Melawan Carrie Lam tak cukup hanya bicara. Tanpa kerusuhan, pemerintah disebut tidak akan mendengar.
HONG KONG – Kemarin (1/7) Hong kong memperingati kembalinya negeri itu ke pangkuan Tiongkok. Namun, yang terjadi tak bisa disebut perayaan. Rakyat Hong Kong kembali menggelar aksi protes untuk menekan Chief Executive Hong Kong Carrie Lam.
Ratusan pemuda mulai nongkrong sebelum sinar matahari menimpa gedung-gedung pencakar langit. Mereka mengepung Hong Kong Convention and Exhibition Centre di Wanchai. Gedung tersebut menjadi sasaran karena ada keputusan pemerintah untuk menggelar upacara pengibaran bendera. ’’Lengserkan Carrie Lam,’’ teriak para pendemo, menurut South China Morning Post.
MENGURUNG DIRI: Carrie Lam (blazer putih) meninggalkan panggung setelah upacara pengibaran bendera peringatan 22 tahun penyerahan kota dari Inggris ke Tiongkok kemarin (1/7). Anthony WALLACE/AFP
Setiap 1 Juli adalah peringatan pergantian kekuasaan. Dua puluh dua tahun silam, Inggris menyerahkan kewenangan wilayah tersebut kepada Tiongkok. Sebagai syarat, Inggris meminta Hong Kong mempertahankan sistem demokrasinya selama 50 tahun.
Namun, peringatan itu biasanya memperoleh reaksi berbeda. Kubu pro-Beijing seperti Carrie Lam mengingat tanggal tersebut sebagai kemenangan rakyat Tiongkok. Namun, kubu pro-demokrasi memandang peringatan itu sebagai hitungan mundur terhadap kungkungan Partai Komunis.
Karena itu, aksi protes pasti terjadi pada awal Juli. Yang berbeda, tahun ini peserta demo terlihat berang. Mereka berusaha memaksa masuk gedung tempat Lam ngantor. Kaca bangunan tersebut dihantam menggunakan batu, tiang besi, dan troli.
’’Untuk melawan tirani, tak cukup hanya bicara. Tanpa kerusuhan, pemerintah tidak akan mendengar,’’ ujar Ringo Shum Cheung-kwan, salah seorang pendemo.
Memang, jika dibandingkan dengan aksi protes 16 Juni lalu, massa yang turun ke jalan lebih sedikit. Namun, mereka jauh lebih garang. Mereka tak takut berselisih dengan polisi.
Kepolisian Hong Kong melaporkan bahwa 13 personelnya harus dibawa ke rumah sakit karena terkena cairan berbahaya. Menurut media, cairan tersebut diduga pembersih selokan yang ditemukan penduduk di dekat lokasi protes.
’’Beberapa pendemo mencuri tiang besi dan batu bata dari tempat konstruksi tak jauh dari sini,’’ ujar Inspektur Senior Kong Wing Cheung.
Tidak berarti aparat hanya diam. Polisi yang berjaga di dalam gedung juga berusaha melawan menggunakan semprotan merica dan tongkat. Agence France-Presse melaporkan, seorang perempuan terlihat berdarah di bagian kepala. Beberapa pendemo juga ditangkap.
Tampaknya, penduduk telanjur kecewa terhadap sikap Lam. Pemimpin negara pulau itu terus bersembunyi sejak mengucapkan permintaan maaf pada medio Juni. Bahkan, dia masih mengurung diri di dalam ruangan saat peringatan kemarin.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Lam dan tamu kehormatan tidak berada di Golden Bauhinia Square saat bendera Tiongkok dan Hong Kong dikibarkan bersama. Mereka hanya melihat dari jauh di gedung Hong Kong Convention and Exhibition Centre. Alasan mereka, cuaca buruk.
’’Apa yang terjadi beberapa bulan belakangan membuat saya sadar. Pejabat harus memahami perasaan rakyat,’’ ujarnya sambil mengangkat gelas sampanye.
Hal itu jelas membuat masyarakat makin frustrasi. Mereka merasa Carrie Lam sengaja menghindari rakyat tanpa menanggapi tuntutan mereka. Aktivis pun berjanji bakal terus menggelar aksi hingga Lam turun dari jabatannya.
’’Kami tak akan berkecil hati, apapun yang terjadi. Kami siap berjuang dalam waktu yang lama,’’ ujar Jacon Chan, akuntan berusia 22 tahun. (bil/c4/dos/jpg/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria