Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ismail Tawarkan Jabatan ke Oposisi, Wapres AS Kunjungi Singapura

izak-Indra Zakaria • Selasa, 24 Agustus 2021 - 17:56 WIB
Ismail Sabri Yaakob
Ismail Sabri Yaakob

KUALA LUMPUR– Keluarga Malaysia. Konsep itulah yang diusung Ismail Sabri Yaakob untuk menggambarkan penduduk Malaysia dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri (PM) Malaysia ke-9 kemarin (22/8). Dia resmi dilantik sehari sebelumnya setelah 114 anggota perlemen memberikan dukungan.

Ismail menjelaskan bahwa konsep keluarga Malaysia itu bisa melintasi batas agama, etnis, dan ras. Di Malaysia pernikahan beda ras dan beda agama sudah jamak. Utamanya di daerah Sabah dan Sarawak. Meski beda, mereka memiliki ikatan yang kuat. ’’Itu sebabnya, saya mengusung konsep keluarga Malaysia karena kekuatan bangsa ini terikat dengan nilai-nilai keluarga,’’ tegasnya seperti dikutip Free Malaysia Today.

Politikus UMNO itu tidak menjelaskan sama sekali apakah kabinetnya nanti tetap disebut dengan Perikatan Nasional (PN) atau berubah nama. Yang jelas, semua pendukungnya adalah anggota koalisi PN. Ismail hanya berfokus pada permintaan agar semua pihak bersatu dan bergandengan tangan. Baik itu di sektor pemerintahan maupun para anggota parlemen.

Sebagai tanda damai pada oposisi, dia mengajak mereka untuk bergabung. Oposisi bisa masuk di Dewan Pemulihan Nasional (MKN) dan Satgas Khusus Covid-19. ’’Kita harus bekerja sama untuk meyelamatkan keluarga kita, keluarga Malaysia,’’ tegasnya.

Jabatan Ismail nanti hanya 21 bulan sebelum pemilu ke-15 Malaysia digelar. Itu bisa kurang atau lebih, bergantung apakah pesta demokrasi tersebut akan dipercepat atau justru diundur karena pandemi.

Sejak pemilu terakhir 2018, Malaysia sudah mengalami tiga kali pergantian PM. Tiga tahun, tiga PM. Mulai Mahathir Mohamad, Muhyiddin Yassin, hingga ke Ismail.

Politikus 61 tahun tersebut menyadari bahwa perubahan pemerintahan yang begitu cepat dalam waktu singkat bisa ditafsirkan sebagai kerugian bagi rakyat dan negara. Karena itu, kini dia ingin maju bersama dan memajukan Malaysia. Dia ingin menghilangkan perebutan kekuasaan politik yang selama tiga tahun belakangan begitu terasa.

Ismail juga menebar janji untuk melanjutkan program vaksinasi dan memastikan penduduk Malaysia mencapai kekebalan komunal. Pandemi dan ekonomi menjadi tantangan paling berat pemerintahan Ismail. Muhyiddin terguling, antara lain, karena penanganan pandemi.

Kabinet pemerintahan Ismail belum dibentuk. Namun, banyak pihak yang mulai menebak dan berharap. Analis politik dari Singapore Institute of International Affairs Oh Ei Sun menegaskan agar Ismail menghindari membentuk kabinet yang ’’gemuk” atau diisi terlalu banyak politikus. Pada pemerintahan Muhyiddin, ada 32 menteri dan 38 wakil menteri. Itu dianggap terlalu banyak dan tidak efektif.

Oh berharap ada wajah baru di kementerian kesehatan, urusan dalam negeri, perdagangan dan industri internasional. ’’Banyak pihak menganggap menteri sebelumnya entah itu tidak kompeten, tidak efektif, ataupun tidak netral,’’ tegasnya.

Sementara itu, sosok berkompeten seperti Menteri Koordinasi Vaksin Khairy Jamaluddin, Menteri Urusan Ekonomi Mustapa Mohamed, dan Menteri Transportasi Wee Ka Siong diharapkan bisa dipertahankan. Tokoh muda yang berusia 30–40-an tahun diharap juga terpilih.

’’Semua mata tertuju pada kabinet baru Ismail. Yaitu, apakah komposisinya akan menyenangkan parpol pendukungnya ataukah akan terdiri atas anggota parlemen yang mampu bekerja untuk rakyat,’’ tegas analis politik dari Universiti Malaya Profesor Dr Awang Azman Awang Pawi kepada New Straits Times.

Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris kemarin tiba di Singapura. Itu merupakan rangkaian lawatannya ke Asia. Dia disambut Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan. Dalam kunjungan tersebut, dia akan memastikan komitmen AS di wilayah Asia pasca-Taliban mengambil alih Afghanistan. Pandemi Covid-19 juga bakal jadi menu pembahasan. Setelah dari Singapura, Harris akan bertolak ke Vietnam pada Selasa siang (24/8).

Kunjungan Harris itu sempat mendapatkan kritik karena dianggap tidak peka terhadap situasi saat ini. Yaitu, ketika AS dan negara-negara lainnya sedang putus asa mengeluarkan penduduknya dari Afghanistan. Namun, Gedung Putih membela bahwa kunjungan Harris sudah dijadwalkan jauh hari sebelum tragedi di Afghanistan. (sha/c6/bay)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara