Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

"APT Pranoto Akan Jadi Kota Kecil"

rusli-Admin Sapos • Senin, 10 Juni 2019 - 23:37 WIB

Bandara APT Pranoto kini tengah jadi primadona dengan tren penumpang yang terus naik. Bahkan, saat arus balik, jumlah penumpang melonjak, berbanding terbalik dengan bandara lainnya di Kaltim. Tangan dingin Kepala Bandara APT Pranoto tanpa diduga mampu membenahi bandara perlahan demi perlahan. Berikut wawancara Sapos dengan Kepala Bandara APT Pranoto Dodi Dharma Cahyadi.


Bandara APT Pranoto mendapat pujian dari Dirjen Perhubungan karena penumpang meningkat di luar prediksi?


Alhamdulillah, semua ini karena kerja sama kita semua. Kami semua di sini kerjanya semangat.


Belum genap setahun bekerja, apa punya trik khusus membangun manajemen bandara dan lainnya?

Intinya jangan pernah puas. Contohnya kata orang interior di bandara bagus tapi bagi saya ini masih polos. Harus dibuat dengan desain modern.

Kembali ke arus mudik, saat bandara lain menurun, APT Pranoto trennya justru naik. Apa ini bisa menjawab bahwa kebutuhan penerbangan masyarakat Samarinda cukup tinggi?

Saya kasih gambaran, penumpang di bandara H-5 lebaran jumlahnya 4.550 pax. Kemudian Sabtu (8/6) jumlah pax 3.770 di mana departure 1.944 dan arrival mencapai 1.826. Padahal bandara baru beroperasi enam bulan. Saya juga membuka rute Samarinda-Denpasar, di sini market atau pasarnya ada. Ada peminatnya, tinggal dari sana ke sini yang masih dipikirkan. Ini saya mau coba buka rute ke Bandung dan Manado, tinggal mencocokkan dengan bandara di sana.

Tapi masih banyak fasilitas belum lengkap, lampu runway contohnya.
Penerangan runway tetap diprioritaskan dan mendapat dana optimalisasi Rp 20 miliar. Lampu agak mahal karena itu vital untuk bantu pendaratan. Itu untuk antisipasi jarak pandang minimum akibat cuaca buruk dan lainnya. Sedangkan untuk keperluan darurat kami sudah pasang PAPI yang anggarannya Rp 2 miliar dan sudah terpasang semua.

Tidak ada solusi lain?

Bandara ini bisa berkembang jika berstatus BLU (Badan Layanan Umum).

Kenapa harus BLU?
Kalau BLU pengelolaan dikerjakan sendiri. Dengan BLU kita cepat antisipasi adanya kekurangan jadi tidak harus menunggu tahun depan menanti anggaran pemerintah. Kita bisa manajemen sendiri melalui pendapatan yang kita peroleh.

Memang pendapatan APT Pranoto dari mana saja?
Pendapatan bandara itu ada dua. Aero dan non aero. Aero itu kayak airport tax sampai pesawat yang berhubungan dengan udara.
Sementara non aero yang tidak berkaitan dengan sisi udara jenisnya ada tenant sampai hotel. Semua pendapatan itu yang masuk ke kami dan digunakan untuk operasional. Selama ini hanya berharap uang negara, kalau nunggu setahun kelamaan. Kami juga mau pakai jasa pihak ketiga untuk kebersihan.

Tidak ada pendapatan untuk daerah?

Kalau sudah jadi BLU, ya silakan. Pemda kan punya Perusahaan Daerah. Jika perusda mau bikin hotel di sini, silakan. MoU nanti dengan kami.

Operasional untuk bandara sendiri butuh biaya berapa?

Setahun sekitar Rp 20 miliar. Itu total hitungan untuk listrik, pemeliharaan dan lain-lain. Nah pendapatan kita otomatis harus lebih dari itu. Ini saja saya dapat laporan pendapatan untuk bandara dari satu tenan per bulannya Rp 120 juta. Saya saja kaget. Makanya untuk tambahan pendapatan yang lebih besar harus dari non aero. Saya justru makin semangat, teman-teman di sini pun demikian.

Nampaknya anda tidak pernah istirahat?
Bahkan cuti Lebaran saja saya tidak ambil, tapi tidak masalah. Saya senang. Saya banyak ditugaskan kelola bandara di daerah lain, ya dinikmati saja yang penting tidak bossy dengan pegawai di sini. Silakan saja tanya dengan pegawai saya. Sebelum subuh saya sudah pantau lapangan. Saya bukan bos yang kerjaannya cuma menyuruh. Bos dengan pemimpin itu beda.

APT Pranoto juga pernah disinggung karena petugasnya tidak punya lisensi, itu benar?
Tentu saja tidak. Kami kan orang perhubungan jadi paham aturan. Saya ini regulator aturan sekarang jadi operator. Saya jamin personel saya berlisensi. Banyak kasus yang pernah saya tangani sebelum di sini.
Pelanggaran merokok di lavatory, ancaman bom. Saya sendiri pernah nyidik pilot karena merokok di pesawat saat di apron. Kejadiannya di Medan.

Visi anda tentang bandara APT Pranoto?

Lima tahun mendatang di sini akan ramai dan menjadi kota kecil. Makanya harus dikendalikan jangan sampai kaya Temindung. Kalau di sini dibangun hotel atau pusat perbelanjaan, bandara pasti ramai. Tapi pelan-pelan. Masih banyak yang mau saya rehab seperti tenan dan interior. Tenant tidak tertata seperti warung, banyak yang antre mau masuk tapi saya hold dulu. Kemudian interior di terminal tiga saya sudah komunikasi dengan calon yang akan mendesain. Ini kan masih polos, saya konsepnya enggak begini, ada kesan modern. Jangan cepat puas pokoknya. (cyn/beb)

Editor : rusli-Admin Sapos