Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Perjuangan Tak Mudah Relawan Sekolah Alam, Mengenalkan Angka dan Huruf dengan Dedaunan

izak-Indra Zakaria • 2023-02-13 12:07:41
MENGEJAR MIMPI: Suasana belajar mengajar di Sekolah Alam Melawan, yang berlangsung di tempat terbuka beralaskan terpal dan beratap dedaunan.
MENGEJAR MIMPI: Suasana belajar mengajar di Sekolah Alam Melawan, yang berlangsung di tempat terbuka beralaskan terpal dan beratap dedaunan.

Belasan anak tersenyum lebar melihat para relawan tiba. Senyuman itu dibalas para relawan sembari melambaikan tangan, sebelum memulai Sekolah Alam Melawan.

 

RINAI hujan mengiringi langkah Penjabat (Pj) Kepala Desa Persiapan Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim), Rosliati. Menggunakan tudung biru tua dan membawa kantong plastik yang dipanggul menggunakan sebatang kayu, dia bersama 15 relawan tampak kesulitan ketika langkah mereka dirintangi tanah liat berlumpur.

Sesekali di antara mereka ada yang terpeleset. Kondisi yang tidak memungkinkan itu, tak membuat mereka patah arang untuk tiba di Kampung Melawan, yang terletak 8 kilometer dari tepi jalan Poros Sangatta-Bontang, tepatnya di Kilometer 5.

Belasan anak yang tersenyum lebar menjadi obat lelah ketika mereka tiba di Kampung Melawan. Wanita yang akrab disapa Ros itu pun membalas senyuman sembari melambaikan tangan.

“Ayo bunda kita belajar. Kami siap menimba ilmu,” teriak 13 anak dari segala penjuru. Ya, penggalan lirik lagu berjudul Anak Melawan yang diciptakan oleh salah satu relawan, Syamsiah pada 2020 lalu. Bahkan dinyanyikan setiap hendak mengawali kegiatan mengajar. Ketika itu transfer pengetahuan berlangsung hanya beratap daun pisang, beralaskan tikar seluas 2x2 meter persegi dan menggunakan papan tulis berdiameter kecil.

Berdasarkan data yang dihimpun secara mandiri oleh relawan Melawan, ada 22 anak yang belajar di Sekolah Alam Melawan itu. Terdiri delapan anak laki-laki, 14 perempuan. Sedangkan usianya bervariasi, dari 4-15 tahun. Dikatakan Ros, saat mengajar pihaknya mengelompokkan anak-anak itu menjadi empat gugus.

“Terdiri dari kelompok pendidikan anak usia dini, satu, dua, tiga dan paket. Sebelumnya ada lebih banyak anak yang belajar. Sekarang berkurang, karena ada yang sudah ikut paket juga,” terangnya.

Saat hujan mereda dan matahari telah turun ke arah barat, para relawan pun mengemas perlengkapan menulis, menggambar, yang kerap digunakan saat mengajar selama dua kali dalam sepekan di sana. Aktivitas itu menjadi tahun kedua sejak relawan pengajar Sekolah Alam Melawan dibentuk pada 25 Agustus 2020.

Dalam ingatan Ros, kala itu ia bersama Camat Sangatta Selatan Hasdiah Dohi, menyambangi Kampung Melawan untuk menjembatani PT Indominco Mandiri (IMM), menjelaskan aktivitas pemulihan lingkungan kepada masyarakat di sana. Berupa kegiatan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) menggunakan pendekatan yang disebut sebagai Sapa Warga.

Seiring waktu, pihaknya sekaligus mendata kependudukan di sana. Ia juga menemukan banyak anak nyaris tidak mengenyam pendidikan sama sekali karena pelbagai faktor. Kondisi itu menjadi spirit tersendiri bagi perempuan kelahiran 70-an itu, sehingga akhirnya memutuskan bersedia menjadi pengajar di Sekolah Alam Melawan.

“Saya membayangkan anak saya. Bagaimana kalau anak saya bernasib seperti anak-anak di Melawan. Saya yang masih diberi kesempatan dan kesehatan diajak Mba Nina masuk mengajar di sana,” tuturnya.

Pengajar sekaligus Pj Kades itu terlibat di Sekolah Alam Melawan berdasarkan ajakan Konsultan Rehab DAS PT IMM, Nina Anjania Amban. Nina membantunya mengajari sejumlah anak pada Juni 2020. Sedangkan Nina Anjani Amban, mengungkapkan Januari 2019 lalu adalah kali pertama dia menginjakkan kaki ke wilayah itu. Kedatangannya di sana atas panggilan Balai Taman Nasional Kutai (TNK), untuk memastikan program rehab DAS PT IMM dapat dijalankan.

Diterangkannya, kegiatan itu menargetkan penanaman dua jenis tumbuhan. Seperti tanaman kayu 20 persen yang terdiri dari meranti, pulai, kapur, gaharu, balangeran dan bayur. Adapun bibit buah-buahan 80 persen, seperti cempedak, jambu, durian, nangka serta lengkeng.

“Masing-masing jenisnya ditanam bertahap dan tersebar di 12 blok di atas lahan 3 ribu hektar,” paparnya.

Setahun berlalu, Nina sering kali menginap di kampung itu. Hingga suatu malam di pertengahan 2020 lalu, dia mengetahui beberapa anak di Kampung Melawan tidak bisa membaca, menulis hingga berhitung. Semenjak itu dia memutuskan mengajar pertama kali di Blok 7, yang jarak tempuhnya 23 menit dari Sekolah Alam Melawan.

“Kalau nginap di sini (Blok 7), mereka pagi-pagi jam 6 sudah bangun dan manggil-manggil nama bunda sambil bawa buku,” katanya, mengingat kembali kenangan kala dirinya dibangunkan lima anak yang hendak belajar.

Setiap pertemuan, dia selalu menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Seperti mengenalkan huruf abjad menggunakan dedaunan yang tumbuh di pelataran blok 7, kemudian membelahnya menjadi beberapa bagian kecil. Daun-daun itu kemudian diletakkan pada permukaan tanah yang datar. Masing-masing belahannya disesuaikan untuk membentuk sebuah huruf.

“Begitupun saat berhitung,” ungkapnya. Sesekali dia menggunakan batang tanaman yang memiliki daya lentur untuk memudahkan penyerupaan sebuah angka.

“Jadi cara mengajarnya berbeda. Tidak menggunakan buku tulis. Hanya mengandalkan hasil alam. Menggunakan batang-batang pohon untuk menulis dan dedaunan,” kenangnya.

Dia juga mengibaratkan alam sebagai sebuah rumah yang dibutuhkan seluruh makhluk hidup. Upaya itu dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak di Kampung Melawan.

“Bahwa pentingnya menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan regenerative,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan (Disdik) Kutim, Uud Sudiharjo mengatakan, aktivitas relawan di Sekolah Alam Melawan patut diberikan diapresiasi. Sebab telah sudi menangani masalah pendidikan di kampung itu.

“Terutama para guru dari sejumlah sekolah, yang terlibat menjadi sukarelawan di sana. Kabar ini sudah saya dengan dari beberapa kepala sekolah,” akunya.

Diakuinya, akses pendidikan di sana tidak terjangkau dan keadaan tersebut adalah sebuah masalah yang memerlukan penanganan tersendiri. Apalagi berdasarkan informasi yang diperolehnya, anak-anak di sana memang masih usia sekolah.

“Tapi mereka tidak memperoleh pendidikan secara formal maupun nonformal,” bebernya.

Anak usia sekolah berada pada usia yang seharusnya mengenyam pendidikan. Namun jalur pendidikan formal sulit untuk ditempuh. Kendati demikian, upaya para relawan mengajari membaca, menulis dan berhitung, menjadi bekal bagi anak-anak di kampung itu memperoleh pendidikan nonformal, kemudian mendapatkan ijazah di kemudian hari.

“Makanya kami berkomitmen mendorong pembentukan komunitas di Sekolah Alam Melawan. Sebuah wadah legal, yang dapat menjalankan serangkaian program pendidikan terencana dan terukur. Semoga bidang pendidikan dasar nantinya bisa memberikan pembiayaan untuk program-programnya,” tuturnya. (dq/far)

 

Editor : izak-Indra Zakaria