Bambang Iswanto
Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda
“PERBUATAN dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik dibandingkan dengan perbuatan mulia yang membuatmu takabur.” Kalimat bijak itu sebenarnya sebuah sindiran keras bagi orang yang bangga dan sombong dengan perbuatan baik yang telah dilakukannya.
Sombong dengan perbuatan baik, berangkat dari hati yang tidak ikhlas. Kadang hanya tersimpan dalam hati dan tidak tampak ke permukaan. Tidak jarang pula yang tersurat dengan jelas dalam ucapan dan perbuatan seseorang.
Perasaan dan sikap sombong itu bahkan tidak sepadan bila dibandingkan dengan perbuatan buruk yang diikuti dengan penyesalan. Pendosa yang menyesal akan bertobat dan tidak melakukan perbuatan terlarang lagi dan membuatnya menjadi bersih setelah berbuat. Sebaliknya, orang yang mengamalkan perbuatan baik yang dilanjutkan dengan perasaan sombong justru akan terus terjebak dalam perbuatan buruknya.
Perbuatan baik tidak selamanya dinilai baik, begitupun perbuatan buruk, menjadikan pelakunya berakhir menjadi pendosa. Keduanya bergantung motif dan kelanjutan sikap setelah perbuatan.
Niat melakukan perbuatan baik hanya untuk menunjukkan kesombongan akan berbuah keburukan bagi pelakunya. Sebaliknya, perbuatan yang jelek dilanjutkan dengan penyesalan dan tobat akan berubah menjadi kebaikan.
Dalam tingkat tertentu, kesombongan akut bisa menjadi sebab masuk neraka. Hal itu terungkap dari kisah rasul tentang dua orang Bani Israil bersaudara. Yang satu ahli ibadah, sedangkan yang lainnya rajin berbuat buruk.
Ahli ibadah bangga dengan kapasitasnya sebagai orang yang merasa dekat dengan Tuhan. Selalu tidak bisa menahan diri untuk menegur saudaranya. Saat ditegur ketika berbuat dosa, saudaranya selalu mengucapkan, “Tinggalkan aku bersama Tuhanku, apakah kau diutus untuk mengawasiku?” Dan akhirnya terucaplah kalimat terlarang dari mulut ahli ibadah, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu dan tidak memasukkanmu ke surga.”
Cerita yang bersumber dari hadis sahih riwayat Abu Dawud dan Ahmad itu berlanjut dengan kisah meninggalnya kedua orang yang beda kutub tersebut. Setelah meninggal, keduanya dihadapkan Allah. Kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, “Apakah kau tahu tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?”
Keputusan Allah tentang keduanya justru mengejutkan, dengan rahmat-Nya Allah memasukkan pendosa yang selalu ditegur oleh ahli ibadah ke surga dan justru melemparkan ahli ibadah ke neraka.
Pesan dan pelajaran penting dari kisah di atas adalah perasaan sombong sebagai ahli ibadah, selalu berbuat baik, dapat membuat seseorang mengambil apa yang menjadi hak prerogatif Allah. Berbuat baik merupakan hal yang sangat penting dan dianjurkan dalam agama.
Namun, tidak lantas membuat orang yang mampu melakukannya secara berkesinambungan menjadi sombong. Orang sombong dalam ibadah seakan memakai jubah hakim Tuhan sebagai penjatuh vonis seseorang masuk neraka atau surga.
Tugas seorang abdi Tuhan, hanyalah berusaha beramal baik dan tidak menjadi hakim yang memutuskan masuk surga dan tidaknya seseorang, yang bertindak sebagai pemilik kaveling surga.
Pada riwayat lain disebutkan juga golongan-golongan ahli ibadah yang merasa dirinya akan masuk surga, justru terbenam ke neraka karena motif perbuatan baik yang dilakukan bukan atas dasar kecintaan dan mengharap rida Allah. Ada pejuang yang menganggap dirinya mati syahid, ulama yang merasa sudah mengajarkan Al-Qur’an, dan pemilik harta yang sudah merasa jadi dermawan. Kesemuanya ternyata dimasukkan ke neraka setelah Allah mengadili mereka.
Ketiganya melakukan ibadah dan perbuatan baik atas dasar ingin dipuji dan dicap baik oleh manusia lain. Pejuang ingin disebut sebagai pemberani oleh orang lain. Pengajar ilmu Al-Qur’an hanya ingin disebut sebagai qari hebat. Orang kaya yang berbagi harta hanya ingin dipandang dermawan di hadapan manusia. Motif yang tidak dikehendaki Allah itu menyebabkan perbuatan mereka sia-sia, bahkan berujung ke ganjaran neraka.
Berlawanan dari cerita ahli ibadah yang masuk neraka, Allah dengan segala kekuasaannya dapat menjadikan apa yang dipandang buruk oleh manusia menjadi masuk ke surga. Seperti cerita pelacur yang masuk surga karena menolong anjing yang sedang kehausan. Pelacur itu mengambilkan air dengan sepatunya kemudian memberi minum anjing yang terlihat sangat kehausan.
Atas perbuatan mulia pelacur, Allah memberikan ganjaran surga. Informasi berdasarkan hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari itu bagi sebagian orang susah dinalar, bagaimana bisa seorang yang memiliki profesi yang dipandang hina dan sering melakukan perbuatan dosa bisa dimasukkan ke surga.
Pesan dari hadis itulah yang harus dicari. Paling tidak manusia harus haqqul yaqin bahwa Allah memiliki sifat pengampun bagi siapa saja, sekalipun telah berbuat dosa sangat besar.
Selama hidup di dunia, mari arahkan diri untuk selalu menjaga keseimbangan ibadah vertikal kepada Allah dan kepada sesama. Sikap dan hubungan dengan kepada makhluk Allah lain selalu dijaga. Bukan hanya kepada manusia. Alam, lingkungan, dan bahkan kepada binatang.
Manusia tidak pernah tahu, jangan-jangan kebaikannya yang kecil di mata manusia seperti menolong binatang, ternyata di hadapan Allah bernilai sangat mulia dan berganjar surga. Semoga Allah menjadikan kita perindu-perindu surga yang tidak bangga dengan amal baik kita. Amin. (rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria