Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Izinnya Pematangan Lahan, Keruk Batu Bara di Jantung Kota

izak-Indra Zakaria • Jumat, 21 Juni 2019 - 04:34 WIB

 

Aktivitas keruk terjadi di depan hidung Dinas ESDM Kaltim. Berdokumen pematangan lahan, emas hitam turut dibawa pergi melalui jalan umum.

===================

DI tengah kota, tidak jauh dari permukiman warga. Izinnya disebut-sebut sebagai pematangan lahan. Namun, aktivitasnya sekaligus mengeruk batu bara. Sudah berlangsung sebulan. Tapi seolah tidak diketahui dan tertutupi.

Harian ini menelusuri lebih jauh ke lahan yang diklaim bakal digunakan untuk kavelingan perumahan itu. Aktivitas pengerukan batu bara tampak di sana. Tidak jauh dari pusat kantor pemerintahan. Khususnya Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim.

Lahan tersebut berada di Jalan Banggeris, Gang 9. Sebagian masuk Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Sungai Kunjang. Lainnya masuk ke Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu.

Tak sulit mencarinya. Dari jalan utama, kurang dari 100 meter masuk ke gang. Satu ekskavator berwarna oranye duduk manis di atas tumpukan emas hitam. Padahal, permukiman warga hanya sepelemparan batu dari situ. Sekitar 100 meter. Tak jauh dari lahan itu, ada rumah yang belum selesai dibangun.

Aktivitas tersebut sebenarnya dikeluhkan warga. Pekerjaan pematangan lahan itu berada tepat di belakang Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kaltim. Dan beberapa kantor lain. Lubang yang digali sedalam sekitar 4–5 meter. Meski tidak terlalu luas, batu bara yang dikeruk jumlahnya juga cukup banyak.

Kaltim Post sempat bertemu dengan pekerja di tempat itu. Mengaku namanya Wawan. Dia menerima dengan ramah. Pria yang mengaku pengawas di lokasi tersebut menjelaskan, lahan itu diperuntukkan kavelingan rumah.

“Kalau ukuran 10x20 meter persegi rasanya tidak, tapi memang sudah ada orang yang sempat melihat lahan ini,” tuturnya.

Pria bertubuh gempal itu tidak menampik sudah ada batu bara yang tergali dan dibawa keluar dari lahan tersebut. “Semalam (kemarin) saja ada 25 truk, makanya siang ini istirahat dulu,” ujarnya. Dia menyampaikan, masyarakat yang datang masih berpikir-pikir untuk membeli jika masih ada batu bara di dalamnya.

“Makanya daripada terbuang sia-sia, sekalian dijual,” tambahnya. Namun, untuk urusan ke mana dan siapa pembelinya, Wawan mengaku tidak tahu-menahu. Dia menyebut hanya ikut bekerja pada seseorang. Berinisial SLI.

“Semua beliau yang tahu, rumah ini juga beliau yang sewakan,” tambahnya. Namun, setahu dia, tumpukan batu bara itu dibawa menggunakan truk beroda enam melalui jalur lintasan kendaraan umum. Mengarah ke kawasan Sungai Kunjang.

Terkait keberadaan ekskavator sebagai sarana kerja, Wawan juga tidak banyak tahu. Padahal, lebar jalan sekitar 4 meter. “Saya masuk di sini, alat sudah ada,” jelasnya.

Di atas lahan tersebut, diungkapkan Wawan, baru sekitar sebulan dia bekerja bersama empat pekerja lain. Namun, dia menjamin tidak bakal terjadi longsor lantaran berada tepat di belakang Kantor Bawaslu Kaltim.

“Nanti dibuatkan seperti terasering,” ujarnya. Namun, para pekerja menolak disebut-sebut tambang sebagai aktivitas utama ketimbang pengupasan lahan untuk kaveling perumahan.

DISAMPAIKAN LEWAT LISAN

Aktivitas pematangan lahan itu bukan tanpa sepengetahuan warga. Wawan menyebut, daerah itu masuk kawasan RT 5, Kelurahan Air Putih. Media ini menyambangi kediaman Ahmad, ketua RT 5. “Itu lahan perbatasan, masuk Teluk Lerong Ulu sebagian, sisanya Air Putih,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat awal-awal beroperasi, pernah datang seseorang yang diutus. “Lahan itu milik Aisyah,” ceritanya. Namun, orang yang diutus itu menyebut sudah direstui beroperasi di sana. “Ya, karena sudah dapat izin, mana bisa kami tahan,” tambahnya.

Yang bersangkutan memang meminta izin untuk bekerja. Namun, tidak pernah menunjukkan dokumen izin yang dimaksud. “Apakah benar untuk lahan atau malah keruk batu bara,” tegasnya. Terang Ahmad, pihak kelurahan setempat bahkan sudah mengetahui dan sempat menghentikan aktivitas pengupasan lahan tersebut.

Dia ingat betul, pertama kali bekerja sekitar Ramadan lalu. “Habis dihentikan, malah jalan lagi,” ujarnya.

Dia pun sempat ditanya oleh warganya perihal aktivitas tersebut. Namun, sejak hari pertama hingga kemarin, tak ada pembahasan atau menerima uang dari pekerja. “Enggak tahu kalau RT yang masuk kelurahan lainnya,” jelas dia.

Harian ini juga mencari warga sekitar lainnya. Namun, beberapa yang ditemui enggan membahas lebih lanjut. Tapi, aktivitas yang sering dilihat warga memang keluar-masuknya truk saat malam.

Di samping itu, Kaltim Post berusaha mengonfirmasi aktivitas pengupasan lahan sekaligus pengerukan batu bara yang berada tak jauh dari kantor Dinas ESDM Kaltim itu. Kadis ESDM Kaltim Wahyu Widhi Heranata sempat bertanya di mana lokasi tersebut. “Segera koordinasi dengan Kabid Minerba,” ujarnya.

Dihubungi melalui pesan singkat di WhatsApp (WA), orang yang dimaksud Widhi ternyata sedang di luar kota. “Saya sedang rapat, Mas,” sebutnya.

Meski belum ada dampak langsung ke permukiman warga, kerusakan lingkungan yang diakibatkan pematangan lahan dan aktivitas batu bara itu perlu mendapat pengawalan khusus. (*/dra/dwi/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#tambang #samarinda