BALIKPAPAN – Curah hujan di Bumi Etam sesungguhnya sangat besar. Namun, sayang jenis tanah khususnya di Balikpapan termasuk sulit menyerap air. Itu yang membuat air tanah dalam tidak begitu bisa membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai sumber air baku.
Ahli Teknik Pengairan Raymond Valiant mengatakan, Kaltim sebenarnya merupakan lumbung air. Air yang turun dari langit dalam jumlah besar di beberapa titik Kaltim. Bahkan, pada beberapa titik bisa mencapai 3.500 milimeter per tahun. Ini tiga kali curah hujan di Timur Tengah seperti Yordania sampai Palestina.
“Tapi, curah hujan ini tidak bisa begitu maksimal bermanfaat jika tidak bisa ditangkap untuk tertahan di permukaan tanah dan bisa terdistribusi kepada masyarakat,” kata mantan dirut Perum Jasa Tirta I tersebut. Sehingga, air hujan tidak begitu maksimal dapat meresap ke tanah untuk bisa menjadi andalan warga.
Raymond menuturkan, berbicara ketahanan air juga sangat besar bergantung pada konektivitas. Dia melihat, masalah utama yang terjadi Balikpapan dan IKN berada dalam bagian DAS kecil dari seluruh sistem air yang ada. Sementara bagian besarnya adalah Mahakam.
“Tidak mungkin melakukan transfer air jika kita tidak membuka pikiran bahwa air harus dipindahkan dari satu DAS ke DAS lain,” ucap ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Jatim. Kemudian, perubahan iklim turut menjadi tantangan besar bagi Kaltim. Misalnya, ada selisih bulan basah dan bulan kering.
Ketahanan air di Kaltim penting memerhatikan faktor perubahan iklim. Apalagi secara geografis berada dalam khatulistiwa. Hal itu berpengaruh pada aspek pengelolaan air. Dia meyakini, tidak ada jalan lain menghadapi tantangan sumber daya air dengan pendekatan alam.
Dia menegaskan, pengendalian tata ruang di wilayah tangkapan air sangat penting menjaga kelestarian. "Kasus di Kaltim tidak mudah mengendalikan tata ruang. Air hujan tidak bisa meresap ke tanah,” sebutnya. Serta untuk menyimpan air di permukaan tanah membutuhkan infrastruktur.
Jika Bendungan Teritip dan Bendungan Manggar masih kurang, maka perlu komitmen bersama lagi. "Komitmen politik, pendanaan dan partisipasi masyarakat," ujarnya. Raymond mengatakan, bagaimana pun pemerintah harus mampu menciptakan infrastruktur untuk menjamin layanan air.
“Intinya, membangun ketahanan air perlu komitmen politik, keberpihakan pada anggaran, pengelolaan sarana, hingga peran partisipasi masyarakat,” tuturnya. Kendala penyerapan air tanah juga berasal dari faktor cekungan di Kota Beriman.
Berdasarkan peta cekungan air tanah di Balikpapan banyak terdapat di kawasan pesisir. Kuantitasnya sedikit dan kualitas tidak begitu baik. “Karena ada kandungan besi dan minyak. Jadi, air tanah yang bisa digunakan terbatas,” ucap PPK Perencanaan dan Program BWS Kalimantan IV Indrasto Dwicahyo.
Sehingga untuk Balikpapan, BWS Kalimantan lebih banyak membangun bendungan dari Kementerian PUPR sebagai solusi sumber air baku. Saat ini, sudah ada Bendungan Manggar dan Bendungan Teritip. Sedangkan satu lagi dalam proses pembangunan, yakni Embung Aji Raden. (ms/k15)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria