SAMARINDA. Para pengendara yang melalui Jalan Poros Samarinda-Bontang di perlintasan Kelurahan Tanah Merah hingga Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara, diminta selalu waspada. Sebab di jalur tersebut banyak tikungan dan turunan “maut”.
Disebut tikungan maut karena di sana banyak terjadi kecelakaan lalu lintas. Faktor penyebab bervariasi, dari minimnya lampu penerangan jalan saat malam, kondisi kendaraan yang tidak prima, hingga kelalaian sopir saat mengemudi.
Seperti yang terjadi kemarin (20/2) sekitar pukul 11.00 Wita. Truk KT 8890 NB muatan atap spandek terbalik tidak jauh dari Lapangan Golf Tanah Merah. Truk tersebut memuat 700 lembar atap dengan total berat mencapai 6 ton. Atap tersebut hendak dibawa ke Sangatta setelah diangkut dari gudang di kawasan Makroman.
Di kabin kemudi, terdapat tiga orang di dalamnya yakni Bayu sebagai sopir serta Ahmad dan Dedi Wahyudi sebagai kernet. Bayu dan Ahmad mengalami luka-luka, sehingga harus mendapatkan perawatan. Dedi menjelaskan, saat kecelakaan kondisi lalu lintas tergolong sepi.
Truk hanya berpapasan dengan satu kendaraan sebelum akhirnya terbalik. Dedi mengaku penyebab truk terbalik bukanlah karena kendaraan lain, dia menduga akibat bergesernya muatan. “Kondisi jalanan sepi. Kalau saya mengira penyebabnya karena muatan di truk bergeser, sehingga membuat ban depan dan belakang bagian kanan terangkat saat berada di tikungan,” ujar Dedi.
Saat kejadian Dedi duduk di kabin depan dekat pintu. Saat truk oleng ia sempat memegang rekannya yang duduk di tengah. Jika tidak, Dedi bisa terdorong ke kaca depan, sementara sopir posisinya tergantung.
Akibat kejadian itu, arus lalu lintas di jalanan tersebut sempat mengalami kendala kendati tidak sampai menyebabkan kemacetan yang parah.
"Kami semua keluar dari kaca depan yang pecah. Untung tidak mengalami luka serius saat kami terguncang di dalam kabin. Saat keluar saya periksa ban atau bagian lainnya truk tidak apa-apa, memang besar kemungkinan karena muatan yang bergeser," ungkapnya.
Kecelakaan kerap terjadi di jalur perlintasan antarkota tersebut, terutama terjadi di sekitar area Lapangan Golf Tanah Merah. Kondisi jalanan yang menikung, ditambah menanjak maupun sebaliknya, membuat pengendara harus ekstra hati-hati.
Hal itu diperparah dengan sempitnya jalanan, padahal jalur tersebut merupakan akses lalu lalang kendaraan besar mulai truk, kontainer, tronton hingga kendaraan memuat alat berat.
Sementara Damar (24), warga sekitar menjelaskan, tikungan lapangan golf memang kerap terjadi kecelakaan, baik siang maupun malam. Kondisi ini diperparah dengan minimnya penerangan.
"Kecelakaan lalu-lintas paling sering malam hari. Sebab saat menikung tajam, banyak pengendara yang tidak bisa menjaga keseimbangan hingga terjatuh maupun terperosok,” ungkap Damar. (kis/nin)