir Panjang yang selama hidupnya setia mendampingi perjuangan konservasi sang istri.

Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah, dalam apel bersama ASN menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian tokoh yang telah mengharumkan nama daerah hingga ke mancanegara ini. Pemerintah daerah kini tengah bersiap memberikan penghormatan terakhir sembari menunggu jadwal pasti kedatangan jenazah dari Los Angeles. Meski sang pejuang kini telah tiada, warisannya berupa hutan hujan yang tetap hijau dan orangutan yang kembali ke habitatnya akan terus hidup sebagai monumen abadi pengabdiannya di tanah Kalimantan. (*)

Editor : Indra Zakaria