Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Stumat Haja

uki-Berau Post • Jumat, 27 September 2019 - 02:03 WIB

AWALNYA rintik-rintik. Butirannya kecil-kecil. Disusul lebih deras. Butiran airnya juga besar-besar. Air yang jatuh dari atap seng juga semakin mengucur. Lebat sejenak, lalu rintik-rintik lagi. Lalu, panas terik lagi.

Sambutannya luar biasa. Secara bersamaan, teman-teman saya di Instagram, hanya menuliskan satu kata. Alhamdulillah. Bersyukur setelah menanti sekian lama. Bahkan penantian sejak digelarnya salat Istisqa.

Yang diharapkan, tentu hujan lebat. Bahkan selebat-lebatnya. Biar banjir sekalipun. Yang diberikan, hanyalah hujan rintik dan sedikit lebat. Setelah itu, panas lagi.

Segitu saja sudah cukup. Seperti pepatah, panas setahun dihapuskan hujan (sehari) sebentar. Sudah cukup memberikan rasa lega. Mungkin di Tanjung Redeb diberikan hujan gerimis. Tapi di Segah dan Kelay, bisa lebih deras. Bisa mengurangi titik api. Bisa mengurangi asap.

Sekitar pukul 10.00 Wita, pagi kemarin,(25/9) rencana menghadiri undangan pesta pernikahan putra teman saya Pak Johansyah di Gedung Bussak Mallur. Di acara pengantin, bisa jumpa banyak teman. Teman yang jarang ketemu.

Undangan pukul 11.00 Wita. Datang lebih awal, teman-teman saya juga pasti belum datang. Saya meluncur saja ke warung kopi Hoky. Dalam dua hari ini, Cuncun, Putra Pak Oetomo Lianto, bercerita soal kegiatan memancing.

Ia bahkan berencana bersama timnya akan memancing di salah satu spot mancing terbaik di laut Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Cuncun inilah, saya dapat informasi bahwa di Indonesia ada beberapa spot mancing yang sudah dikenal oleh komunitas pemancing. Selain Lampung, Labuan Bajo, Alor, juga Derawan masuk dalam spot mancing terkenal.

Sayang, walau sering dilakukan lomba memancing, belum pernah menggelar turnamen akbar memperebutkan piala Presiden. Setidaknya Piala Menteri Kelautan dan Perikanan.

Saya bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk memancing di spot yang jauh itu. Cuncun tak menyebut rincian. “Ratusan juta biayanya,” kata dia. Sewa kapal saja Rp 25 juta sehari. Kalau 5 hari di lokasi, tinggal hitung. Belum transportasi menggunakan pesawat dan ongkos bagasinya.

Karena hujan dan cerita memancing itu juga, rencana ke undangan pengantin ikut tertunda. Saya baru meluncur setelah pukul 13.00 Wita.

Di saat hujan turun, teman-teman mahasiswa juga melakukan pergerakan damai ke kantor bupati. Diterima Wakil Bupati Agus Tantomo. Ramai juga. Tapi tak seramai di Jakarta. Mahasiswa yang turun, juga menyuarakan soal asap kebakaran hutan dan lahan. Pak Agus balik menantang, untuk mengajak mahasiswa, sama-sama turun membantu masyarakat memadamkan api.

Dari kantor bupati, mahasiswa bergerak ke kantor DPRD. Sedikit kecewa. Di gedung itu seluruh anggota dewan mengikuti pelatihan di Balikpapan. Tak ada wakil rakyat yang menerima kehadiran mereka.

Komentar soal hujan di Instagram, belum berhenti. Teman-teman di Pulau Derawan juga mengabarkan, laut Derawan yang teduh kini diwarnai hujan lebat. “Hujannya lebat betul,” kata Pak Baco, teman saya yang mengelola salah satu resort.

Radian, staf Humas Pemkab Berau yang mengikuti kegiatan bupati di kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, juga bertanya. “Tanjung Redeb hujankah bos?” kata Radian lewat WA. Saya jawab saja, iya. Tapi, hujannya tak berlangsung lama. “Stumat haja,” kata saya dalam bahasa Banjar, artinya sebentar saja.

Lama atau sebentar tak masalah. Yang penting, ada hujan yang turun. Mungkin saja itu hujan pendahuluan. Nanti dalam hari-hari berikutnya, Tanjung Redeb benar-benar akan diguyur hujan yang lebat. Kalau diturunkan hujan lebat sekarang, kasihan kegiatan pengerjaan proyek drainase jalan di sejumlah titik. Pasti terhambat.

Bila pekerjaan selesai, disusul hujan lebat, sekalian dinilai. Kalau tak ada lagi genangan, berarti pengerjaan drainase, berjalan sukses. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan