Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bermalam di Bagan Apung

uki-Berau Post • 2019-04-08 13:44:17

BANYAK teman-teman saya, maupun wisatawan yang mengungkapkan keindahan berwisata di banyak destinasi di Berau. Media sosial seperti YouTube, juga banyak yang mengekspresikan bagaimana mereka menelusuri keindahan bawah laut. Tapi, sedikit wisatawan yang bercerita bagaimana sensasi bermalam di atas Bagan Apung.

Saya sering melintasi banyak bagan apung ketika perjalanan dari Tanjung Redeb menuju Pulau Derawan. Puluhan bagan tancap menjadi pemandangan tersendiri. Saya selalu membayangkan, bagaimana aktivitas para nelayan di malam hari, saat mengoperasikan bagan tersebut. Padahal pondok yang ada ukurannya kecil. Tak muat ditempati lebih dari dua orang untuk tidur.

Memang ada kelemahan pada bagan tancap. Selain tak bisa berpindah, juga harus menghadapi pergantian cuaca. Mungkin alasan ini juga, sehingga muncul ide membuat bagan apung yang bisa bergerak. Ketika musim selatan, bagan bisa bergerak ke wilayah Talisayan.  Sebaliknya, saat musim utara, kembali ke kawasan laut sekitar Derawan. Itu silih berganti. Bagan tancap? Tetap tertancap di tempatnya.

Saya tak sengaja berkenalan dengan Pak Sulaiman, warga Madura yang lincah berbahasa Bugis. Ini karena pengaruh sang istri yang merupakan orang suku bugis. Pak Sulaiman mengoperasikan bagan apung yang bekerja sama dengan pemilik resor di Pulau Sangalaki. Dia bercerita bagaimana situasi di atas bagannya. Ada kamar yang bisa ditempati untuk menginap.

Sepertinya, memang didesain untuk keperluan itu. Saya lalu ingat dengan wisatawan yang Live on Board (LoB). Mungkin saja, ide pemilik resor Sangalaki, bahwa kelak tamunya yang datang dan berminat nginap di Bagan Apung. Tentu tinggal menyesuaikan tarifnya. Saya pikir, cerdas juga ide itu.

Mumpung belum ada wisatawan yang mencoba, saya yang duluan. Walaupun kamar yang dipersiapkan belum sempurna.  Juga belum ada toilet khusus. Saya izin dengan Pak Sulaiman. Izinnya pakai bahasa Bugis, biar lebih akrab.  Hahaha, Pak Sulaiman juga langsung mengiyakan. Tak ada syarat, tak ada biaya. Saya saja yang tahu diri. Membawa kopi dan makanan ringan.

Dari Tanjung Redeb, sasaran langsung ke bagan apung, yang saat itu pada posisi antara Pulau Derawan dan Pulau Semama. Tiba, saat matahari akan tenggelam. Saya sampaikan ke Pak Sulaiman dan beberapa teman saya, ini pemandangan yang bisa membuat wisatawan tergila-gila. Indahnya luar biasa. Menyaksikan matahari hingga hilang dari pandangan mata. Suasana malam terang benderang.  Ada mesin generator set (Genset) kapasitas 250 KVA. Lampunya yang terang, untuk memikat ikan datang mendekat.

Saya lalu bertanya pada Pak Sulaiman. Apa yang bisa disaksikan, selain melihat matahari terbit dan terbenam?. Pak Sulaiman, sambil mengelus kumis tebalnya, menyebut banyak. Aktivitas pekerja bagan menurunkan dan menaikkan jaring, menyaksikan bagaimana mengangkut ikan yang masih menggelepar, menyaksikan lumba-lumba juga Whale Shark di pagi hari. Sampai menikmati ikan yang dibakar atau digoreng dalam keadaan masih hidup.

Mengangkat jaring pertama pada sekitar pukul 02.00 Wita. Dan, yang kedua sekitar jam 6 pagi. Saya sempat memperkirakan yang didapatkan sekitar 200 kilogram. Tinggal mengalikan harganya, itulah hasilnya. Dan, ketika pamit pulang, tak lupa kami diberi bekal ikan segar untuk dimasak di rumah.

Pagi belasan ikan lumba-lumba atraksi di sekitar bagan. Menunggu limpahan ikan yang jatuh atau sengaja diberikan. Saya juga menunggu Whale Shark yang sayangnya pagi itu, hanya melintas. Kayaknya tak ingin memperlihatkan dirinya.  Memperlihatkan mulut besarnya.

Pengalaman inilah, yang saya sampaikan kepada Humas Bank Indonesia, ketika sekali waktu bertemu, yang berencana memberikan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Saya sarankan, untuk membangun bagan apung saja. Sebab, selain bisa digunakan untuk wisata, juga bisa membiayai dirinya dari hasil melaut. Sekalian saya perkenalkan dengan Pak Sulaiman. Belakangan saya mendapat kabar, pekerjaan bagan itu diberikan ke Pak Sulaiman.

Beberapa pekan lalu, bagan apung Bank Indonesia secara resmi diserahkan. Pengelolaannya, dikerjasamakan dengan Pak Baco, pengelola resor milik Pak Masdjuni (Alm) di Pulau Derawan. Dan, ketika jumpa Pak Baco di Sop Saudara, dia bercerita bagaimana hasil perdana yang ia dapatkan. “Lumayan pak hasilnya,” kata Pak Baco.

Saya pun berjanji, sebelum memasuki bulan Puasa nanti, saya bersama beberapa teman ingin menikmati bermalam di bagan apung bantuan Bank Indonesia. Ingin menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Ingin melihat ikan Lumba-Lumba. Melihat Whale Shark. Kembali menikmati segarnya ikan bakar. Hehe, juga ingin membawa pulang ikan yang masih menggelepar. (*/sam)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan