Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Tol Balikpapan-Samarinda; Mengintegrasikan Kalimantan Timur, Membuka Pintu Nusantara

Indra Zakaria • 2024-03-22 21:03:19
MERAJUT KONEKTIVITAS: Panorama Tol Balikpapan-Samarinda tepatnya di dekat gerbang Karang Joang, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Foto: Dok/Fuad-KP)
MERAJUT KONEKTIVITAS: Panorama Tol Balikpapan-Samarinda tepatnya di dekat gerbang Karang Joang, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Foto: Dok/Fuad-KP)

 

Keberadaan Tol Balikpapan-Samarinda tidak hanya sebagai penghubung dua kota besar di Kalimantan Timur, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan IKN Nusantara.

 

BALIKPAPAN – Masih dalam kehangatan sinar mentari pagi, Azhari Hafid tiba di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Dengan langkah pasti, ia keluar dari pintu kedatangan dengan tas laptop di pundaknya.

Pengusaha asal Samarinda yang kini tinggal di Jakarta itu kemudian menuju area parkir di mana rekannya sudah menunggu di atas mobil. Tanpa membuang waktu, ia memasuki kendaraan tersebut dan melanjutkan perjalanan melalui Tol Balikpapan-Samarinda, jalur vital yang menghubungkan dua kota penting di Kalimantan Timur.

Azhari memiliki janji temu dengan sebuah bank di Samarinda pukul 10.00 Wita. Sesampainya di bandara pukul 07.40 Wita, ia memastikan dirinya tidak terlambat sampai di ibu kota provinsi Kaltim itu jika melalui tol yang mulai beroperasi penuh sejak 2021 tersebut.

Menurutnya, kepastian waktu sampai di tempat tujuan, menjadi alasan ia memilih lewat tol. Hal ini sulit didapat ketika melewati jalan antarkota yang sudah ada. Kepadatan kendaraan yang tidak mudah diprediksi, belum lagi jika terjadi sesuatu seperti ban mobil pecah sulit mendapatkan pertolongan. 

“Lewat tol jelas lebih efisien, Balikpapan-Samarinda bisa ditempuh satu hingga satu setengah jam. Sedangkan jalan biasa, bisa sampai tiga jam. Bahkan bisa lebih lama lagi jika di jalan kita bertemu iring-iringan kendaraan besar, itu bisa membuat stres bagi kita yang ingin cepat sampai,” ujar Azhari saat ditemui di Rest Area Jalan Tol Balikpapan-Samarinda.

Baca Juga: Tiga Oknum Polisi Disidang, Tersandung Alat Pendeteksi Miliaran Rupiah

Tol Balikpapan Samarinda merupakan tol pertama yang dibangun di Kalimantan. Dengan membentang 97,3 kilometer melewati kawasan Taman Hutan Raya Bukti Soeharto, jalur ini menawarkan waktu tempuh 90 menit lebih cepat dibandingkan akses bukan tol.

Jalan bebas hambatan ini mulai dibangun 12 Januari 2011 hingga 24 Agustus 2021 dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 9 triliun dan terbagi atas lima seksi. Seksi I ruas Karang Joang – Samboja sepanjang 22,03 Km dan Seksi II ruas Samboja – Muara Jawa sepanjang 30,98 Km. Kemudian pada Seksi III ruas Muara Jawa – Palaran sepanjang 17,50 Km; Seksi IV Palaran – Samarinda sepanjang 17,95 Km; dan Seksi V ruas Karang Joang - Manggar sepanjang 11,09 Km.

Keberadaan Tol Balikpapan-Samarinda tidak hanya memberikan dampak positif bagi pengguna kendaraan pribadi, layanan angkutan distribusi barang juga merasakan demikian. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Balikpapan, Firman Tola, mengatakan bahwa tol sangat membantu mereka yang bergerak di usaha ini. “Ketepatan waktu untuk mengantar barang ke pelanggan, itu yang sangat dirasakan manfaatnya bagi kami,” ujar Firman.

Selain itu, penggunaan tol juga termasuk relatif efisien dalam operasional bisnis mereka. “Tol walaupun berbayar, sebenarnya sedikit lebih hemat. Jika lewat jalan biasa, waktu bagi sopir menyetir ini jadi lebih lama, akibatnya kami harus mengeluarkan biaya tambahan lagi untuk makan, minum, bahan bakar, sampai rokok. Kemudian yang paling penting, faktor safety. Jadi tol ini sangat aman bagi kargo kami,” tambah pimpinan PT Lingkar Cepat Logistik ini.

Pemerhati kebijakan ekonomi Kaltim, Rizal Effendi, menyatakan bahwa Tol Balikpapan-Samarinda selain memperlancar arus manusia dan barang dari satu kota ke kota lain, juga mengubah perilaku masyarakat khususnya di dua kota besar di Kaltim ini yang berdampak pada ekonomi masing-masing wilayah.

“Dengan adanya tol, warga Samarinda menjadi mudah berwisata ke Balikpapan setiap akhir pekan, begitu juga sebaliknya warga Balikpapan juga senang berbelanja di Samarinda. Ini menyebabkan ekonomi kedua kota tumbuh pesat,” ujar Rizal.

Pria yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Balikpapan ini melanjutkan bahwa keberadaan tol memberikan daya tarik investasi, memperbaiki daya saing komoditas, serta menciptakan titik-titik ekonomi baru di Kaltim. “Pada 2022, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat 4,22 persen atau naik dari 2,33 pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan, tentunya ini berkesinambungan dengan mulai beroperasinya Tol Balikpapan-Samarinda secara penuh,” kata Rizal.

MEMBUKA PINTU NUSANTARA

Tidak dapat dimungkiri keberadaan Tol Balikpapan-Samarinda menjadi salah satu alasan Kalimantan Timur dipilih sebagai lokasi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) oleh Presiden Joko Widodo pada 26 Agustus 2019.

Tol ini sebagai modal infrastruktur yang dimiliki Kaltim dan siap menjadi bagian dalam jaringan jalan bebas hambatan menuju IKN Nusantara. Saat meninjau lokasi IKN di Kecamatan Sepaku, Kecamatan Penajam Paser Utara, pada 17 Desember 2019, Presiden Joko Widodo sempat mencicipi tol ini sekaligus meresmikan penggunaan Seksi II, III, dan IV. “Ternyata infrastruktur dasar jalan bagi IKN sudah ada. Ini memudahkan,” kata Presiden Joko Widodo ketika itu.

Esensialnya Tol Balikpapan-Samarinda dalam mendukung pembangunan IKN ditegaskan kembali oleh Presiden Joko Widodo saat kunjungan berikutnya sekaligus meresmikan Seksi I dan V pada 24 Agustus 2021. Bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Joko Widodo melihat bakal sodetan yang akan menghubungkan tol ini ke Kawasan Inti Pusat Pemerintah (KIPP) IKN dan diharapkan menyesuaikan konsep Smart Forest City yang diusung pemerintah.

“Tol IKN yang dibangun akan mempersingkat waktu tempuh dari Balikpapan ke KIPP IKN yang semula melalui Tol Balikpapan-Samarinda lewat pintu Samboja, kemudian lanjut melalui Lintas Sepaku yang sebelumnya memakan waktu 2 jam 15 menit dengan jarak 95 km, akan terpangkas menjadi 40 menit dengan jarak 57 km,” tambah Kepala Otorita IKN Bambang Susantono dalam dialog daring bersama media belum lama ini. 

Direktur PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS) Muhammad Taufiq mengatakan, keberadaan jalan tol yang dikelola pihaknya terus mendapatkan respons positif dari masyarakat dari tahun ke tahun, terlebih dengan adanya agenda penetapan IKN Nusantara di Kaltim.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan lalu lintas harian di mana jalan ini sejak dibuka sebagian pada 2019, untuk pintu Samboja menuju Palaran dan Jembatan Mahkota II (Samarinda), dilewati sekitar 2.000 kendaraan per hari. Kemudian pada tahun berikutnya menjadi 3.000 kendaraan per hari.

“Setelah pandemi Covid-19 yang menggunakan tol Balikpapan-Samarinda justru meningkat menjadi 5.000 kendaraan per hari. Kemudian saat tol beroperasi penuh tahun 2021 melonjak menjadi 8.000 per hari, dan 8.500 pada tahun berikutnya. Selanjutnya, 2023 tumbuh hingga 9.000 kendaraan per hari, dan tahun ini rata-rata 11.500 kendaraan per hari,” jelas Muhammad Taufiq bersama Manajer SDM dan Umum Achmari kepada Kaltim Post.

Hal yang cukup mengesankan adalah meskipun PT JBS memberlakukan penyesuaian tarif tol pada 26 April 2023 namun jumlah kendaraan yang menggunakan Tol Balikpapan-Samarinda terus tumbuh. Misalnya untuk golongan I yang dari tarif semula Rp 125.500 menjadi Rp 146.500 (Manggar-Jembatan Mahkota 2) tetap mendominasi pengguna jalur bebas hambatan ini. Padahal tarif tol ini disebut-sebut sebagai yang termahal di Indonesia.

“Kendaraan golongan I masih mendominasi pengguna jalan tol dengan persentase 85 persen, diikuti golongan II untuk truk angkutan barang yang hampir sepuluh persen,” tegasnya.

Dari observasi yang dilakukan PT JBS dengan akademisi, lanjut Achmari, ternyata tol Balikpapan-Samarinda tetap diminati kendati tarifnya naik karena adanya fasilitas yang mendukung seperti kawasan rest area yang semakin lengkap dan SPBU.

“Orang-orang rupanya senang lewat tol karena mereka bisa dengan mudah membeli pertalite. Nah di beberapa kota di Kaltim, pertalite memang mulai dibatasi. Selain itu, di dua rest area kami itu sudah ada masjid, minimarket, dan rumah makan sehingga pengguna jalan semakin nyaman,” tambahnya.

Menatap masa depan, PT JBS harus bersiap menghadapi berbagai tantangan, termasuk peluang untuk mengembangkan jaringan Tol Balikpapan-Samarinda hingga Bontang serta mengoperasikan Tol IKN. Dengan demikian, peran Tol Balikpapan-Samarinda tidak sekadar merajut konektivitas kota-kota di Kaltim tetapi juga tulang punggung dalam jaringan yang menghubungkan dengan IKN Nusantara.

“Berdasarkan rencana pemerintah Tol Balikpapan-Samarinda akan terhubung dengan Tol IKN. Di mana pada ruas Kilometer 4 akan terhubung dengan tol menuju Bandara Sepinggan Balikpapan, dan ruas Kilometer 8 terhubung langsung ke IKN. Jika Jasa Marga dipercaya sebagai operator tol IKN ini oleh pemerintah, maka kami siap untuk melaksanakan tugas tersebut dengan memberi pelayanan yang maksimal, yang berarti tidak hanya untuk pengguna jalan tol di Kaltim, tetapi juga bagi seluruh masyarakat dari seluruh negeri yang akan bermobilisasi ke IKN dan sebaliknya,” pungkas Achmari.(tom2)

 
Editor : Indra Zakaria
#Tol Balikpapan Samarinda