Mengantisipasi musim kemarau seperti sekarang, masyarakat seharusnya jauh-jauh hari bisa mengaktifkan tangki air di rumah. Apalagi Balikpapan termasuk memiliki curah hujan tinggi di luar musim kemarau.
BALIKPAPAN – Kemarau datang, kapasitas air turun drastis, ujung-ujungnya produksi air terbatas. Kondisi ini jelas tak menguntungkan bagi warga mereka yang bermukim di perbukitan atau dataran tinggi.
Dosen Teknik Sipil (Sumber Daya Air) ITK Ryan Benny Sukmara menuturkan, melihat fenomena banyaknya warga di perbukitan kesulitan mendapatkan air saat kemarau seperti sekarang, setidaknya ada beberapa faktor pemicu.
Pertama, ketersediaan kapasitas air baku. PDAM Balikpapan di Waduk Manggar. Kedua, cukup tidaknya jumlah booster (pompa) untuk memenuhi distribusi air ke seluruh area kota. Ketiga, perilaku tak terpuji pelanggan yang “memotong” aliran air untuk pelanggan lain dengan cara memasang pompa pada pipa PDAM.
Jika bicara soal tekanan air yang minimum, dan tidak meng-cover kawasan perbukitan, maka butuh booster. Jadi harus lihat apa jumlah booster sudah cukup untuk memenuhi distribusi air ke perbukitan,” katanya saat diwawancarai media ini, kemarin. Benny menambahkan, kontur wilayah Balikpapan yang naik turun wajar jika membutuhkan banyak booster.
Di sisi lain, ia memberi atensi pada kapasitas air baku dari waduk. Booster akan percuma jika tidak ada debit air yang bisa dialokasikan.
Menghadapi musim kemarau seperti sekarang, Benny menyebutkan masyarakat seharusnya bisa mengaktifkan tangki air di rumah. Apalagi menurutnya, Balikpapan termasuk memiliki curah hujan tinggi di luar musim kemarau. Sementara penampungan air ini terasa belum maksimal dilakukan warga.
Namun, ini butuh kesadaran masyarakat untuk mau menyediakan tangki dan semacamnya untuk menampung air. Mudah dan biaya terjangkau. Berdasarkan perhitungannya, tandon sebesar 1.200 liter bisa untuk konsumsi air selama 10 hari. “Saya perkirakan penggunaan tangki bisa mereduksi sampai 40 persen dari total pemakaian konsumsi air di rumah. Bagi pengguna PDAM,” ujarnya.
Sementara bagi yang belum mendapat aliran PDAM, cara menampung air dengan tangki ini setidaknya bisa menjadi pasokan stok air. “Kalau bangunan besar seperti gedung dan mal bisa pakai atap jadi penampung air lalu dialirkan ke ground tank,” tuturnya. Semua itu membutuhkan kesadaran dan dan kebijakan warga sebagai pengguna air.
Misalnya ada rumah yang menjadi pelanggan PDAM namun juga menggunakan pompa air sekaligus. Bahkan memasang pompa air di jalur PDAM. “Membuat aliran air tersedot ke satu titik. Otomatis distribusi hanya mengalir ke situ, dan tertahan untuk pelanggan lain,” bebernya.
Kadang karena kebutuhan rumah dua lantai, warga pasang pompa dan PDAM sekaligus. Namun sebenarnya tinggal bagaimana mengatur penggunaan dua aliran tersebut. “Nyalakan pompa tidak pada jam puncak pemakaian, pagi dan sore. Jadi isi tandonnya saat malam hari, supaya tidak mengganggu aliran untuk pelanggan lain,” pungkasnya. (gel/ms/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria