Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Banjir, Waspadalah Penyakit Mematikan

izak-Indra Zakaria • Kamis, 13 Juni 2019 - 18:51 WIB

Hampir sepekan banjir masih menggenangi sebagian kawasan di Samarinda. Masyarakat pun diminta waspada. Berbagai penyakit mengintai melalui air genangan yang terkontaminasi bakteri dan virus. 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltim dr Nataniel Tandirogang menjelaskan, sejumlah potensi dan ancaman penyakit yang bisa menyerang korban banjir. Bahkan, untuk kasus tertentu, bisa berdampak hingga kematian.

"Yang pertama tentu kami dari IDI wilayah Kaltim prihatin terhadap musibah ini," ujar Nataniel, kemarin (12/6).

Apalagi dari pantauan pihaknya, masih banyak masyarakat yang bertahan dan melakukan kontak langsung dengan air banjir yang menggenang sepekan ini. Mengingat, air banjir merupakan media penyebaran penyakit. Yang paling menonjol adalah leptospirosis. 

"Penyakit ini berasal dari leptospira yang biasa terkandung di kotoran tikus," kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu.

Risiko penyakit ini tidak bisa dianggap enteng. Pasalnya, dengan gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, hingga menyerang organ dalam tubuh itu bisa mengakibatkan kematian. Jika tak segera ditangani dokter. 

"Banjir mengangkat semua kotoran yang ada. Urine dan kotoran tikus yang paling banyak mengontaminasi air. Jadi sangat berisiko ketika masuk melalui kulit yang terluka atau mata," jelasnya.

Selain leptospirosis, penyakit yang umum menyerang korban banjir adalah diare. Perlu diketahui, air banjir merupakan air kotor yang berbahaya jika dikonsumsi dan bisa mengontaminasi makanan dan minuman. Penyakit ini bisa mematikan khususnya bagi bayi bila kekurangan asupan dan cairan. 

"Yang paling rentan terhadap penyakit ini dan penyakit lainnya adalah anak-anak dan lansia," ungkapnya.

Leptospirosis dan diare hanya dua dari sekian banyak penyakit yang bisa menyerang. Menurut Nataniel, semakin lama banjir menggenang, dampak yang diakibatkan akan semakin meluas. Termasuk gangguan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), demam berdarah, demam tifoid, penyakit kulit, dan lainnya (selengkapnya lihat grafis).

"Masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri ke dokter atau petugas medis yang ada di posko banjir untuk mendapatkan penanganan bila mengalami gejala penyakit," sebutnya.

Nataniel juga tidak menyarankan masyarakat dan relawan untuk berlama-lama berada di genangan banjir. Selain penyakit yang datang dari bakteri dan virus, ancaman hipotermia sangat mungkin terjadi karena mengenakan pakaian yang basah dalam jangka waktu lama bisa membuat suhu tubuh menurun. Sehingga sangat disarankan untuk segera mengganti pakaian yang basah dengan yang kering dan bersih.

"Memburuknya penyakit kronik karena menurunnya daya tahan tubuh hingga stres bahkan depresi juga bisa terjadi," ucap Nataniel. 

Untuk menghindari risiko terkena penyakit saat banjir, Nataniel sangat mengimbau masyarakat terdampak untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi air banjir. Bahkan, untuk air diusahakan berasal dari kemasan yang tertutup rapat. Untuk hal ini, dia lihat sudah dilakukan melalui bantuan-bantuan yang dibagikan unsur kebencanaan dan relawan.

"Untuk cuci tangan dan mencuci peralatan makan juga jangan menggunakan air banjir," tegasnya.

Tak hanya ketika banjir, sterilisasi kawasan khususnya rumah harus dilakukan sebaik mungkin. Karena rumah yang terendam meninggalkan banyak sampah dan kotoran yang mengandung bakteri penyebab penyakit. Jadi, masyarakat diminta melakukan pembersihan isi rumah dan perabotan menggunakan air bersih. "Harus dibersihkan sampai bersih," pungkas Nataniel. (rdh/dwi/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#banjir samarinda