Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pada Masanya Sempat Digunakan sebagai Aksara Sandi untuk Kelabui Belanda

izak-Indra Zakaria • 2023-01-31 12:48:28
Yova Ruldeviyani, dosen Fasilkom UI, bersama mahasiswanya.
Yova Ruldeviyani, dosen Fasilkom UI, bersama mahasiswanya.

Di Indonesia ada 30-an aksara Nusantara. Dari sebanyak itu, hanya aksara pegon yang masih lestari dan digunakan sampai sekarang. Tak ingin punah, dosen dan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menciptakan aplikasi Pegonizer.

 

M. Hilmi Setiawan, Depok

 

BELTSAZAR Anugrah Sotardodo antusias menyimak paparan rencana pengembangan aplikasi Pegonizer saat ditemui di gedung baru Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia, Depok. Bersama rekan setim pengembang aplikasi Pegonizer, mereka mendapatkan pengarahan dari Yova Ruldeviyani, dosen Fasilkom UI sekaligus sebagai pembimbing.

Saat itu Yova menunjukkan kepada tim perkembangan naskah-naskah klasik atau manuskrip lawas yang ditulis menggunakan aksara pegon. Naskah tersebut sudah didigitalkan. Ada yang berupa file PDF maupun JPEG atau gambar.

Aksara pegon adalah aksara Arab yang diadopsi untuk menuliskan bahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Ada sejumlah modifikasi yang digunakan karena tidak semua pelafalan tiga bahasa tersebut ada di aksara Arab.

Pegon berasal dari bahasa Jawa, yaitu pego yang artinya menyimpang. Di antara modifikasinya adalah huruf ha dalam aksara Arab diberi titik tiga di bagian perutnya sehingga dibaca ca. Kemudian, huruf ya diberi titik tiga di bawah menjadi nya. Lalu, huruf ain diberi titik tiga di bagian atas dibaca nga. Sebagaimana diketahui, bacaan ca, nga, dan nya tidak ada dalam aksara Arab. Tetapi muncul di aksara pegon.

Di antara manuskrip yang sudah diubah ke format digital itu adalah Kitab Mabadi Ilmi Thariqah, Kitab Munjiyat, Parukunan Sunda, dan Tafsir Jalalain Jinarwa. Kemudian, ada juga kitab Fathul Qorib, primbon penghitungan waktu, primbon warna-warni, serta Tarikhul Auliya.

Beberapa saat berdiskusi dengan timnya, Yova lantas menjelaskan cerita di balik pembuatan aplikasi Pegonizer tersebut. Dia mengatakan, saat ini aplikasi Pegonizer masih berbasis website.

Ke depan dikembangkan menjadi aplikasi. Dia bersyukur dengan orisinalitas ide digitalisasi aksara pegon tersebut, aplikasi Pegonizer lolos mewakili Indonesia di kompetisi ICT tingkat ASEAN bertajuk AICTA 2023. Kesempatan itu diraih setelah Pegonizer meraih juara kedua pada kompetisi IdenTIK yang diselenggarakan Kementerian Kominfo pada awal November 2022.

Yova menceritakan, ide digitalisasi aksara pegon muncul saat dirinya rutin mendampingi sang suami, Yudho Giri Sucahyo, sebagai ketua Pandi (Perkumpulan Nama Domain Indonesia) tahun lalu. Saat itu Pandi menjalankan proyek untuk melestarikan aksara-aksara Nusantara yang digunakan pada manuskrip kuno.

”Mulai aksara Jawa atau Hanacaraka, aksara Bali, Makassar, juga di Sumbar dan Sumut,” tuturnya.

Hasil kunjungan ke sejumlah daerah, dia prihatin karena aksara-aksara tradisional itu sudah tidak digunakan. Sampai suatu ketika Yova dan suaminya berkunjung ke Lamongan, Jawa Timur. Di sebuah pesantren, mereka meneliti penggunaan aksara pegon. Mereka langsung tertarik.

Sebab, aksara tersebut sampai sekarang masih lestari digunakan di pesantren-pesantren. Selain itu, dia tertarik karena aksara pegon pada dasarnya menggunakan tulisan Arab. Tetapi, dengan banyak modifikasi menyesuaikan pelafalan bahasa Jawa.

