SAMPIT – Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai datangnya musim kemarau ekstrem mulai menjadi kenyataan pahit bagi warga Kalimantan Tengah. Saat ini, dua bencana sekaligus mengintai: kekeringan yang mencekik pasokan air bersih dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang mulai masif terjadi di berbagai titik strategis.
Kondisi paling kritis dilaporkan terjadi di Desa Natai Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Di desa ini, kekeringan telah berdampak langsung pada sedikitnya 177 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 712 jiwa. Angka ini diprediksi akan terus membengkak hingga ribuan jiwa mengingat masih banyak warga di RT lain yang belum terdata sepenuhnya.
Distribusi Air Bersih Jadi Tumpuan Hidup
Menyikapi krisis tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar telah bergerak melakukan distribusi air bersih selama tiga hari berturut-turut. Hingga Jumat (27/3), sebanyak 36.000 liter air bersih telah disalurkan menggunakan sembilan mobil tangki water suplai.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Kobar, Andan Santana, menjelaskan bahwa air tersebut ditampung di bak Pamsimas desa dan bak terpal darurat agar bisa diakses warga secara mandiri. "Sumber air di kantor kami sudah diperiksa dan PH air bagus sehingga layak untuk dikonsumsi. Bagi warga yang belum terjangkau distribusi langsung, disarankan mengambil air di tower Pamsimas di tengah desa," ujar Andan.
Titik Panas "Menyala" di Kotawaringin Timur
Berbarengan dengan keringnya sumber air, ancaman api mulai muncul di permukaan. BMKG mendeteksi adanya lima titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam 24 jam terakhir.
Kecamatan Antang Kalang menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, disusul oleh Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hulu, dan Bukit Santuai. Munculnya titik panas ini menjadi peringatan merah bagi wilayah yang didominasi lahan gambut, yang sangat mudah terbakar dalam kondisi suhu ekstrem.
Di Mentawa Baru Ketapang, tim gabungan BPBD dan Manggala Agni harus berjibaku selama enam jam untuk melakukan pendinginan di lahan milik warga di Desa Bengkuang Makmur. Meski api di permukaan terlihat padam, karakter tanah gambut membuat bara tetap tersimpan di bawah tanah.
"Luas lahan yang terdampak sekitar 0,95 hektare berupa semak belukar. Meski api terlihat padam, bara di lahan gambut bisa bertahan dan memicu kebakaran kembali. Karena itu, pendinginan menjadi langkah krusial," tegas Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.
Insiden serupa juga terjadi di Kelurahan Baamang Tengah pada Jumat siang. Beruntung, respon cepat dari Peleton III Damkarmat berhasil melokalisir api di lahan seluas 18 x 12 meter persegi sebelum merembet ke pemukiman.
Walaupun ada potensi hujan ringan dalam 24 jam ke depan, BMKG memperingatkan bahwa curah hujan tersebut tidak akan cukup untuk mematikan risiko karhutla secara permanen. Masyarakat diminta untuk benar-benar menghentikan aktivitas pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Kombinasi antara hilangnya sumber air bersih dan munculnya kabut asap dari kebakaran lahan menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan mobilitas warga Kalteng dalam beberapa pekan ke depan jika intensitas kemarau terus meningkat. (*)
Editor : Indra Zakaria