Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sering Menanggung Beban Berlebih

rusli-Admin Sapos • 2019-10-26 14:36:16

 

SAMARINDA ULU. Keberadaan jembatan laying atau flyover harusnya menjadi solusi mengurai kemacetan persimpangan Air Hitam. Namun belakangan jadi perhatian akibat retakan pada bagian aspal jalan. Menurut klaim Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, retakan tersebut berada di bagian urukan tanah sebagai penyambung dengan badan jembatan atau dikenal dengan oprit.
Tanpa menunggu lama, retakan akhirnya ditangani dengan pengaspalan bagian tersebut. Berdasarkan hasil tinjauan dari tim teknis PUPR, secara keseluruhan kejadian ini masih aman lantaran tidak menganggu struktur jembatan.


Menanggapi ini Pengamat konstruksi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Tiopan Gultom menilai ada dua penyebab keretakan pada oprit flyover yang saling berkaitan.
"Pertama karena overload muatan. Saya sering lihat pas lagi ngopi di Juanda, ada mobil besar lewat. Mungkin mau cari jalan pintas makanya lewat flyover," bebernya, Kamis (24/10).
Menurutnya beban kendaraan yang berlebihan akan mempengaruhi tekanan pada oprit yang selama ini menjadi penyangga sambungan jembatan. Sehingga menurut pengamatannya tekanan dari beban yang berlebih juga mempengaruhi urukan tanah dari oprit tersebut.
"Di dalam tanah bisa terjadi deformasi (perubahan bentuk) seperti jelly kalau ditekan maka bentuknya bisa melebar atau bergeser ke kanan kiri dan bisa juga ke bawah," jelasnya.
Tak heran lanjut Tiopan, deformasi dari tanah urukan pada Jembatan layang tersebut bisa retak. Di sisi lain tanah urukan juga besar kemungkinannya mengalami penyusutan kadar air namun tidak merata.


"Tapi secara keseluruhan masih aman. Karena masih bisa dibongkar ulang lalu diaspal ulang," tegasnya.
Persoalan keretakan pada oprit menurutnya juga tak bisa dianggap remeh. Sebab hal ini juga dipengaruhi dari proses pembuatannya sejak awal.
"Sebenarnya kalau proses pemadatan dilakukan perlayer (perbagian), mungkin tidak akan begini. Karena di dalam tanah juga mengalami penyempitan secara alami," urainya.


Meski demikian ia tak ingin menyalahkan pihak manapun, sebab hal ini erat kaitannya dengan kontur tanah di bawah flyover sepanjang 620 meter tersebut. Lambat laun menurut Tiopan, urukan bisa stabil namun memerlukan waktu.
"Itu tadi berhubungan dengan kondisi air di tanah bagian bawah. Pasti akan stabil karena kadar air pasti akan berkurang sampai pada batas maksimal pasti akan stabil," papar Tiopan.
Sebelumnya Kabid Bina Marga Denny Alfian juga menerangkan hal yang serupa.
"Untuk oprit saja tidak masalah. Setiap tahun memang ada keretakan tapi akan menyusut dan lama-lama tidak ada lagi retaknya," pungkas Denny. (hun/beb)

Editor : rusli-Admin Sapos