Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jadi Pilot Project Pengembangan Produk dan Ekowisata

uki-Berau Post • 2022-12-21 14:13:31
DUKUNGAN PUSAT: Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, Kemenparekraf RI, Alexander Reyaan, bersama Asisten I Setkab Berau Hendratno, pada acara serah terima fasilitas dalam pengembangan produk ekowisata di Kampung Tembudan, Kecamatan B
DUKUNGAN PUSAT: Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, Kemenparekraf RI, Alexander Reyaan, bersama Asisten I Setkab Berau Hendratno, pada acara serah terima fasilitas dalam pengembangan produk ekowisata di Kampung Tembudan, Kecamatan B

Pengelola hutan mangrove Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih, mendapat dukungan sejumlah fasilitas, khususnya dalam pengembangan produk ekowisata dari Direktorat Wisata Minat Khusus, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

 

DUKUNGAN bantuan yang diberikan Kemenparekraf RI, diserahkan secara simbolis kepada Pemkab Berau yang diteruskan kepada pengelola hutan mangrove Kampung Tembudan, Selasa (20/12).

Dukungan yang diberikan yakni, kapal kayu wisata, yang akan digunakan untuk patroli setiap bulan dan membawa wisatawan berwisata susur mangrove. Kemudian, gazebo apung, sebagai sarana untuk persinggahan dan untuk mengurangi illegal fishing. Lalu juga memberikan peralatan pendukung aktivitas persemaian mangrove, untuk program rehabilitasi mangrove jangka panjang. Antara lain sepatu boots, paranet, jaring waring, serta polybag kain ramah lingkungan.

Selain itu, peralatan pendukung aktivitas susur gua juga diberikan. Antara lain senter kepala, helm outdoor, dan sepatu takul. Juga peralatan pendukung aktivitas island hopping, berupa audio guide dan tenda. Serta peralatan pendukung pembuatan konten promosi, berupa laptop dan drone.

Tim Kemenparekraf juga memberikan pelatihan dan workshop pengembangan produk dan promosi ekowisata, dalam mendukung peningkatan kapasitas dan kapabilitas pengelola Mangrove Tembudan Berseri (MTB) dan masyarakat.

Dijelaskan Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, Kemenparekraf RI, Alexander Reyaan, dari seluruh Indonesia yang berpotensi meningkatkan pengelolaan mangrove, hanya lima daerah yang terpilih, yang dinilai mampu untuk dikembangkan. Satu di antaranya Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih. Menurutnya, masuknya Tembudan sebagai kampung terpilih bukan tanpa alasan. Bahkan disebutnya, Tembudan bisa menjadi pilot project pengelola mangrove di Kabupaten Berau dan Kaltim.

"Dua tahun ke depan, tim kita akan turun untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengembangan mangrove di Kampung Tembudan ini. Dalam rangka menjadi salah satu percontohan program pelestarian lingkungan," ujar Alexander.

Ditunjuknya lima wilayah terpilih tersebut, bukan hanya oleh Kemenparekraf RI. Melainkan juga melibatkan sejumlah NGO Lingkungan Hidup, yang terjun langsung ke lapangan, meninjau dan melakukan survei untuk memastikan keberadaannya dan potensinya. Dari lima wilayah ini pun, dukungan fasilitas yang diberikan berbeda-beda. Sesuai kebutuhan pengelola hutan mangrove itu sendiri.

"Selain Kampung Tembudan, empat wilayah lainnya yang ditunjuk yakni di Bukit Peramun, Belitung. Kemudian, di Clungup Mangrove Conservation (CMC), Malang Selatan. Lalu, di Taman Nasional Bali Barat. Dan terakhir, di Taman Mangrove Klawalu Sorong, Papua Barat," terangnya.

Disebutnya, para wisatawan yang melakukan perjalanan wisata, diharapkan bisa turut berkontribusi dengan memberikan kompensasi. Jadi Kampung Tembudan ini nantinya bisa sebagai salah satu lokasi kompensasi untuk melakukan pelestarian lingkungan. Menurutnya, peran penting dari keberadaan mangrove dalam mengurangi emisi karbon, memang cukup berpengaruh. Terlebih berdasarkan survei, mangrove cukup besar memberikan sumbangsih dalam mengurangi emisi karbon.

"Artinya, daripada fungsi hutan yang lain, lebih baik mangrove yang dinilai fungsinya lebih jauh tinggi di dalam mengurangi emisi karbon. Makanya sekarang kan pemerintah cenderung melestarikan mangrove, karena fungsinya itu yang sangat kuat," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Berau Gamalis mengaku, Pemkab Berau memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Direktorat Wisata Minat Khusus Kemenparekraf RI, atas dukungan fasilitasi yang diberikan untuk Tembudan. Juga terima kasih disampaikan kepada Nalendra dari Wise Stop Lombok, yang berkenan membagi ilmunya dalam upaya mengembangkan potensi destinasi wisata yang ada di Kampung Tembudan, dan tentunya wilayah Berau secara umum.

"Tentunya, fasilitasi ini akan menambah semangat kami dalam membangun ekowisata Berau, sehingga semakin dikenal, diminati, dan dapat dikelola secara berkelanjutan," tutur Gamalis pada sambutan yang dibacakan oleh Asisten I Setkab Berau, Hendratno.

Perlu diketahui, salah satu ekosistem pesisir yang masih terjaga dan kondisinya cukup baik di Kabupaten Berau adalah mangrove. Dengan luasan seluruhnya mencapai 86 ribu hektare, yang tersebar di pulau-pulau kecil, salah satunya di Kampung Tembudan. Dan mangrove Kampung Tembudan ternyata menjadi pilot project Carbon Footprint di Indonesia untuk Kaltim, bersanding dengan lima daerah lainnya, yakni Bali, Bangka Belitung, Malang, dan Papua.

"Tentunya saya sangat berharap, melalui serah terima fasilitas ini dapat meningkatkan iklim ekowisata yang berkelanjutan dan mendatangkan kesejahteraan, khususnya bagi masyarakat Kampung Tembudan. Untuk itu, saya berpesan kepada kita semuanya, untuk senantiasa menjaga kelestarian mangrove dalam rangka menjaga keseimbangan alam," ungkapnya.

Artinya, kata dia, boleh memanfaatkan mangrove sebagai wahana wisata alam, namun tidak boleh lupa untuk menjaga kelestarian ekosistemnya, agar terus lestari dan bermanfaat hingga masa-masa yang akan datang. "Kami sangat mengharapkan perhatian, dukungan, dan arahan dari Kemenparekraf, dalam upaya mengembangkan destinasi wisata minat khusus yang ada di Kabupaten Berau, baik yang ada di atas gunung maupun di bawah laut," harapnya.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Berau termasuk dalam Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional, dan tercatat memiliki 12 kampung wisata, 276 daya tarik wisata termasuk alam, buatan, budaya di darat dan di laut, serta 10 destinasi wisata unggulan, yang salah satunya adalah Kampung Tembudan dan sekitarnya. Maka itu, Pemkab Berau memiliki komitmen untuk memaksimalkan potensi kekayaan panorama alam Kabupaten Berau.

"Hal ini tercermin dalam salah satu misi kami, yaitu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis pariwisata dan kearifan lokal," ucapnya.

Pihaknya pun optimistis, sektor pariwisata Kabupaten Berau akan benar-benar mampu menjadi sektor andalan daerah. Dibarengi dengan mulai menjamurnya fasilitas wisata yang representatif serta meningkatnya kualitas layanan pariwisata yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Pokdarwis setempat. "Marilah bersama-sama kita memberikan kontribusi terbaik terhadap pembangunan ekonomi kreatif, demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bumi Batiwakkal dan Indonesia tercinta," tutupnya. (mar/udi)

Editor : uki-Berau Post
#feature