Judul : Luka Labatula Dan Cerita Lainnya
Pengarang : Rahmi Namirotulmina,dkk
Penerbit : Kantor Bahasa Kaltim
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman: 128
KARTINI HILMATUNNIDA, guru SMP 6 Bontang. Telah menerbitkan sejumlah buku seperti Kumcer “Pesona Ganjil di Bantimurung” (2013), novel “Gurinding Cinta” (2015), dan yang terbaru kumpulan cerita anak “Omar si Pelaut” (2020).
Oleh: Kartini Hilmatunnida
(IG: @kartinihilmatunnida)
Antologi cerita pendek Luka Labatula ditulis enam belas pengarang yang terhimpun dalam Jaring Penulis Kaltim (JPK). Para penulis ini sudah memiliki banyak karya sastra yang diterbitkan, baik secara indie maupun mayor.
Sampul buku antologi cerpen ini menarik perhatian karena mengingatkan akan kisah Nabi Nuh dengan kapalnya di bukit atau pegunungan. Gambar kapal usang di bukit yang ditumpangi seorang nelayan menimbulkan rasa penasaran pembaca akan isi buku ini. Latar warnanya juga memikat, warna tanah yang menggambarkan bukit/puncak gunung dan gradasi warna langit.
Saat membaca keseluruhan isi buku ini, maka kita akan menemukan tema umum yang menjadi keunggulan antologi cerpen ini; tentang cinta dan hakikatnya. Cinta dan persahabatan dapat kita temukan pada cerpen “Igan”, cinta dan dendam di cerpen “Merundung Sepi”, cinta alam pada cerpen “Dermaga Kayu Ulin”, dan lainnya.
Selain tema umumnya, antologi cerpen ini juga cukup kuat dalam penggambaran setting. Hampir semua cerpen menggunakan latar tempat di Kaltim dengan suasana disesuaikan dengan karakter tokoh. Setting Hulu Sungai Mahakam pada cerpen Igan, petakan bangsal sempit di atas bantar Karang Mumus pada cerpen Merundung Sepi, Sungai Mahakam pada cerpen Kematian Leluhur Sungai di Kota Ini, Pantai Melawai pada cerpen Lelayu Rindu Melawai, Tanjung Reded pada cerpen Almeira.
Hal lain yang menjadikan antologi ini memesona adalah alur atau rangkaian cerita yang variatif. Paling unik terdapat pada cerpen, “Ning”. Pengarang cukup piawai menggunakan alur mundur. Memulai kisahnya langsung pada kondisi akhir si tokoh utama saat menanti detik-detik eksekusi mati.
Menanti. Alangkah dalam makna kata itu. Meski sebenarnya sama saja dengan “menunggu”. Tapi tidak, bagiku “menanti” menimbulkan rasa romantis. Aku yakin penantian memiliki ujung, sedangkan menunggu tak punya perhentian.
Saat membaca bagian awal ini pembaca tak menyangka bila yang dimaksud menanti di sini adalah menanti jatuhnya hukuman mati. Setelah itu, rangkaian cerita mundur ke masa lalu diawali dengan pertemuan Jenderal Kouga Kenichi dengan seorang gadis bernama Ning.
Cerpen Ning menarik karena membuat pembaca tak mudah menebak dinamika kisah yang penuh intrik, suspen, dan kejutan yang menyihir pembaca untuk betah dan penasaran mengetahui hingga kalimat terakhir.
Selain tema, setting, dan alur yang membuat antologi ini bak gadis jelita adalah kekuatan majas yang digunakan. Kita dapat menikmati begitu banyak majas pada cerpen yang berjudul Lelayu Rindu Melawai.
Pada paragraf pertama. Suaramu masih selembut dulu, tetap menyiratkan keteguhan, menancap getar tegap menohok dinding kalbu. Sementara jeling matamu masih sendu, namun sorot tajam menghunjam, selalu mampu mengeja setiap isyarat dengan sekali pejam.
Pada dialog kelima. ”Aku merasa selama tiga tahun rindu itu selalu mengintai ingin melukaiku. Bukan dengan sumpit atau peluru, tapi dengan belati setipis ari yang bilahnya lebih dulu dibakar hingga jadi bara, agar rasa sakit itu nian utuh kuterima.”
Pada dialog kelima belas. “Betapa hujan juga patuh pada pusaran badai yang kadang harus melintasi terjal tebing karang dan hamparan pasir landai sepanjang pantai. Betapa angin telah menaburkan sisa serbuk cerita tentang para pertapa menjinjing sepotong sorban kesedihan, yang dibenamkan pada ribuan detak nadi menanti kepulangan menuju sarang waktu. Sementara langit tetap bungkap, enggan bersuara seperti gagu sedang berhumul di ujung lidahmu.”
Bila majas mempercantik antologi ini, tokoh dan penokohan juga menjadi hal yang membuat antologi cerpen ini istimewa. Penokohan unik dapat kita temukan pada cerpen dengan judul Kematian Leluhur Sungai di Kota ini. Keunikannya dapat ditemukan sejak awal cerita.
“Hai. Perkenalkan, aku tokoh yang tak bernama dan bermuasal. Aku terlahir dari sekumpulan abjad yang sebelumnya tiada berbilang A-Z. Jika ada huruf baru yang disepakati oleh suatu penduduk atau diciptakan oleh pakar bahasa sekali pun, barangkali kau boleh menerka, bahwa boleh jadi dari situlah aku lahir dan berasal.”
Selain unsur intrinsik yang unik dan istimewa, di antologi ini juga terdapat cerpen yang kisahnya relevan dengan kondisi saat ini; Luka Labatula. Cerpen ini menyoroti kondisi masyarakat asli yang semakin terpinggirkan dan hanya jadi penonton kesuksesan pendatang bermodal.
Pendatang membabat mangrove membangun tambak ikan, lalu sukses. Sementara masyarakat asli hanya mengandalkan perahu kecil dan kail sederhana untuk mengais rezeki. Kondisi ini masih banyak kita temukan di kampung-kampung nelayan di Kaltim, seperti Bontang dan lainnya.
Selain masalah kesenjangan sosial, cerpen Luka Labatula menyoroti masalah daerah dalam kawasan cagar alam. Wilayah cagar alam tidak boleh dimiliki pribadi. Meskipun suatu keluarga itu telah turun-temurun menetap di tempat tersebut tetapi tak berhak mendapatkan sertifikat kepemilikan tanah. Padahal, masyarakat kecil biasanya sangat mengandalkan selembar sertifikat untuk dijadikan jaminan meminjam modal usaha di bank. Kondisi seperti ini masih ditemukan di Kaltim.
Kelemahan antologi ini pada sempitnya sasaran pembaca, khususnya cerpen yang berjudul Kematian Leluhur Sungai di Kota Ini. Rangkaian ceritanya menggunakan bahasa simbolik sehingga hanya kalangan tertentu (pencinta sastra) yang mampu memahami secara utuh dan menangkap maksud penulis. Itu akan membuat pembaca yang tidak terlalu memahami karya sastra, hanya membaca sekilas bahkan melewatinya.
Kelemahan lain antologi cerpen ini terdapat pada tata letak yang terlalu sederhana. Padahal, kisah yang terhimpun di dalamnya sangat istimewa.
Antologi cerpen ini layak dibaca kalangan remaja dan dewasa, khususnya pelajar atau mahasiswa, yang ingin memperluas wawasan variasi alur dan majas. Selain itu, antologi ini sebagai sarana hiburan dan edukasi terkait tempat-tempat di Bumi Etam beserta pesonanya. Juga untuk memahami humanisme dan sosial di sekitar kita. Juga, tentu saja, tentang hakikat cinta dan mencintai.
Selain itu, dengan membaca cerpen-cerpen di antologi ini dapat mengasah empati, memperhalus tutur bahasa, dan lebih bijak memandang masalah. (***/dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria