Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Simposium Perdamaian Tiongkok Dalam Mediasi Konflik Berkepanjangan Israel dan Palestina, Sebatas Retorika?

izak-Indra Zakaria • 2023-10-12 10:23:08
Sumber: Mikhail Adam/JawaPos.com via Canva, Upaya Tiongkok dalam mediasi konflik Israel dan Palestina
Sumber: Mikhail Adam/JawaPos.com via Canva, Upaya Tiongkok dalam mediasi konflik Israel dan Palestina

Tiongkok mulai lebih aktif terlibat dalam mediasi internasional pasca tahun 2000an dan pada dekade 2010 Beijing mulai masuk dan menunjukkan posisinya di kawasan Timur Tengah. 

Pada tahun 2013 Tiongkok pertama kali memajukan proposal perdamaian untuk konflik Israel dan Palestina dan berlanjut dalam  DK PBB, Beijing memasukan kembali simposium perdamaian pada saat 2021 pasca meletus kembali konflik Israel dan Palestina. 

Sudah berbagai upaya mediasi dan perdamaian yang didorong oleh masyarakat internasional namun itu tak membuahkan hasil signifikan. 

AS yang sebagai pemain utama pasca perang dunia kedua di kawasan Timur Tengah terlihat buntu dan kontraproduktif dalam mengurai konflik di kawasan. 

Dengan Tiongkok yang hadir sebagai alternatif di kawasan Timur 

Tengah memunculkan kemungkinan baru tentang yang terjadi dalam konflik Israel dan Palestina. 

Tiongkok yang muncul sebagai kekuatan alternatif pada abad ke-21 dengan kekuatan ekonominya, hadir dengan formulasi dan mendorong corak baru mediasi konflik di kawasan dengan dialog yang konstruktif. 

Pada Mei 2021 dalam pertempuran antara Hamas dan Pemerintah Israel di Sheikh Jarrah memakan korban 254 jiwa, dengan 242 dari Palestina dan 12 orang dari Israel. 

Menyikapi konflik tersebut sebagai pemimpin bergilir DK PBB pada Mei 2021, Tiongkok mengambil sikap yang proaktif dalam upaya damai. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok,  Zhao Lijian menyatakan, "Sejak konflik Israel dan Palestina pecah, Tiongkok mendorong peran sebagai negara besar yang bertanggung jawab dan melaksanakan pekerjaan konstruktif. Sebagai pimpinan bergilir DK PBB, Tiongkok telah memprioritaskan upaya penanganan konflik Israel dan Palestina." 

Upaya Tiongkok berlanjut saat debat terbuka DK PBB, melalui Wang Yi yang saat itu berperan menjadi Menteri Luar Negeri Tiongkok menyodorkan simposium perdamaian.

Tiongkok mengusulkan empat poin dalam simposium perdamaian terkait konflik Israel dan Palestina yang berisikan: 

1. Gencatan senjata dan penghentian kekerasan
2. Pemberian bantuan kemanusiaan 
3. Dukungan internasional yang turut aktif dalam upaya perdamaian 
4. Komitmen solusi dua negara. 

Posisi Tiongkok sebagai mediator cukup ideal dengan posisinya di DK PBB, hubungan diplomatiknya dengan kedua pihak, tidak ada beban sejarah dan sikap anti semit dan pengaruh global yang meningkat. 

Namun, konflik kembali meletus pada Sabtu (09/10/2023) antara Hamas dan Israel dengan skala yang lebih besar. Dilansir Al-Jazeera hingga hari Rabu (11/10/2023) korban meninggal mencapai 2.278 jiwa dengan rincian, 1200 dari Israel dan 1.078 dari Palestina. 

Sejak tawaran simposium perdamaian oleh Tiongkok kondisi Israel dan Palestina masih diselimuti konflik dan sulit mencari titik temu di antara kedua belah pihak. 

Menyikapi konflik yang kembali memanas melalui laman resmi Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, Mao Ning  menyatakan keterangan di  hadapan media di Beijing pada senin (09/10/2023). 

"Mengenai konflik Israel dan Palestina, Tiongkok selalu berpihak pada kesetaraan dan keadilan. Sebagai sahabat Israel dan Palestina, yang kamu harapan adalah kedua negara bisa hidup bersama secara damai. Kunci untuk mencapai hal tersebut terletak pada realisasi solusi dua negara. Hal terpenting saat ini adalah menghentikan pertempuran secepat mungkin, melindungi warga sipil, dan menghindari eskalasi lebih lanjut." 

Terkait posisi Tiongkok di kawasan Timur Tengah, Mao  Ning menyatakan, "Tiongkok menentang peningkatan konflik dan destabilisasi kawasan. Posisi ini konsisten." 

"Kami berharap semua pihak akan menghentikan pertikaian dan memulihkan perdamaian sesegera mungkin, dan kami berharap pihak-pihak terkait di komunitas internasional akan bersama-sama membantu meredakan situasi." Ucap Mao Ning. 

Tiongkok menyatakan perlunya komunitas internasional untuk meredakan situasi dan mendorong perdamaian di Timur Tengah. 

" Komunitas internasional perlu bekerja sama demi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Tiongkok siap bekerja sama dengan negara lain untuk mencapai tujuan tersebut."

"Tiongkok siap untuk tetap berhubungan dengan semua pihak untuk membantu meredakan situasi. Kami akan terus melakukan bagian kami demi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah." Papar Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok tersebut. 

Mao Ning menegaskan sikap Tiongkok yang mengedepankan dialog dalam mengurai konflik.  "Kami selalu percaya bahwa untuk masalah apa pun, dialog dan negosiasi adalah jalan yang akan menghasilkan solusi yang tepat." Pungkasnya. 

Tiongkok bertindak responsif dan berperan aktif dalam konflik Israel dan Palestina. Namun itu belum cukup untuk meredakan ketegangan antara kedua pihak yang terus berulang dan memakan korban. 

Sebagai kekuatan besar dan memiliki pengaruh di kawasan, Tiongkok dihadapkan pada pertanyaan apakah upaya perdamaian yang dilakukan Tiongkok sebagai retorika untuk branding Tiongkok di arena global sebagai penjaga kedamaian dunia. 

Atau tergolong konkret sebagai upaya memajukan perdamaian dalam kendati dihadapkan kompleksitas konflik yang sudah mengakar dalam. Untuk itu diperlukan solidaritas dan upaya komunitas internasional untuk memajukan perdamaian antara Israel dan Palestina. DenganTiongkok dan negara negara lainnya turut mengambil bagian. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara