Tahun Baru Imlek atauTahun Baru Tiongkok menjadi perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Tak terkecuali di Bumi Batiwakkal.
DAYAT, Tanjung Redeb
IMLEK dimulai pada penanggalan pertama Tionghoa dan berakhir dengan perayaan Cap Gomeh pada tanggal kelima belas. Malam tahun baru Imlek sendiri dikenal dengan sebagai Chuxi yang berarti malam pergantian tahun.
Pada tahun 2019 ini masyarakat Tionghoa akan merayakan pergantian tahun dari 2569 ke 2570, dengan shio Babi Tanah.
Dalam budaya Tiongkok, babi adalah simbol kekayaan, wajahnya yang gemuk dan telinga yang besar adalah tanda keberuntungan. Sementara di astrologi Tiongkok, shio babi memiliki karakteristik energik dan selalu antusias, bahkan untuk pekerjaan yang membosankan.
“Perayaan Imlek ini merupakan momen berkumpul bersama keluarga dan puncaknya pada pukul 00.00 Wita,” ujar Suhaidi Wiyono selaku ketua Kelenteng Tri Dharma, Senin (4/2).
Ditambahkannya, Imlek di 2019 dirayakan pada 5 Februari hari ini. Dan seperti biasanya sehari sebelum perayaan, bagi etnis Tionghoa adalah suatu keharusan untuk pemujaan kepada leluhur, maka dari itu para anggota keluarga akan berkumpul ke rumah keluarga yang memelihara Lingwei (Meja Abu) leluhur untuk bersembahyang sebagai bentuk penghormatan dan sebagai tanda balas budi.
“Pada Cap Gomeh tanggal 15 Imlek, umat melakukan sembahyang penutupan tahun baru pada saat Shien Si (15.00 – 17.00 Wita) dan Cu Si (23.00-01.00 Wita), upacara sembahyang ini dengan menggunakan Thiam Hio atau sembahyang Gwan Siau atau sembahyang kepada Tuhan adalah wajib dilakukan setiap pagi dan malam hari pada tanggal 1 dan 15 Imlek, serta hari-hari lainnya,” tambahnya.
Pria yang kerap disapa Guan Hay ini juga menuturkan, hal wajib yang disedikan di rumah untuk menyambut keluarga adalah kue Keranjang. Kue Keranjang biasa disebut Nian Gao, nama tersebut didapat dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang.
Kue keranjang jadi kue tahunan, hal ini disebabkan hanya diproduksi menjelang Imlek setiap tahunnya. Nian Gao bahasa mandarin berarti Nian adalah Tahun dan Gao adalah Kue. Oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi, makin tinggi susunan kue, bermakna peningkatan dalam rezeki.
“Kalau zaman dulu, semakin tinggi kuenya maka menandakan kemakmuran pemilik rumah dan biasanya disusun menggunakan mangkok merah,” tuturnya.
Untuk pemasangan lampion sudah ada sejak zaman Dinasti Xi Han yang berlangsung sekitar abad ke-3 masehi di dataran Tiongkok, seiring berjalannya waktu, Lampion mulai identik dengan perayaan tahun baru Imlek pada masa Dinasti Ming.
Lampion yang terbuat dari bahan yang ringan melambangkan pribadi yang rendah hati dan ringan dalam membantu orang lain.
“Sehingga orang tersebut senantiasa dapat memudahkan jalan untuk menggapai puncak dari tujuan kehidupan,” tambahnya.
Untuk warna merah pada lampion dijelaskannya, memiliki simbol pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan, rezeki dan kebahagiaan. Bagi masyarakat Tionghoa Lampion atau lentera merah juga memiliki arti kebersamaan, persatuan, bisnis yang lancar dan sukses, keberuntungan, dan yang terpenting adalah penerangan hidup.
“Namun dengan seiring zaman, bentuk lampion dibuat dengan beragam, sehingga menambah semarak perayaan Imlek,” jelasnya.
Ia berharap di tahun shio babi ini, Indonesia semakin maju, semakin jaya dan tidak ada kerusuhan, semua diberikan kemakmuran oleh Tuhan.
“Saudaraku di Berau, semoga semakin harmonis, tidak ada kerusuhan, apalagi di tahun politik ini, mari kita jaga persaudaraan dan jauhi permusuhan, semoga Tuhan memberikan rezeki yang berlimpah bagi kita semua,” tutupnya. (*/app)
Editor : uki-Berau Post