SAMPIT – Ketenangan warga di kawasan Jalan Lingkar Utara menuju Simpang Kandan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terusik oleh kemunculan satwa liar yang mematikan. Seekor beruang madu berukuran besar dilaporkan masuk ke area pemukiman dan terlibat duel maut dengan kawanan anjing penjaga, yang berujung pada tewasnya satu ekor anjing milik warga.
Insiden mencekam ini pertama kali terungkap setelah warga setempat, Fendi, mendengar kegaduhan luar biasa dari arah semak-semak pada malam hari. Suara gonggongan anjing yang bersahutan dengan geraman liar membuat suasana malam menjadi sangat mencekam.
Rasa penasaran Fendi baru terjawab keesokan harinya. Saat mendatangi lokasi sumber suara, ia menemukan bukti perkelahian hebat. Semak belukar tampak roboh berantakan, dan yang lebih mengerikan, ia menemukan sisa bangkai anjing miliknya yang kondisinya sudah tidak utuh.
“Suaranya ramai sekali, seperti ada perkelahian. Tapi saya tidak berani mendekat malam itu,” ujar Fendi, Jumat (27/3). Ia menduga beruang tersebut sempat dikeroyok oleh beberapa anjing warga, namun beruang madu itu menyerang balik hingga menyebabkan satu anjing tewas mengenaskan.
Menanggapi laporan tersebut, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit segera melakukan observasi lapangan di wilayah Kelurahan Kotabesi Hulu. Medan yang sulit memaksa petugas berjalan kaki sejauh 400 meter untuk mencapai titik konflik.
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan di lokasi, tidak ditemukan pohon buah yang sedang berbuah. Hal ini menandakan bahwa beruang tersebut kemungkinan besar tidak berniat mencari makan di area pondok warga.
“Diduga kuat beruang hanya melintas di sekitar pondok warga, kemudian dikejar beberapa ekor anjing. Dalam kejadian itu, beruang diperkirakan menyerang balik untuk membela diri,” jelas Muriansyah.
Pihak BKSDA mengingatkan bahwa kemunculan beruang madu di sekitar permukiman sering kali dipicu oleh perpindahan habitat atau gangguan aktivitas manusia di hutan. Petugas telah memberikan pengarahan kepada masyarakat agar tetap waspada dan tidak mencoba memburu atau mendekati satwa liar tersebut secara mandiri.
Warga diminta untuk segera melapor ke pihak berwenang jika kembali melihat pergerakan satwa dilindungi tersebut guna menghindari konflik fisik yang lebih besar, baik terhadap manusia maupun hewan ternak. (*)
Editor : Indra Zakaria