Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Target Selesai Setahun, Berdayakan Siswa SMK Rakit Lampu

octa-Octa • Jumat, 1 Februari 2019 - 16:21 WIB

Masih banyak warga PPU yang bergelap-gelapan saat malam. Bupati Abdul Gafur Mas’ud  pun tak hanya prihatin. Tetapi langsung membagikan penerangan non-PLN. Untuk seluruh masyarakat Benuo Taka. Yang belum menikmati listrik.

RIKIP AGUSTANI, Penajam

WAJAH Masrifah semringah. Rumah kayu yang ditempati bersama suaminya Abdul Latif dan dua anaknya kini terang benderang. Berkat lampu penerangan non-PLN, bantuan Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud.

Masrifah sudah tiga puluh delapan tahun hidup tanpa listrik. Di rumahnya, di RT 04 Kelurahan Lawelawe, Kecamatan Penajam, PPU. Sejak 1981, setiap malam, bermodal pelita berbahan bakar solar dia menerangi rumahnya. Pelita yang setia menemani dua anaknya belajar saat malam.

“Dulu pernah mengajukan bantuan (pemasangan listrik) ke RT dan lurah. Tapi enggak ada yang bantu, selain bupati yang sekarang,” ungkap perempuan 50 tahun itu.

Di kawasan itu, Masrifah tidak sendirian. Ada tiga rumah lainnya yang senasib. Dia pun bersyukur, bantuan lampu penerangan non-PLN ini bisa menerangi rumahnya. Sehingga tak perlu menggunakan lampu tembok lagi.

“Jadi anak-anak enggak usah pakai lampu tembok (lampu pelita) lagi kalau mau belajar,” girang perempuan berkerudung itu.

Program bantuan lampu penerangan non-PLN ini merupakan keinginan bupati PPU yang prihatin. Melihat masih ada warga yang belum dapat menikmati listrik. Bahkan hingga puluhan tahun, seperti Masrifah.

Melalui program “PPU Bersinar”, bupati termuda di PPU ini menginginkan seluruh warga PPU bisa menikmati penerangan di rumahnya pada malam hari. Terlebih, lampu yang menggunakan energi listrik dari aki itu merupakan rakitan siswa SMK 2 PPU.

Sebelum berkunjung ke rumah Masrifah, Rabu (30/1) sore, Abdul Gafur Mas’ud meninjau proses perakitan lampu penerangan di SMK 2 PPU. Di sana, suami Risna itu menyaksikan langsung tangan terampil para pelajar merakit lampu penerangan non-PLN ini.

Nantinya, lampu-lampu itu disebar ke rumah warga yang belum mendapat penerangan listrik PLN. Di sela kunjungan itu, ayah lima anak tersebut menerangkan keunggulan lampu. Hanya menggunakan sumber listrik dari aki, bisa digunakan untuk menerangi lima lampu. Aki yang digunakan pun bisa digunakan untuk satu bulan. Dengan masa isi ulang tiga jam.

“Satu rumah akan kami berikan satu aki dan lima lampu beserta instalasinya. Kami berikan secara gratis," kata Abdul Gafur Mas’ud.

Program “PPU Bersinar” ini diklaimnya tak menggunakan APBD. Namun, bantuan tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR)dari sejumlah perusahaan yang bermitra dengan Pemkab PPU. Melalui dana tersebut, akan digunakan untuk pengadaan satu lampu LED yang membutuhkan biaya Rp 1,5 juta.

Abdul Gafur Mas’ud pun menargetkan dalam satu tahun, ada tiga ribu warga yang belum teraliri listrik bisa menikmati program ini. “Makanya Senin (4/2) nanti, saya mengumpulkan kades dan lurah di kantor camat untuk mendata warga yang betul-betul belum teraliri listrik PLN. Sehingga dalam setahun bisa diselesaikan,” janjinya.

Usai menyaksikan perakitan lampu penerangan non-PLN itu, dia mengajak seluruh unsur muspida menyaksikan manfaat lampu tersebut. Dengan mengunjungi rumah Masrifah. Bersama Kapolres AKBP Sabil Umar, Dandim 0913 PPU Letkol Mahmud, Kajari Darfiah, Kepala PN Penajam Anteng Supriyo, serta Sekda Tohar.

Untuk mengakses rumah tersebut tidaklah mudah. Rombongan harus melalui jalan tanah sepanjang 2 kilometer. Perjalanan pun minim penerangan. Hanya bermodal lampu kendaraan. Setiba di rumah Masrifah, rombongan disambut hangat. Obrolan santai sempat terjalin hanya diterangi lampu tembok.

Setelahnya secara simbolis, Abdul Gafur Mas’ud mematikan lampu pelita itu. Untuk selanjutnya menyalakan lampu penerangan non-PLN. Diikuti sejumlah muspida, seperti dandim dan kapolres.

Sontak Masrifah langsung memeluk bupati dan berterima kasih atas bantuan tersebut. Sembari meneteskan air mata. Setelahnya, dia mengecek seluruh lampu yang telah dipasang di rumah Masrifah. Hingga di dapurnya.

“Kami ingin menuntaskan masalah ini, hingga satu tahun ke depan. Karena di Penajam, ada beberapa rumah masih di tengah kota, yang belum teraliri listrik. Sambil menunggu, rumahnya teraliri listrik PLN, kami berikan solusi seperti ini,” tandas ketua DPC Partai Demokrat Kota Balikpapan itu. (adv/dwi/k16) 

Editor : octa-Octa