Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengunjungi Taman Baca Multatuli di Pedalaman Lebak

izak-Indra Zakaria • 2020-10-19 16:55:42
Kegiatan anak-anak di taman baca Multatuli di kampung Ciseel, Sobang, Kabupaten Lebak, Banten (13/10/2020). Foto : Hilmi Setiawan/Jawa Pos
Kegiatan anak-anak di taman baca Multatuli di kampung Ciseel, Sobang, Kabupaten Lebak, Banten (13/10/2020). Foto : Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Lebih sepuluh tahun berlalu sejak Taman Baca Multatuli didirikan Ubaidilah Muchtar. Kini taman baca yang berada di antara tiga kaki gunung itu berkembang menjadi pusat literasi anak-anak setempat.

 

M. HILMI SETIAWAN, Lebak, Jawa Pos

 

Aku tidak tahu di mana aku akan mati. Aku pernah melihat laut lepas di Pantai Selatan, ketika aku di sana membuat garam bersama ayahku. Jika aku mati di lautan, dan mereka membuang jasadku ke air dalam, hiu-hiu akan datang.

….

SAJAK Saijah untuk Adinda tersebut dibacakan dengan cukup baik oleh Siti Nur Agnia. Sesekali dia memandang sejumlah foto Multatuli yang berjejer di dinding anyaman bambu. Seolah berusaha meresapi suasana hati Multatuli saat menulis sajak yang ada dalam novel Max Havelaar itu. Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker.

Saat Siti Nur Agnia membaca sajak, teman-temannya duduk melingkar. Mereka mendengarkan dengan antusias. Begitulah suasana di Taman Baca Multatuli yang berada di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, saat Jawa Pos berkunjung ke sana Selasa lalu (13/10). Untuk mencapai lokasinya harus menyusuri jalan selebar hampir 2 meter. Berkendara dengan mobil Avanza, lebar jalan benar-benar pas. Samping tebing. Sisi lainnya jurang serta area persawahan.

Taman Baca Multatuli berlokasi di Kampung Ciseel, Desa Sobang, Kecamatan Sobang. Dari jalan besar, harus melalui tiga gunung, yaitu Gunung Hanarusa, Pasir Bentang, dan Tenyolat. Taman bacanya sendiri diapit tiga kaki gunung sekaligus: Gunung Batu, Pasir Seel, dan Pasir Padali.

Taman baca yang berada di tebing dengan ketinggian sekitar 3 meter dari jalan kampung itu didirikan Ubaidilah Muchtar pada 10 November 2009. Saat itu Ubay, panggilannya, bertugas sebagai guru di SMPN 3 Sobang.

Saat ini Ubay berdinas sebagai kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak. Lebih spesifik lagi, dia mengurus Museum Multatuli yang berada di jantung Kabupaten Lebak. Persis di samping Alun-Alun Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak. Sepeninggal Ubay, Taman Baca Multatuli diurus Aliyudin, pemuda setempat. ”Saya dulu muridnya Pak Ubay di sekolahan,” kata pria kelahiran Lebak, 13 November 1995, tersebut.

Siang itu Ali (sapaan Aliyudin) bersama anak-anak Kampung Ciseel sedang berkegiatan di Taman Baca Multatuli. Menurut Ali, kegiatan di taman baca tetap berjalan normal meski saat ini sedang musim pandemi Covid-19. Saat itu ada sejumlah anak yang membaca aneka komik. Ada juga yang asyik bermain monopoli.

Taman baca yang berada di kampung berisi sekitar 90 KK itu bukan hanya tempat literasi. Tetapi juga menjadi taman bermain anak-anak. Sebab, fasilitas permainan di sana terbatas. Sinyal telepon tidak ada. Tetapi, warga bisa memanfaatkan jaringan wifi internet lokal yang disediakan keluarga Ali.

Alumnus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Setia Budhi Rangkasbitung Jurusan Bahasa Indonesia itu mengatakan, keberadaan Taman Baca Multatuli benar-benar mengubah keseharian anak-anak di sana. ”Di sini pedalaman sekali, jauh dari modern. (Dahulu, Red) sepulang sekolah anak-anak cari kayu bakar ke hutan atau menggembala kambing,” ungkapnya.

Tetapi, sejak ada taman baca itu, kegiatan belajar anak-anak bertambah. Sepulang sekolah mereka belajar membaca dan menulis di taman baca. Sorenya mengaji di musala. Kemudian, malamnya ada yang belajar di rumah. Ada juga yang kembali belajar di taman baca.

Ali sendiri adalah generasi pertama anak yang merasakan manfaat Taman Baca Multatuli. Ali menceritakan, awalnya dirinya hanya diajak menata buku oleh Ubay. Ketika itu Ubay membawa sekitar 20 novel Max Havelaar. Sambil lalu kemudian Ubay mengenalkan siapa itu Max Havelaar yang menjadi tokoh utama dalam novel karya Multatuli.

Kegiatan membaca dilakukan dengan cara reading group. Semua anak duduk melingkar. Masing-masing membawa novel Max Havelaar. Sesi reading group dilaksanakan setiap Selasa pukul 16.00. Setiap sesi rata-rata membaca satu sampai dua halaman novel. ”Isi (novelnya, Red) susah juga dipahami. Apalagi, anak-anak yang ikut usia SD dan SMP,” jelasnya. Tetapi, di setiap kegiatan reading group, Ubay menyisipkan keterangan secara lisan. Mirip seperti orang mendongeng. Sehingga lama-kelamaan anak-anak kenal siapa itu Max Havelaar.

