BALIKPAPAN - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Balikpapan saat ini bak jamur di musim hujan. Dimana-mana bermunculan. Macam usaha pun mulai dikembangkan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Namun sayang keberadaan UMKM masih butuh perhatian pemerintah dalam hal pengembangan usaha sehingga mampu bersaing.
Melestarikan warisan leluhur berjualan jamu sebagai jalan mencari rezeki sudah tertanam di sebagian besar warga Balikpapan. Kesetiaan itu masih ada sampai sekarang. Bahkan, usaha para ibu rumah tangga yang bersifat mandiri sudah semakin berkembang seiring semakin majunya pengelolaan jamu.
Seperti yang terlihat pada warga Kelurahan Margo Mulyo, Balikpapan Barat yang tinggal di Jalan Sidomulyo 3 RT 2 Kelurahan Margo Mulyo, tepatnya sebelah Masjid Al Furqon berhasil mengembangkan usaha Kedai Jamu Godong khas Jogja yang bernama Ummu Noval milik Rachmahkasih Djumiati.
"Jamu yang saya kelola ini baru berjalan 2 tahun yang awalnya hanya berjualan di tempat ia bekerja," kata Rachmahkasih Djumiati.
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit batang, dan buah. Dan untuk di Balikpapan sendiri memang banyak sekali warga yang memiliki usaha berjualan jamu mulai dari di gendong keliling, buka toko hingga membuka rumah jamu di halaman rumahnya seperti Jamu Godong khas Jogja yang ia miliki.
Rachmahkasih baru merintis berjualan jamu ini sekitar 2 tahun, yang awalnya hanya menawarkan kepada rekan kerjanya saja. Namun karena memiliki kemauan yang cukup tinggi akhirnya ia membuka usaha kecil di depan rumahnya untuk memulai usaha secara mandiri.
"Jadi untuk modal usaha saya menggunakan uang pribadi yang saya simpan sejak saya masih bekerja," ucap Rachmahkasih.
Sedangkan untuk bahan bakunya masih menggunakan produk lokal yang dibeli di Pasar Pandansari. Untuk pembelian bahan baku sendiri, ini tidak menentu karena biasa dirinya menyetok bahan tersebut terkecuali bahan yang tidak bertahan jika disimpan, sehingga ia harus membelinya setiap hari.
"Saya menyetok barang agar tidak bolak-balik membeli, tapi kalau yang tidak tahan lama saya beli setiap hari ke pasar," jelasnya.
Berbagai macam jenis jamu ia sediakan antaranya kunyit asam, bir pletok, kunci 3, beras kencur, wedang uwuk, sarabba, STMJ, pegal linu, jagangin, jagasrol, jagasrat, jantung, jagaranggi, jaganis, jagapinggang, RPTW, perkasa hingga wedang jahe dengan harga yang terjangkau murah.
Untuk produk jamu yang ia miliki ini sudah di pasarkan di berbagai tempat baik melalui media online, aplikasi online, menebar browsur hingga melalui risailer yang sudah bergabung dengannya. Untuk penghasilannya memang tidak menentu, dan untuk sebulan dirinya bisa menerima keuntungan Rp 1,5 juta.
"Olahan jamu ini juga sudah masuk ke pasar-pasar tradisional hingga sekitar kampung, hanya saja untuk pasar mal masih belum, dan harapannya produk ini bisa masuk ke lokasi tersebut untuk menambah wawasan," harapnya.
Untuk tanggapan masyarakat sekitar memang awalnya masih asing dengan olahan yang ia buat, namun lama-kelamaan warga pun penasaran dengan rasa dan kasiat yang ada dalam jamu tersebut, akhirnya warga pun mencoba dan alhamdulillah sampai sekarang warga menjadi langganan.
"Karna waktu itu masih baru buka, jadi warga masih ragu-ragu. Tetapi setelah kami selalu menebar browsur akhirnya warga penasaran dan datang untuk mencoba," imbuhnya.
Dirinya tidak hanya menjual jamu saja, akan tetapi ia juga menerima konsultasi kesehatan secara gratis. Mulai dari menanyakan jenis jamu hingga manfaatnya. Sehingga peran serta ke masyarakat sendiri bisa terbuka.
"Sebelum membeli biasanya warga menanyakan khasiat dan obat keluhan yang ia rasakan, barulah kami memberikan jamu dan manfaatnya," ungkapnya. (may/rus)
Editor : adminbp-Admin Balpos