Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Limbah Kerang Disulap Jadi Produk Kerajinan

izak-Indra Zakaria • Jumat, 10 Mei 2019 - 17:58 WIB

Sudah lama kawasan RT 4, Desa Kutai Lama, Anggana, dikenal dengan sebutan Kampung Tuday. Hampir seluruh penduduknya merupakan pencari kerang tuday. Limbah kerang tuday pun melimpah hingga ratusan kilogram per hari. Kreativitas pun untuk menyulap limbah kerang itu menjadi berbagai produk kerajinan.

MUHAMMAD RIFQI, Tenggarong

KETUA Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Bukwiskula di Kecamatan Anggana, Sarifah sedang asyik berdiskusi dengan anggota kelompoknya, Kamis (9/5). Bukwiskula merupakan kependekan dari bubuhan kreatif wisata Kutai Lama. Rumahnya disulap menjadi galeri UMKM yang menampung hasil produk para pengusaha UMKM. Tak hanya makanan, tetapi kerajinan tangan hasil kreativitas tangan-tangan kreatif warga.

Jumlah anggota kelompoknya yaitu lebih 40 orang. Yang tertua bisa mencapai hingga usia 70 tahun. Salah satu produk dari anggota kelompoknya adalah pengolahan kerang tuday menjadi kerajinan bernilai tinggi. Bahan baku kerang pun tak sulit ditemui. Pasalnya, di salah satu RT di Kutai Lama, terdapat kelompok masyarakat yang merupakan pencari kerang tuday.

Di kampung tersebutlah, sejak puluhan tahun silam, cangkang kerang hanya dibuang dan menjadi limbah tak bernilai. Oleh warga, sebagian hanya ditaruh di teras rumah sebagai pengeras permukaan tanah. Jumlahnya kian bertambah namun tak memiliki nilai ekonomis.

Hingga akhirnya, melalui pendampingan serta pelatihan dari salah satu perusahaan PT Pertamina EP Field Sangasanga, kerang tersebut akhirnya disulap menjadi sejumlah suvenir yang bernilai tinggi. “Jadi saking banyaknya limbah kerang tuday di kampung ini, akhirnya kerang tersebut hanya dibuang-buang saja. Oleh UMKM kami, akhirnya selama setahun terakhir bisa menjadi bahan kerajinan,” kata Sarifah.

Rafeah, salah satu perajin kerang tuday tersebut mengatakan, dalam satu hari, ia bisa mengolah sedikitnya 40 kerajinan dari limbah kerang tersebut. Nilai jualnya dari Rp 10 ribu hingga lebih Rp 100 ribu. Seperti tirai, hiasan rumah, dan tempat tisu.

“Kebetulan Kutai Lama ini juga memiliki banyak event pariwisata dan sering dikunjungi wisatawan. Makanya, suvenir dari kerang ini bisa menjadi salah satu oleh-oleh. Apalagi kerang juga menjadi khas di kampung pesisir,” tambahnya lagi.

Bahkan, Bupati Kukar Edi Damansyah juga memberi sinyal agar kerang hasil buatan UMKM ini menjadi suvenir tamu Festival Erau tahun ini. “Dalam satu karung kerang, bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Tadinya kami hanya ibu rumah tangga saja, tapi alhamdulillah sekarang bisa menghasilkan rupiah juga,” tutupnya. (***/kri/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#kutai kartanegara