TIBA-TIBA ponsel saya terdengar lagu dengan volume nyaring. Bingung bagaimana menyetopnya. Hampir satu ruangan di lobi salah satu bank di Jalan SA Maulana pasti mendengar.
Bisa saja, nasabah yang ada ingin mendengar lagunya hingga akhir. Ini di kantor bank. Berbicara saja volumenya harus dijaga. Sementara volume ponsel saya full mendengargkan lagu Release Me dinyanyikan Engelbert Humperdinck.
Suasana di luar gedung, kemarin, itu mendung dengan hujan rintik. Suasananya sangat mendukung untuk mendengarkan lagi romantis seperti yang dinyanyikan Engelbert. Sayangnya itu berlangsung di kantor bank yang memang sangat menjaga suasana tenang.
Saya berusaha mematikan, tapi tak tahu bagaimana caranya. Di hadapan saya, petugas customer service (CS) tersenyum. Mungkin dalam hati, bapak ini gaptek. Akhirnya dia berinisiatif membantu menyetop lagunya yang mendekati separuh.
Saya mau bertanya. Apanya yang disentuh sehingga hanya sekali tekan, lagunya tidak terdengar lagi? Malu juga. Dalam hati, harus belajar bagaimana mempelajari fitur-fitur yang ada di beranda depan ponsel.
Jadi ingat peristiwa yang mirip, beberapa tahun lalu. Disaat bulan puasa. Ada kegiatan Salat Tarawih bersama di masjid dalam kompleks kantor bupati. Pada rakaat ke dua. Persis di depan saya ponselnya berbunyi pesan SMS. Sayaaang, baca SMS-nya dong, itu yang terdengar berulang-ulang. Dalam hati, pasti ada yang ngerjain. Konsentrasi terganggu.
Setiap sore sering jumpa dengan pemilik HP bernada dering seperti itu. Pernah sekali waktu, dia asyik minum kopi sekitar pagar halaman taman Sanggam. Saya ingatkan cerita itu lagi. Saya pikir sudah lupa. Maklum, usianya lebih tua sepuluh tahun. Dia tertawa. Auu gaei, siapa jua yang mengerjai diaku, katanya dalam bahasa Banua yang kental.
Saya ke kantor bank itu, ada urusan terkait dengan kartu debit. Sebelum masuk ruang utama, saya jumpa dengan teman saya yang tugasnya di satuan pengamanan. Urusan apa Daeng, kata dia sambil senyum-senyum. Dia itu fotograper sebelum bekerja di kantor bank itu. Keluarga seniman asal Maratua.
Saya sebutkanlah keperluan datang ke kantor bank pagi-pagi. Lalu, dia menunjukkan ke arah kamar ATM dibagian kanan gedung kantor. Ada petugas di dalam yang melayani daeng, kata teman saya.
Masuklah pada antrean ke lima. Ada yang berurusan karena kartunya tertelan. Ada yang karena memencet PIN yang lebih tiga kali salah melulu. Lalu, ada perempuan cantik berbaju hitam baru tiba yang kelihatannya terburu-buru. Saya dulukanlah. Lady first ceritanya. Hehe.
Kantor bank dalam perkembangan teknologinya sekarang. Tidak selalu berhubungan dengan CS-nya. Atau petugasnya. Ada urusan yang dilayani mesin bagi yang bisa swalayan. Bila belum, masih harus dipandu.
Tiba giliran saya, berulang-ulang data saya tidak terbaca. Sidik jari kiri dan sebelah kanan juga tidak terbaca. Tangannya tidak basah pak, kata petugas berbaju putih. Tidak basah, tapi karena kedinginan, ujung jari terlihat berkeriput. Mungkin itu soalnya. Saya pun diarahkan ke SC saja.
Lagi-lagi teman yang bertugas satpam tapi murah senyum, memberikan nomor antrean. Menunggulah saya, sambil mencermati kesibukan di pertengahan bulan Januari. Beberapa menit, saya dipersilahklan ke meja CS setelah ada pegumuman urutan sesuai nomor yang tertulis di kertas kecil.
Karyawatinya cantik berkacamata minus. Mau tahu namanya, tapi tidak terbaca dengan jelas dari name card yang berwarna biru. Biasanya kan, ada nama di sekitar meja kerjanya. Karena sering melayani kasus serupa, dia tidak bertanya lagi. Saya menyodorkan kartu debit KTP dan buku tabungan.
Sejak awal duduk, saya sudah melirik mangkok kecil berisi gula-gula rasa kopi. Mau izin minta, khawatir konsentrasi menginput data bisa terganggu. Ketika dia pamit meinggalkan meja, saya pun memanfaatklan minta gula-gula rasa kopi itu.
Saya pikir, dia pamit ke ruang lain atau ke kamar belakang. Ternyata hanya berdiri dari kursi dan bergeser tak lebih dua meter di belakangnya. Saya pun berfikir ini pasti sudah jadi SOP saat melayani nasabah. Karena urusan data, sedikit memerlukan waktu.
Akhirnya selesai juga setelah mengganti nomor personal indentification number. Selesai pak, bisa langsung digunakan. Dia tersenyum. Saya juga. Memang repot kata saya, kartu debit ini tersimpan di dompet. Potensi patah sangat besar. Ini kasus yang kedua kartu yang sama. Hati-hati betul menyebut patah kartu. Khawatir tesambat patah hati.
Saya pun meninggalkan gedung sambil mengingat-ingat arti lagu Release Me yang tiba-tiba terdengar nyaring dari ponsel saat berhadapan dengan petugas CS yang cantik berkacamata itu. Please release me let me go. Lepaskan aku, biarkan aku pergi. (*/sam)
@cds_daengsikra
Editor : uki-Berau Post