Jumlah penumpang pesawat di Kaltim yang tak bertumbuh harus terbagi ke dua bandara; SAMS Sepinggan dan APT Pranoto.
Tergerusnya penumpang di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan berdampak pada menipisnya laba PT Angkasa Pura I. Hadirnya Bandara APT Pranoto di Samarinda, ditambah masih mahalnya harga tiket pesawat, punya peran di balik kondisi tersebut.
Namun, ada hal lain yang patut menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih bandara untuk melakukan penerbangan. Berdasar surat Dirjen Perhubungan Udara, ada unsur yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi APT Pranoto terkait keselamatan penumpang.
"Ada faktor teknis operasional bandara. Kami lihat dari aspek sekuriti. Jadi perlu membatasi sementara sampai ada perbaikan runway dan lain sudah dilakukan,” ucap Plt Otoritas Bandara Wilayah VII Handoko Budi Waluyo.
Penerbangan di Bandara APT Pranoto akan dibatasi maksimal 14 pesawat per hari. Di antaranya Airbus sebanyak 5 pesawat, Boeing 737-500 sebanyak 2 pesawat, dan Boeing 737-800 sebanyak 7 pesawat.
Sementara itu, kondisi saat ini, menurut Handoko, pergerakan di Bandara APT Pranoto sebanyak 40 penerbangan per hari. Dengan faktor safety, security, services, dan compliance (3S+1C) yang belum memadai. "Seperti keberadaan lampu, pagar, serta tim pertolongan kecelakaan penerbangan, dan pemadam kebakaran (PKP PK)," ujar Handoko.
Calon penumpang di bandara APT Pranoto.
Hal ini berbeda dengan data yang diungkap Kepala Unit Pelaksana Bandar Udara (UPBU) APT Pranoto Dodi Dharma Cahyadi, yang menyebut bahwa penerbangan per hari melalui lapangan terbang di Kelurahan Sungai Siring, Samarinda, itu hanya 21.
Prosedur dan fasilitas yang disebut Handoko itu harus tersedia untuk mengantisipasi peristiwa mendadak di bandara. Sehingga masyarakat tidak dirugikan jika terjadi hal yang tak diinginkan. Dengan aspek 3S+1C, pengelola bandara sudah bisa menjamin keselamatan dan keamanan penumpang. Sehingga mereka nyaman dalam bepergian.
"Tinggal peran masyarakat yang bisa selektif dalam memilih bandara atau penerbangan yang aman," sebut Handoko.
Kelengkapan fasilitas terutama dari sisi safety yang dimiliki bandara harus jadi pertimbangan. Misalnya bandara yang sudah memiliki peralatan memadai saat terjadi cuaca buruk. Sehingga tidak perlu harus beralih mendarat di bandara lain karena fasilitas memadai.
"Sementara semua itu sudah dipenuhi Bandara SAMS Sepinggan yang punya sekitar 83 penerbangan per hari," imbuhnya.
Ruang tunggu bandara APT Pranoto.
Terkait market di Kaltim, General Manager PT Angkasa Pura I Balikpapan Farid Indra Nugraha menjelaskan, sebenarnya tidak begitu bertambah. Hanya terbagi saja antara Bandara SAMS Sepinggan dan Bandara APT Pranoto. Pertumbuhan penumpang tidak signifkan di Samarinda. Sebab, hanya penumpang yang dulunya di Balikpapan sudah beralih.
"Tinggal bagaimana pemerintah daerah dapat memberikan solusi. Caranya dengan mendukung rute-rute potensial yang masih bisa digarap Bandara SAMS Sepinggan. Contoh penerbangan langsung rute internasional untuk umrah," kata Farid.
Pemerintah juga bisa membantu mendorong pembukaan rute baru. Serta memberikan insentif kepada maskapai yang datang mau membuka penerbangan langsung. Sehingga Bandara SAMS Sepinggan dan Bandara APT Pranoto dapat saling tumbuh dengan baik.
Soal aktor 3S+1C yang ada dalam dunia penerbangan, Farid menjamin pihaknya telah memenuhi seluruh aspek itu di Bandara SAMS Sepinggan. Misalnya persyaratan kendaraan pemadam yang sudah masuk kategori 8.
"Kalau ada kejadian pesawat terbakar, kita harus kejar dan harus memadamkan dalam waktu 3 menit. Standar petugas PKP PK berlisensi,” lanjut Farid.
Dengan begitu, semua itu akan membuat rencana perjalanan penumpang terganggu. Hal yang berhubungan dengan safety dan keamanan adalah utama. Apalagi kondisi cuaca buruk, pihaknya bahkan melakukan pembersihan runway dua kali dalam sehari. "Kalau tidak, bisa berpengaruh pada saat pesawat landing,” tuturnya. (rdh/gel/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria