Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

RDMP Tekan Jumlah Pengangguran di Balikpapan

izak-Indra Zakaria • Rabu, 3 Maret 2021 - 20:20 WIB
Photo
Photo

BALIKPAPAN–Walau belum signifikan, proyek perluasan kilang Balikpapan dinilai cukup meredam laju tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2020. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, TPT Kota Minyak pada Agustus 2019, sebesar 7,15 persen. Atau sebanyak 22.844 orang. Sementara pada Agustus 2020, TPT mencapai 9,00 persen atau sebanyak 27.911 orang.

Menurut data BPS Balikpapan, pada 2020, jumlah angkatan kerja di Balikpapan sebanyak 310.169 orang. Mengalami penurunan sebanyak 9.119 orang dibandingkan angkatan kerja Agustus 2019 yang jumlahnya 319.288 orang. Sementara jumlah penduduk yang bekerja di Balikpapan pada Agustus 2020 mencapai 282.258 orang, berkurang sebanyak 14.186 orang dibanding keadaan pada Agustus 2019 sebanyak 296.444 orang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Achmad Zaini menerangkan, persentase jumlah pengangguran di Balikpapan naik tak signifikan seperti kabupaten/kota lainnya di Indonesia. Jumlah pengangguran dari 7,15 persen menjadi 9 persen. Artinya naik sebesar 1,85 persen. “Karena RDMP (refinery development master plan/proyek perluasan kilang) yang meng-counter bertambahnya jumlah pengangguran. Dalam kondisi pandemi Covid-19, seperti di kota lain, (jumlah pengangguran) bisa lebih tinggi lagi. Bisa sampai 6–10 persen,” ungkapnya yang saat dihubungi Kaltim Post sedang di Samarinda, Selasa (2/3).

Lanjut dia, berdasarkan data BPS Balikpapan, jumlah penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 di Balikpapan sebanyak 94.340 orang. Terdiri dari 9.123 orang pengangguran karena Covid-19, kemudian sebanyak 7.031 orang bukan angkatan kerja (BAK) karena Covid-19. Lalu, 5.289 orang sementara tidak bekerja karena Covid-19. Terakhir, 72.897 orang penduduk bekerja mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19. “Walaupun RDMP memberikan kontribusi yang cukup banyak terhadap angkatan kerja yang tercipta, tetapi juga jangan dilupakan banyak sekali buruh dan pengusaha juga tergerus akibat Covid-19,” jelas Zaini.

Pria yang pernah menjabat kepala Tata Usaha BPS Kaltim ini mengungkapkan, RDMP Pertamina RU V Balikpapan dan Lawelawe berkontribusi besar terhadap nilai PDRB Balikpapan, maupun Kaltim secara keseluruhan. Sebagaimana diketahui, PDRB Kaltim didominasi empat sektor utama. Yakni, industri pengilangan migas sekitar 40 persen. Kemudian sektor transportasi dan pergudangan sebesar 9,85 persen, sektor konstruksi sebesar 16,53 persen, dan sektor perdagangan sebesar 9,22 persen. Dengan nilai PDRB yang tercipta sebesar Rp 85,87 triliun.

“Setelah proyek RDMP, dampaknya memberikan kontribusi lebih besar terhadap Nilai PDRB. Pertumbuhan dan kontribusinya,” ungkap dia. Pria ramah ini melanjutkan, pandemi Covid-19 di awal 2020, sempat membuat perubahan sektor ekonomi di Balikpapan. Keberadaan kegiatan RDMP Pertamina RU V Balikpapan dan Lawelawe tidak mampu meredam penurunan tersebut. Seperti pada sektor konstruksi, yang semula pada tahun 2019 memberikan pertumbuhan ekonomi sebesar 8,11 persen menjadi 3,93 persen. Tetapi kontribusinya naik dari 15,53 persen menjadi 16,53 persen. Dan nilai PDRB yang ditimbulkan mencapai Rp 17,13 triliun.

“Hal ini sangat dipahami mengingat proyek RDMP dengan nilai investasi USD 6,5 miliar ini merupakan kegiatan konstruksi,” imbuhnya. Zaini menerangkan, sektor lain yang mendapat efek positif RDMP kilang Balikpapan adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. BPS Balikpapan juga memproyeksikan beberapa sektor yang akan berkembang seiring dengan tahapan kegiatan puncak pembangunan RDMP Pertamina RU V Balikpapan dan Lawelawe pada tahun ini. Yakni sektor konstruksi, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi kendaraan, dan sektor angkutan dan pergudangan. Selain itu, sektor industri pengolahan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor jasa, serta sektor pengadaan listrik dan gas.

 “Jika 2021 terjadi penambahan jumlah pegawai di RDMP dan vaksinasi bisa berjalan dengan, maka pemulihan ekonomi akan terjadi. Dan jumlah pengangguran juga akan mengalami penurunan,” ungkapnya. Sebelumnya, pada paparan dalam rapat dengan Kemenko Polhukam di Gran Jatra Hotel Balikpapan, beberapa waktu lalu, Manager HSSE PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) Judy Pudji menyebutkan, jumlah pekerja yang dibutuhkan pada puncak konstruksi RDMP kilang Balikpapan tahun 2021, mencapai 15 ribu orang. “Saat ini sudah 6.500 orang. Insyaallah di 2021, kami akan meningkatkan sampai 15 ribu pekerja,” katanya.

Kebutuhan untuk merekrut tenaga kerja hingga mencapai 15 ribu itu, sesuai dengan progres pengerjaan yang telah disusun PT KPB. Di mana, pada tahun ini kegiatan pembangunan diharapkan dapat mencapai 80 persen dari keseluruhan kegiatan. Salah satu kegiatan yang ditargetkan bisa diselesaikan pada triwulan pertama 2021 adalah operational acceptance new workshop and warehouse atau pengujian operasional kantor dan gudang. “Mudah-mudahan ini bisa kami kejar. Sehingga target di 2021, kami akan mencapai kurang lebih 80 persen. Artinya 50 persen progres, akan kami kejar di 2021. Dan kami sangat membutuhkan kerja sama dengan pihak terkait terhadap PSN ini,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, RDMP kilang Balikpapan sangat penting bagi pemerintah daerah. Di saat perekonomian dunia lesu karena pandemi, RDMP kilang Balikpapan jadi penyelamat. “Karena menyerap tenaga kerja yang banyak dengan nilai investasi yang besar. Dan mengubah wajah kota,” ucapnya. Menurut dia, kebutuhan tenaga kerja di RDMP kilang Balikpapan cukup kompleks. Meski butuh banyak tenaga kerja, sumber daya manusia yang dibutuhkan dituntut memiliki keahlian tinggi dan terampil sesuai kebutuhan kontraktor. “Ini yang jadi persoalan. Tenaga kerja lokal, tidak sesuai dengan skill yang diharapkan RDMP,” ungkapnya. (kip/riz/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#kilang minyak balikpapan #Ekonomi Kaltim #Seputar Balikpapan