SAMPIT – Memasuki pengujung Maret 2026, wilayah Kalimantan Tengah mulai merasakan sengatan musim kemarau yang memicu kerawanan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan rilis terbaru dari Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur, sebagian besar wilayah provinsi ini kini berada dalam kategori "Sangat Mudah Terbakar". Peta potensi karhutla didominasi oleh warna merah, menandakan lahan gambut dan area kering sangat rentan tersulut api dalam waktu singkat.
Situasi di lapangan pun mulai menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada Rabu (25/3), kebakaran lahan skala besar melahap sekitar 5 hektare area di Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Asap tebal sempat membumbung tinggi, menjadi peringatan nyata akan datangnya kembali bencana kabut asap jika penanganan tidak dilakukan secara agresif sejak dini.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa medan menuju lokasi kebakaran menjadi tantangan terberat bagi tim pemadam. Operasi pemadaman di Desa Bengkuang Makmur membutuhkan waktu hingga enam jam karena akses yang sulit, memaksa petugas menggunakan chainsaw untuk membuka jalan dan membuat jembatan darurat. Sebanyak delapan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) dikerahkan untuk melakukan pendinginan hingga malam hari guna memastikan api di bawah permukaan gambut benar-benar padam.
Di hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Kelurahan Baamang Tengah, sekitar Jalan Ir. Soekarno. Beruntung, lokasi yang lebih mudah dijangkau memungkinkan tim BPBD memadamkan api seluas satu hektare tersebut dengan lebih cepat. Namun, kemunculan dua titik api dalam satu hari ini dinilai Multazam sebagai peringatan keras bagi masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.
"Ini sudah masuk fase rawan. Jika praktik pembakaran lahan masih berlanjut, risikonya adalah kebakaran besar yang sulit dikendalikan," tegas Multazam.
Kewaspadaan serupa juga disuarakan oleh Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah. Mengingat kebakaran lahan juga mulai marak di wilayah Kumai dan Kotawaringin Lama sejak awal Maret, ia meminta peran aktif aparat desa dan seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pengawasan ketat. Partisipasi warga dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah api meluas di tengah kondisi cuaca panas dan angin kencang yang kini melanda sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. (*)
Editor : Indra Zakaria