Menurut Ali, di awal-awal membaca novel itu, dirinya memahami sosok Max Havelaar sebagai penjajah. Orang Belanda yang menjajah Indonesia. Ditugaskan sebagai asisten residen di Lebak. ”Kita (saya, Red) sempat memandang miring ke Multatuli (atau Max Havelaar, Red),” katanya. Di dalam novel itu, Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama pena Multatuli sejatinya ingin menceritakan pengalamannya sendiri. Dengan sosok imajiner bernama Max Havelaar.

Tetapi, pandangan mereka terhadap Multatuli berangsur berubah. Meskipun bertugas sebagai asisten residen kompeni di Lebak, Max Havelaar memiliki hati yang berlawanan dengan penjajah pada umumnya. Secara sederhana Multatuli itu orangnya baik. Hatinya berontak ketika orang-orang Belanda di Lebak justru menyengsarakan warga pribumi.

”Multatuli mempunyai hati nurani yang berkebalikan dari kolonial. Ada nilai moral juga yang bisa diambil di situ,” jelasnya. Dengan jujur Ali mengatakan, sulit memahami bahasa yang ada di novel Max Havelaar. Terkait cerita Max Havelaar yang bersinggungan dengan Lebak baru ada di bab XVI.

Kegiatan di Taman Baca Multatuli bukan hanya membaca bersama. Ada juga seni dan budaya. Khususnya ketika anak-anak sudah berhasil khatam atau tamat membaca satu novel penuh. Biasanya dipaskan sekitar awal November, bertepatan dengan hari jadi pendirian taman baca. Kegiatan itu diberi nama Multatuli Day. Acaranya berlangsung selama tiga hari tiga malam. Malam harinya banyak diisi pentas seni budaya di taman baca. Selain tari-tarian, ada pementasan drama. Seringnya, drama yang dibawakan adalah cerita Saijah dan Adinda yang ada di dalam novel Max Havelaar.

Sementara itu, acara pada siang juga beragam. Hari pertama diisi pawai. Kemudian, hari kedua dan ketiga napak tilas Multatuli. Anak-anak beserta para orang tua diajak keluar gunung sampai ke Kota Rangkasbitung. Mengunjungi satu per satu lokasi yang pernah disinggahi Multatuli di dalam novelnya. ”Kadang sampai tiga mobil. Menggunakan mobil bak terbuka,” ucap Ali.

Di antara yang dikunjungi adalah rumah yang konon pernah ditinggali Multatuli. Rumah itu sekarang berlokasi di halaman parkir motor RSUD dr Adjidarmo, tidak jauh dari Alun-Alun Rangkasbitung. Anak-anak juga jalan-jalan di Jalan Multatuli. Jalan sepanjang 1,3 km yang menghubungkan pasar dengan Alun-Alun Rangkasbitung itu dipercaya dahulu adalah halaman rumah Multatuli.

Pada hari berikutnya, napak tilas dilanjutkan di kawasan suku Baduy. Tepatnya di kawasan Cijahe, Kecamatan Bojongmanik, Lebak. Menurut Ali, ada beberapa titik untuk menuju kawasan suku Baduy Dalam. Selain dari Cijahe juga bisa dari Ciboleger. Namun, kalau dari Cijahe, jarak tempuh perjalanan menuju permukiman Baduy Dalam tidak terlalu jauh. Sementara kalau masuk dari Ciboleger, jarak ke permukiman Baduy Dalam lumayan jauh.

Ali mengatakan, gara-gara pandemi, Multatuli Day saat ini belum bisa digelar. Sebab, kegiatan di pusat Kota Lebak masih dibatasi. Multatuli Day kali terakhir digelar pada 2017. Antara 2017 sampai 2019 kegiatan di Taman Baca Multatuli cenderung sepi. Sebab, penerus Ubay tidak ada. Ali sendiri saat itu baru selesai kuliah pada akhir 2019. Jika nanti ada kesempatan, dia mengaku ingin kembali menggelar Multatuli Day.

Sepulang dari menamatkan kuliah, Ali bertekad menghidupkan kembali taman baca. Dia mengatakan, meskipun kampungnya terpencil, akses internet sudah masuk lewat jaringan wifi yang menggunakan sistem sewa per jam layaknya warnet. Keberadaan taman baca bisa menjadi semacam benteng bagi anak-anak supaya tidak terbawa arus negatif penggunaan internet.

Dalam kesempatan lain saat ditemui di Museum Multatuli, Ubay sempat menceritakan taman baca yang dia dirikan itu. ”Kegiatan utamanya adalah reading group atau ngaji (Novel, Red) Max Havelaar,” ungkap dia.

Kegiatannya bukan sekadar membaca. Sesekali bermain peran. Ubay juga kadang mengajar anak-anak belajar di sungai yang tidak jauh dari perkampungan. Di situ anak-anak bisa menulis keseharian mereka dalam diari. Ubay menyatakan, aneka kegiatan literasi itu dilakukan supaya anak-anak tidak bosan.

Awalnya ada 18 anak Kampung Ciseel yang bergabung di Taman Baca Multatuli. Ke-18 anak itu sekarang sudah besar-besar. Mereka dilanjutkan generasi berikutnya. Antara lain Siti Nur Agnia yang tadi cukup lincah membacakan sajak Saijah untuk Adinda. Gadis berkulit putih itu mengaku sering menghabiskan waktu di taman baca untuk membaca komik. (*/c9/oni)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature