CAMAT Talisayan Mansyur, mengakui tidak pernah menghadiri tradisi adat Buang Nahas di Kampung Talisayan, yang dilaksanakan masyarakat secara turun-temurun.
Dikatakan Mansyur, ketidakhadirannya itu bukan tanpa sebab. Alasannya karena berkenaan dengan keyakinan akidah. Sehingga menurutnya, ini persoalan pribadinya.
Ia juga tak menampik, sejak dia bermukim pada 1985 di daerah pesisir ini, tidak pernah mengikuti dan menghadiri tradisi itu. Alasannya juga sudah sempat ia sampaikan kepada warga setempat yang menyalin tradisi tersebut. Bahkan juga disampaikan ke kepala kampung setempat.
“Untuk acara ini secara pribadi saya tidak pernah ikut karena berkaitan dengan akidah. Dan masalah akidah, saya tidak bisa bicarakan. Ini masalah keyakinan saya, dan itu tidak bisa diapa-apain,” kata Mansyur, kepada Berau Post, kemarin (24/10).
Selama ini, ia pun mempersilakan masyarakat untuk menjalankan tradisi ini. Karena menurut dia, tanpa melalui pemerintah kecamatan pun tidak masalah.
Sementara terkait rekomendasi dan tanda tangan dinilai termasuk melibatkan pribadinya. Ia pun menawarkan kepada panitia untuk berusaha di luar bagaimana caranya tanpa rekomendasi camat tradisi itu tetap bisa berjalan.
Diakui Mansyur, memang kendala yang dihadapi sejak awal jabatannya di Talisayan, soal adanya budaya tradisi tersebut. Karena ia meyakini, ada masalah dengan keyakinannya dengan budaya tradisi yang dipercaya sebagian orang di Talisayan.
“Daripada bermasalah dalam keyakinan, saya lebih baik bekerja yang lain saja. Kalau yang satu ini, saya lewatkan saja,” tegasnya.
“Masalah keyakinan buat saya tidak ada tawar menawar. Karena itu prinsip hidup. Tidak mungkin saya menghalangi juga mereka untuk tetap melanjutkan budaya terebut. Ini hanya masalah pribadi saya,” jelasnya.
“Saya memiliki toleransi beragama, tapi jangan paksa saya, dan saya pun tidak akan memaksa Anda. Masing-masing dengan keyakinan, silakan saja,” lanjutnya.
Ia mengakui, sebagian warga setempat menanggapinya dengan menerima alasannya itu. Terlebih ia juga sudah melakukan komunikasi dengan para tokoh. Sebagian orang yang tidak setuju dengannya, ia memahami. Berisiko dengan jabatannya pun kata dia, akan diterima. “Itu urusan pribadi. Sampai harus meminta camat diganti pun ada,” ujarnya.
Namun ia selalu menegaskan, dalam menjalankan tugas ada dua hal. Ingin selamat dunia dan akhirat. Keyakinannya itu menjadi pedomannya. Hal ini kata dia wajar-wajar saja. Karena menurutnya, seorang pemimpin harus punya pendirian.
“Saya tidak bisa juga menyampaikan di sini salahnya. Saya juga tidak pernah dipaksa oleh mereka dan itu yang juga saya salut. Setelah saya jelaskan dasarnya. Intinya masalah keyakinan saja,” tutupnya. (mar/har)
Editor : uki-Berau Post