Dia menuturkan, meskipun sampai saat ini aksara pegon masih banyak digunakan, khususnya di lingkungan pesantren, akan lebih bagus jika didigitalisasi agar tidak sampai diklaim negara tetangga. Seperti yang terjadi pada aksara Arab Melayu yang diklaim Malaysia. Padahal, aksara tersebut digunakan masyarakat Melayu di Sumatera dan Kalimantan.

Bergerak dari tujuan itu, Yova dan tim langsung mengumpulkan naskah-naskah atau manuskrip klasik yang ditulis menggunakan aksara pegon. Dia mengatakan secara teknis tidak berburu langsung ke kampung-kampung. Supaya lebih efektif, dia bekerja sama dengan beberapa kolektor atau ahli manuskrip kuno. Salah satunya Diaz Nawaksara.

Sambil mencari koleksi manuskrip pegon, Yova mempelajari aksara pegon itu sendiri. Dia menuturkan ada tiga aksara pegon, yaitu pegon Jawa, pegon Madura, dan pegon Sunda.

Dari ketiganya itu ada perbedaan-perbedaan penulisan aksara pegon. ”Dari ketiganya, ada yang aneh dan menurut saya melanggar kaidah cara menulis aksara Arab itu sendiri,” tuturnya.

Dia mencontohkan ejaan eng menggunakan abjad ain, lalu diberi titik tiga. Di dalam aksara Arab, tidak ada huruf ain yang memiliki titik tiga.

Soal wujud atau jenis manuskrip yang menggunakan aksara pegon, dia menyatakan sangat beragam. Meskipun saat ini penggunaan aksara pegon didominasi untuk kalangan pesantren saja. Pada masanya, huruf pegon digunakan pada kegiatan keseharian masyarakat.

Pada masa penjajahan Belanda, aksara pegon digunakan pada penerbitan majalah atau surat kabar. Kemudian, banyak kegiatan surat-menyurat yang menggunakan aksara pegon.

Bahkan, menurut dia, pegon saat itu seperti menjadi sandi khusus. Digunakan untuk menulis pesan khusus karena tidak bisa terbaca orang-orang Belanda. Tetapi, Belanda akhirnya mengenali dan memopulerkan penggunaan aksara Latin.

Yova juga menyampaikan, pada zaman dulu ada kitab Injil yang menggunakan aksara pegon. Begitu pun dengan kitab umat agama Hindu, juga ada yang ditulis menggunakan aksara pegon.

Dia menegaskan, aksara pegon itu bukan dibawa orang Arab. Melainkan orang Jawa menggunakan aksara Arab untuk menulis bahasa sehari-hari mereka. Baik bahasa Jawa, Sunda, maupun Madura.

Setelah cukup banyak naskah yang berhasil dia kumpulkan, proses digitalisasi dimulai. Secara umum, proses digitalisasi naskah-naskah kuno dilakukan dengan cara di-scan.

Tetapi, pada kasus ini, Yova dan timnya jarang menggunakan mesin scanner. ”Lebih banyak saya foto. Karena kondisinya bisa rusak kalau dipaksa menggunakan alat scan,” tuturnya.

Setelah terkumpul, dia membuat menu katalog di dalam aplikasi Pegonizer. Sambil terus menambah jumlah naskah manuskrip di katalog, timnya juga melakukan pengubahan ke format PDF dan teks. Kemudian, dari teks diterjemahkan atau diubah ke huruf Latin.

”Sehingga masyarakat pengguna Pegonizer bisa mempelajari naskah-naskah dengan aksara pegon. Meskipun kurang menguasai cara membaca pegon,” tuturnya. Selain itu, Yova berencana membuka sistem member atau keanggotaan. Jadi, nanti kolektor dari penjuru Indonesia, bahkan luar negeri, bisa berkontribusi mengirim naskah manuskrip dalam bentuk digital.

Dengan cara itu, upaya melestarikan manuskrip beraksara pegon bisa lebih efektif dan cepat. Tanpa dia harus berkeliling ke daerah-daerah. Selain itu, bisa menumbuhkan semangat saling berbagi kepada diri kolektor. Sebab, selama ini koleksi mereka dipajang untuk dibaca-baca sendiri.

Dia mengatakan, aplikasi Pegonizer bakal mewakili Indonesia di lomba ICT tingkat ASEAN. Saat ini tim terus mengebut perbaikan di sana-sini. Beltsazar menerangkan, salah satu perbaikan yang dilakukan saat ini adalah migrasi server. Tim sedang memindahkan arsip manuskrip pegon yang sudah didigitalkan ke server milik kampus UI sehingga bisa lebih aman dan mudah dikontrol.

Dia menuturkan, tim juga terus melakukan digitalisasi naskah-naskah yang menggunakan aksara pegon. Seperti yang dia bawa saat itu berupa kitab berisi doa-doa keselamatan. Dengan semakin banyaknya aksara pegon yang diunggah, pengenalan sistem semakin baik. Masyarakat juga bisa langsung mengetik dari aksara Latin, lalu langsung keluar berupa aksara pegon.

Diwawancarai terpisah, Diaz Nawaksara cukup senang mengetahui mahasiswa UI terlibat dalam proyek pelestarian aksara pegon. Dia mengungkapkan, di Indonesia terdapat sekitar 30 aksara Nusantara. ”Dari semuanya itu, pegon satu-satunya aksara Nusantara yang masih eksis dan banyak digunakan sampai sekarang,” katanya. Dia menegaskan, maksud eksis itu adalah benar-benar digunakan. Bukan sebatas simbolis untuk penulisan nama jalan atau sejenisnya.

Diaz menceritakan, induk aksara Nusantara di Indonesia berasal dari India dan Arab. Aksara Jawa atau dikenal sebagai Hanacaraka itu menginduk ke aksara India. Sementara pegon menginduk ke aksara Arab.

Dia mengatakan, pegon berasal dari pego yang artinya tidak fasih. ”Anak kecil menyebut motor menjadi motoi itu pego,” tuturnya.

Lalu, segala hal yang terkait dengan pego itu disebut pepegoan dan jadilah kata pegon. Bukti tertua penggunaan aksara pegon di Indonesia tercatat pada sampul belakang manuskrip Alquran keluaran 1600 Masehi dan saat ini tersimpan di Belanda.

Meskipun begitu, secara resmi, awal mula penggunaan aksara pegon belum jelas. Ada yang menyebut dibawa Syekh Al Nawawi Al Bantani, Sunan Ampel, maupun Sunan Gunung Djati.

Dia membenarkan bahwa pernah ada kitab Injil yang ditulis menggunakan aksara pegon. Tepatnya pada 1611, ada penerbitan Injil yang menggunakan aksara pegon. Lalu, pada 1616 ada kitab Injil berbahasa Melayu yang ditulis menggunakan aksara Latin.

Secara umum, Diaz mengatakan ada tujuh poin penggunaan aksara pegon. Di antaranya adalah untuk media belajar, memaknai kitab, surat-menyurat, dan iklan. Saat itu iklan rokok, nama hotel, dan sejenisnya menggunakan aksara pegon. Kemudian, aksara pegon digunakan untuk kepentingan birokrasi formal seperti penulisan pada buku nikah keluaran KUA.

Lalu, aksara pegon digunakan sebagai prasasti, surat kabar, sampai peresmian pembangunan tempat ibadah, khususnya masjid. ”Tapi, yang sangat mengherankan bagi saya, aksara pegon pernah dipakai untuk penerbitan Injil di Indonesia,” tuturnya.

Dia mengatakan, digitalisasi aksara pegon sangat penting meskipun secara fisik masih dipakai sampai saat ini. Salah satu manfaat digitalisasi aksara pegon adalah untuk memudahkan proses belajar-mengajar di pesantren. Ke depan, santri tidak perlu menulis manual ketika memaknai kitab. Kegiatan memaknai kitab dengan aksara pegon cukup mengetik lewat komputer atau laptop. (*/c19/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria