Belanda agaknya belum ikhlas Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Kurun 1945–1949, Negeri Kincir Angin itu melakukan agresi militer di Indonesia. Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi salah satu incaran karena punya sumber daya alam melimpah.
HARI berbilang pekan masyarakat Indonesia larut dalam sukacita kemerdekaan. Ratusan tahun dalam belenggu penjajah, kata merdeka akhirnya berkumandang pada 17 Agustus 1945. Lantas menyebar luas ke pelosok negeri. Di tengah euforia itu, penjajah yang tak rela datang lagi. Hasrat menguasai belum hilang. Belanda yang kala itu beralih-rupa dengan nama NICA (Netherland Indies Civil Administration) membonceng pasukan Sekutu selaku pemenang Perang Asia Timur Raya.
Dalam catatan Akhmad Iqbal lewat Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia (2010, hal 139) pasukan Sekutu dan NICA mendarat di Sabang, Aceh, pada 23 Agustus 1945. Selanjutnya, mereka tiba di Jakarta 15 September 1945. Benar saja. Selain membantu Sekutu untuk melucuti tentara Jepang yang tersisa, NICA di bawah pimpinan Van Mook atas perintah Kerajaan Belanda membawa agenda lain.
Said Efendi dan B Doloksaribu dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945–1950 (2005, hal 298) menyebut Van Mook bertugas menjalankan pidato Ratu Wilhelmina terkait staatkundige concept atau konsepsi kenegaraan di Indonesia.
Pidato pada 6 Desember 1942 melalui siaran radio itu menyebarkan soal pembentukan sebuah persemakmuran antara Kerajaan Belanda dan Hindia (Indonesia) di bawah naungan Kerajaan Belanda. Harapan itu tentu tak berbuah manis. Van Mook menelan pil pahit. Respons rakyat Indonesia sangat berbeda. Anggapan ada warga Indonesia yang ingin kembali kepada Belanda itu hanya isapan jempol belaka. Wajar saja sebab Indonesia kini sudah menjadi negara berdaulat. Punya tatanan pemerintahan yang berfungsi nyata. Serta didukung puluhan juta rakyat yang siap mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan.
Usaha penolakan terhadap penjajah sudah menyebar ke berbagai daerah semenjak kata merdeka diproklamasikan Soekarno-Hatta, namun jauh sebelum itu era kebangkitan nasional lebih dulu memulai pada 1908. Tetapi Van Mook tetap tidak rela kehilangan wilayah jajahan yang dulu menghidupi Belanda selama beratus-ratus tahun lamanya. Dia pun mempersiapkan serangan serentak untuk menduduki wilayah-wilayah vital yang nantinya disebut agresi militer Belanda. Dibagi ke dalam dua babak, 1947 dan 1948.
Belanda merasa berhak menguasai kembali wilayah bekas jajahannya meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan. Walaupun kata Suherly dalam Sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia (1971 hal, 8) berdasarkan aturan hukum yang berlaku (hukum internasional) atau de jure, pendudukan suatu negara dalam perang memang tidaklah mengubah kedudukan hukum wilayah yang (sebelumnya) diduduki. Itu sebabnya, Belanda sudah bersepakat dengan Sekutu, yakni Inggris, melalui Civil Affairs Agreement yang digelar di Chequers, dekat London, pada 24 Agustus 1945. Sepekan setelah proklamasi kemerdekaan RI. Dalam kesepakatan itu, Inggris yang akan mengurusi tawanan perang dan melucuti tentara Jepang memperbolehkan Belanda (NICA) ikut serta untuk menduduki wilayah Indonesia, terutama bagian barat. Sementara itu, untuk wilayah Indonesia bagian timur, Belanda akan masuk bersama pasukan Australia yang merupakan sekutu setia Inggris, dan selanjutnya menerima kekuasaan atas kawasan tersebut. Dan Inggris berjanji menyerahkan wilayah Indonesia kepada Belanda pada 30 November 1945.
Berdasarkan risalah eksponen Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) bersama Jarahdam IX/Mulawarman dalam Palagan Perebutan Kota Minyak Sanga-Sanga (1982, hal 87) pada 11 September 1945 tepatnya Selasa tengah hari, pasukan Australia dan dua perwira NICA, de Boon dan Van Hello, yang bertugas mengumpulkan tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) serta mencatat sumur-sumur minyak yang berpotensi. Meski demikian, kepentingan lain serdadu Belanda itu ialah mengawasi aktivitas politik warga Sangasanga.
Berbeda dengan Negeri Kincir Angin, Australia menjalin persahabatan dengan warga sekitar. Bahkan, Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD) pun dibentuk atas izin wakil komandan pasukan Australia (hal, 88). Meski demikian, BPPD tak bersifat Jawa sentries. Di dalamnya juga terdapat anggota dari daerah lain. Seperti Sulawesi, Manado, Ambon, Maluku, dan Banjar. “Bahkan, waktu itu kami diperkenankan mengibarkan Bendera Merah Putih dan memakai lencana merah putih,” ucap Sujoko, veteran Perang Sangasanga saat ditemui Kaltim Post, Selasa Pekan lalu di Sangasanga.
Dalam hitungan bulan BPPD tadi berubah menjadi badan sosial sekaligus perjuangan yang memberikan informasi kemerdekaan Indonesia kepada warga sekitar. Tak hanya itu, organisasi tersebut menjalin kerja sama baik dengan tentara Australia lewat kesenian dan olahraga (hal, 91). Bahkan, dalam Palagan Perebutan Kota Minyak Sanga-Sanga juga disebutkan jika BPPD adakan pelatihan taktik perang, penggunaan senjata hingga lempar granat kepada warga yang berpotensi menjadi pejuang.
“Persiapan kalau Belanda kembali lagi,” kata Joko, sapaan karibnya.
Sayangnya kesenangan tersebut berakhir. Setelah tentara Australia kembali ke negaranya pada 17 Desember 1945, NICA mulai melancarkan aksinya. Jelang Tahun Baru 1945, dini hari Belanda mengadakan pembersihan. Markas BPPD di distrik IV, V, VI dan VII dikepung.
“Ratusan orang ditangkap dan diperiksa. Yang saya ingat itu ada Soekasmo, Soedirin, Muitimbran, Jakob, Supardi, dan Basuki,” lanjut Joko. Kala itu dia juga turut dalam pemeriksaan tersebut.
Sebenarnya dari ratusan warga yang diperiksa mengerucut dari 28 nama menjadi 16. Nama-nama yang disebutkan oleh Joko sebagian besar masuk 16 orang incaran NICA. Mereka pun diasingkan ke Balikpapan lalu dipaksa untuk setia dengan Belanda. Meskipun demikian tetap saja, ada yang kembali ke Sangasanga seperti Soekasmo, Margono, Supardi, Basuki, dan Ahmandun. Mereka inilah yang membentuk Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI).
“Organisasi itu merupakan gabungan dari badan-badan perjuangan di Sangasanga. Kami melakukan gerakan bawah tanah sebab intelijen serdadu KNIL ada di mana-mana, jadi harus waspada,” katanya.
Walau demikian, ada saja tentara KNIL yang simpati dengan perjuangan rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, sebagian besar tentara Hindia Belanda itu terdiri berbagai etnis. Mulai dari Jawa, Minahasa, Ambon, dan lainnya yang berada dalam formasi sebagai serdadu-serdadu rendahan. Hanya kalangan perwira terdiri dari orang-orang Belanda.
Para pejuang tersebut membagi diri menjadi 20 kelompok. “Saya masuk dalam kelompok Kampung Jawa,” tambahnya.
BPRI pun sibuk membangun simpul-simpul gerakan. Menyelinap di sela-sela intaian kempetai (polisi Jepang, yang sangat terkenal kekejamannya pada Perang Dunia II dan endusan mata-mata, mengabaikan risiko yang tidak main-main yakni kehilangan nyawa. Usaha sabotase paling terkenal ialah pembakaran kilang minyak milik Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Distrik VI seluas 15 hektare dan selama setengah bulan Belanda kepayahan dalam memadamkannya.
Tak sampai di situ. Kapal tongkang 202 bermuatan minyak juga ikut dibakar (Palagan Perebutan Kota Minyak Sanga-Sanga, 1982, hal 104). Pemberontakan tersebut tentu membawa kerugian bagi Belanda, karenanya pengamanan pun diperketat.
MELETUSNYA PEMBERONTAKAN
Gerakan bawah tanah BPRI akhirnya memuncak. Pada 31 Agustus 1946, gaung perebutan Sangasanga dari tangan Belanda membuncah. Alasannya saat itu merupakan hari kelahiran Ratu Wilhelmina dan diperkirakan BPM libur dan segenap orang Belanda pesta. Sayangnya, rencana itu gagal lantaran terendus lebih dulu. Rencana pemberontakan selanjutnya ialah saat Natal 1946 kala warga Belanda ibadah di gereja. Saat itulah diadakan penyerangan di tangsi Belanda dan tempat-tempat strategis lain. Sayangnya, perintah mendadak menyapa, Letnan Kisberry, komandan KNIL meminta regu Budiyono yang juga anggota BPRI menyusuri kawasan Handil sebab diterima informasi Tentara Republik Indonesia (TRI) menumpang perahu warga.
Pertengahan Januari, Herman Runturambi, bekas polisi Belanda bersama tujuh anak buahnya datang ke Sangasanga setelah sebelumnya 10 hari di Bantuas, Palaran (hal, 115).
“Herman sendiri disebut-sebut akan membantu perjuangan di Sangasanga,” terang Joko.
Dalam bukunya Dari Jaitan Layar Sampai Tepian Pandan (2018, hal 146–147), sejarawan Kota Tepian, Muhammad Sarip menyebut, Herman bersembunyi di ladang tengah hutan yang merupakan tempat persembunyian anggota BPRI, Sutjipto. “Dialah yang menyimpan dokumen rahasia berisikan nama-nama pejuang lengkap dengan cap darah masing-masing,” timpal Joko.
Aktivitas Herman terendus mata-mata Belanda dan dalam waktu singkat persembunyian Sutjipto diketahui. Dia pun mati di ujung bayonet. Walhasil, surat penting jatuh ke tangan Belanda.
Rencana lainnya ialah pada 1 Januari 1947. Saat itu, warga Belanda akan sibuk pesta tahun baru dan paginya di gereja. Momen yang pas untuk memulai pemberontakan. Jelang sore sebelum rencana dimulai, raungan kapal yang membawa pasukan KNIL pimpinan Van Dijk kembali menggagalkan pertempuran.
“Yang membuat waswas ialah nama-nama yang tercantum dalam dokumen tersebut. Karena itu sebelum Belanda mulai bergerak BPRI pun berencana adakan pemberontakan pada 26 Januari 1947,” sebut Joko. Pada saat itu yang digempur duluan ialah BPM dan yang memimpin saat itu adalah Soekasmo dari BPRI dibantu Boedijo dari KNIL yang mengikat janji perjuangan dengan BPRI.
*
Pada 27 Januari pukul lima, ketika pagi masih buta, si jago di belakang rumah berkokok memaksa Joko bangun dari tidurnya. Sambil berkesah dan menguap, menggeliat, dan menggaruk diri. Maklum semalam dia sukar tidur, sebab paginya pemberontakan siap dilakukan setelah gagal berkali-kali. Setelah mencuci muka dan mengambil wudu, dia beranjak dari tilam lantas menunaikan ibadahnya. Setelah itu, masing-masing kelompok dari berbagai distrik berkumpul.
Mereka kemudian dibagikan senjata, tapi ada juga yang hanya dapatkan bayonet. Sebagian besar senjata yang digunakan ialah bekas peninggalan Jepang dan diambil diam-diam dari KNIL, seperti arisaka, M1 garand, owen, sten gun, dan rifle. “Waktu itu kami berjalan dari rumah masing-masing. Sebenarnya sedikit waswas, sebab kiri-kanan belum tentu teman, boleh jadi mata-mata. Namun, ada tanda yang disepakati yakni melipat salah satu dari bagian baju, di mana saja. Itu yang jadi pegangan kami saat itu,” kisah kakek 15 cucu tersebut.
Sebenarnya, kata Sarip, dalam Dari Jaitan Layar Sampai Tepian Pandan (2018, hal 147) aksi dimulai pada 04.30 saat pasukan utama menyerang tangsi Belanda. Dan dalam waktu singkat seluruh kekuatan pihak penjajah bisa dibendung karena bantuan dari kelompok-kelompok dari berbagai distrik. Saat itu juga bendera Belanda, merah, putih, dan biru diturunkan lalu bagian birunya dirobek lantas dikibarkan kembali. “Waktu itu yang merobek ialah La Hasan,” beber Joko.
Joko menerangkan, sebelum aksi dimulai pihaknya memang sempat berunding lantas membagi pertahanan dari muara Sangasanga hingga tangsi Belanda. Waktu itu, Joko dapat jatah jaga di bagian pertahanan pertama, yaitu muara. “Jadi, saya tahu benar siapa yang merobek bendera waktu itu di kantor douane (bea cukai),” tegasnya.
Selama tiga jam situasi aman terkendali, namun aksi tembak-menembak antara Belanda dan pasukan pejuang Sangasanga kembali terjadi di sekitar muara. Saat itu polisi Belanda datang dengan kapal zaza. Tapi sejam kemudian mereka mengundurkan diri. “Saat itu bendera bekibar selama tiga hari. Rasanya senang sekali dan bangga bisa mempertahankan,” kenangnya.
Sehari setelahnya pasukan Belanda mencoba menyerang kembali pada pukul delapan pagi. Selama 16 jam pertempuran berlangsung, pasukan di muara sudah mundur. Kala itu Joko sudah tak bertugas di bagian pertahanan pertama. Senada dengan Joko, Ketua Veteran Sangasanga Restu Paiman juga tak ada di muara ketika Belanda menggempur pertahanan.
“Waktu itu saya dapat tugas mengambil amunisi bersama beberapa rekan yang lain. Namun sesampainya di Louise dan Tanjung Priuk, kami diminta bertahan,” cerita Paiman yang juga turut berjuang kala itu. Jarak dari pertahanan kedua ke muara hanya 6 kilometer.
Sayangnya, saat itu pejuang kemerdekaan terkena taktik dari Belanda. Pagi hari, kapal Fregat Zeerend berlabuh di Muara Sangasanga dengan Bendera Merah Putih.Warga segera menyapa mereka namun yang didapat justru muntahan peluru. Perlahan-lahan serdadu Ratu Wilhemina semakin banyak, apalagi setelah Kapal Pemburu Semeru bersama dua landing craftank berlabuh. Selama delapan jam pasukan Sangasanga adu peluru dengan tentara Belanda (hal, 148).
“Kami tercerai berai. Saya waktu lari ke hutan,” sambut Paiman. Sementara Joko juga bersembunyi, lalu kembali ke rumah. Di rumah orangtuanya menyambut. Dia disangka sudah gugur dalam pertempuran. Walau demikian, KNIL melakukan pembersihan, Joko tak luput dari penangkapan. Bersama rekan lainnya dia dijemur di aspal panas sementara Paiman lolos dari pencarian sebab tak ada pasukan yang mau ke hutan. “Mereka lebih banyak sweeping di kota,” tambahnya. Ketika keadaan aman setelah beberapa bulan bersembunyi barulah Paiman dan kawan-kawannya keluar.
HARAPAN YANG MENGUAP
Baik Paiman dan Joko sama-sama sedih melihat keadaan Sangasanga. Dari dulu hingga kini, selalu jadi rebutan karena sumber daya alamnya. Dulu minyak sekarang batu bara juga turut mencuri perhatian. Sama-sama memberikan keuntungan bagi pengeruk namun daerah yang menjadi lokasi tambang tak berkembang. “Minimal ada pembangunan. Dulu HM Ardans putra Sangasanga yang merupakan gubernur Kaltim sempat mewacanakan pembentukan Sangasanga sebagai kota wisata juang. Namun sekarang belum ada aksi lanjutan,” sebut Joko. Dia hanya berharap, Sangasanga maju bukan sebaliknya.
Sementara itu, Paiman juga sepakat pemerintah harus semakin memerhatikan Sangasanga. Sebab, sumbangannya begitu besar bagi pemerintah dari sumber daya alamnya. “Perihatin saja melihatnya,” terangnya.
Ditemui terpisah, Sejarawan Samarinda, Sarip menyebut sudah semestinya bangsa yang besar mencintai sejarahnya. Mengapa demikian? Karena dari situ masyarakat bisa menyadari betapa susahnya mendapatkan kemerdekaan, banyak warga Indonesia jadi korban. “Namun, sebagian warga tak menyadari itu. Jika dibiarkan maka masyarakat Indonesia bisa gampang diadu domba dan sesama bangsa sendiri bisa saling bunuh,” tegasnya.
Itu sebab, kata dia, pentingnya mengenang sejarah demi menentukan masa depan dengan semangat nasionalisme. Sejarah bukan usang namun intisari di dalamnya. “Perjuangan demi bebas dari penjajah itu tak sebentar. Setidaknya itu yang bisa jadi bahan renungan,” sebutnya.
SIMALAKAMA
Pertambangan bagai buah simalakama. Itu yang dirasakan Camat Sangasanga Gunawan. Dia mengatakan, Sangasanga dihuni sekitar 19 ribu jiwa. Kebanyakan, penduduk Sangasanga adalah karyawan tambang batu bara dan minyak. Ada pula yang berdagang, bertani, nelayan, hingga di perkebunan sawit. Jadi, saat ini masyarakat pun banyak bergantung pada pertambangan.
"Tetapi, belakangan ini masyarakat mulai tergerak. Soalnya tambang juga enggak selamanya. Jadi, pelan-pelan mau beralih," kata Gunawan.
Saat ini, sektor pertanian, perikanan, dan peternakan pun mulai diberdayakan. Sehingga, masyarakat bisa beralih dari kebergantungan tambang. Selain itu, dia berharap, masyarakat tak menjual lahannya untuk tambang batu bara. Apalagi, menurut dia, sektor-sektor pertanian, perikanan, dan peternakan kansnya cukup baik di Sangasanga
Usaha untuk membuat Sangasanga menjadi kota wisata juang memang sedang dikembangkan. Kata dia, menemukan situs sejarah hingga cagar budaya juga tak payah. Baru memasuki Sangasanga dari arah Samarinda, selepas Jembatan Sangasanga, di sebelah kiri ada situs Gunung Selendang beserta museum kecil di dalamnya.
"Baru didirikan, diresmikan bersamaan dengan peringatan Merah Putih Sangasanga pada 27 Januari ini," terang Camat Sangasanga Gunawan.
Dia mengatakan, dulu Gunung Selendang ditemukan makam-makam kuno dan benda-benda antik. Seperti keramik dan sebagainya.
Tak cuma Situs Gunung Selendang. Dari situs ini, Anda bisa berjalan kaki atau menggunakan motor melewati jalan kecil menuju bawah jembatan. Tak jauh dari bawah jembatan, ada penjara eks kolonial. Penjara ini pun kerap disebut sebagai penjara pertama di Kaltim dan telah dijadikan cagar budaya.
Ada enam pintu penjara, dengan masing-masing kamar memiliki luas 1,2x2,1 meter. Penjara ini menghadap ke sungai dan jadi saksi perjuangan rakyat Sangasanga. Kini penjara tampak terawat, hanya sepi. Anda bisa melanjutkan kunjungan dengan menuju tugu pembantaian Sangasanga. Tempat yang jadi saksi, pilunya perjuangan mencapai merdeka.
Pedihnya mencapai merdeka ini, didokumentasikan dengan kegiatan tapak tilas, tiap peringatan perjuangan Merah Putih Sangasanga. Puluhan kelompok akan bergabung, berjalan kaki belasan kilometer layaknya rute para pejuang dahulu. Tahun ini, sekitar 80 regu turut terlibat. Berasal dari aneka kelompok, komunitas, dan organisasi. Mereka datang tak hanya dari Sangasanga. Ada dari wilayah Kukar lainnya, Samarinda, hingga Balikpapan.
"Memang acara ini lingkupnya se-Kaltim. Tahun ini, pesertanya agak kita batasi," imbuh Gunawan.
Lelaki berkacamata ini mengatakan, rangkaian acara ini sekaligus mengenalkan wisata sejarah perjuangan di Sangasanga. Tak hanya di kawasan pusat kota. "Seperti gua-gua Jepang. Itu banyak di kawasan pinggiran," sebutnya.
Di perkotaan Sangasanga pun masih banyak terdapat bangunan peninggalan zaman dulu. Maka dari itu, dengan acara peringatan, pihaknya mengaku tak sekadar menyasar wisatawan masyarakat. Tetapi, juga mengedukasi masyarakat soal perjuangan. (tim kp)
TIM LIPUTAN
- YUDA ALMERIO (koordinator)
- NOFIYATUL CHALIMAH
- MUHAMMAD RIFQI HIDAYATULLAH
EDITOR
- FAROQ ZAMZAMI