Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Menghayal di Rammang-Rammang

uki-Berau Post • Senin, 18 Maret 2019 - 21:48 WIB

WARGA desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros (Sulsel), tak pernah terbayangkan bahwa kelak desa yang mereka tinggali, kini berubah menjadi magnet dengan daya tarik yang kuat hingga wisatawan dari berbagai negara datang berkunjung.

Awan dan kabut selalu menyelimuti Desa Salenrang setiap pagi, sehingga diabadikanlah nama itu menjadi Rammang-Rammang (bahasa makassar yang artinya awan), yang juga menjadi bagian dari pesona desa tersebut. Sungai kecil di antara pohon Nipah dan Mangrove yang lebarnya tidak lebih dari 20 meter, awalnya berfungsi sebagai jalan penghubung antarwarga.

Ketika saya ke lokasi ini, awan dan kabut sudah berlalu berganti panas yang terik. Rammang-Rammang tidak terpisahkan dengan hamparan Gunung Karst dengan luasan hutan sekitar 45 ribu hektare. Melihat luasan itu, menurut beberapa literatur menyebutkan, Rammang-Rammang  merupakan kawasan Karst terbesar ke tiga di dunia, setelah Tsingy di Madagaskar, dan Shilin di Tiongkok.

Wisata sungai yang dulu merupakan sarana transportasi warga, memang sedikit berbeda dengan tempat lain. Batu yang muncul di sungai seakan tertata dan diletakkan secara artistik yang juga menjadi bagian keindahan Sungai Puteh.

Walau jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, terkadang memerlukan waktu tempuh yang lama. Terutama saat padatnya arus lalu lintas. Lokasinya pun mudah ditempuh karena berada di akses jalan provinsi. Pengunjung yang datang bisa melalui akses jalan menuju Pabrik Semen Bosowa. Ada juga melalui akses jalan semen yang melewati perkampungan warga. Padi yang mulai tumbuh, terlihat subur di antara kaki bukit hutan batu.

Ada dua dermaga yang bisa digunakan warga untuk memulai perjalanan sungai. Dermaga 1, hanya beberapa meter dari jalan menuju pabrik Semen. Sementara dermaga 2 butuh perjalanan lagi sekitar 15 menit untuk bisa mencapai dermaga.  Kondisinya sama, sangat sederhana.

Cukup banyak perahu yang tersedia. Menurut Irul, warga setempat yang menawarkan jasa angkutan, menyebutkan awalnya hanya puluhan kapal kecil bermesin dom feng,  namun seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung, jumlah kapal yang menawarkan jasa di dua dermaga, sudah mencapai ratusan. Semua yang terlibat adalah warga kampung yang dikoordinir oleh salah satu kelompok sadar wisata Hutan Batu Salenrang.

Tarifnya tidak terlalu mahal. Untuk satu kapal kecil dengan 3 orang penumpang dikenakan tarif Rp 200 ribu PP. Untuk menghindari teriknya panas matahari, warga juga menyediakan topi daun pandan dengan tarif Rp 5.000 per sekali perjalanan. Bisa dibayangkan berapa penghasilan yang didapatkan warga yang terlibat dalam kegiatan ekowisata ini. Sementara mereka juga bercocok tanam di lahan miliknya.

Sepanjang perjalanan, juga membuat para pengunjung saling sapa, ketika perahu yang membawanya berselisihan arah. Tak pernah ada kasus tabrakan karena di beberapa titik yang dianggap rawan, juga ditempatkan rambu berupa cermin bulat.  Sungai Puteh yang memiliki kedalaman hanya sekitar 2 meter, mengalir perlahan. Namun, siapa sangka bahwa wisatawan yang datang setiap akhir pekan dan ketika masa liburan, jumlah sangatlah banyak.

Sepanjang perjalanan, khayalan saya juga seakan tak pernah berakhir. Bahwa Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, punya karakteristik seperti di Rammang-Rammang. Juga mirip dengan Ha Lon Bay di Vietnam. Tinggal, bagaimana membenahinya. Daya tariknya tentu akan luar biasa. Melengkapi wisata bahari yang ada di Berau.

Ada Gua tapak tangan seperti yang ada di Merabu. Bedanya, Gunung Karst dengan berbagai peninggalan pra sejarah itu, sudah dinyatakan sebagai kawasan wisata pra sejarah yang dilindungi. Saya percaya, Merabu dan Pegunungan Karst yang ada di sepanjang Sungai Kelay. Tak kalah menariknya.(*/asa)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan