SELAIN penambahan kasus positif maupun pasien sembuh, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kaltim juga merilis dua pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal. Pertama, dari Kota Bontang. PDP ini meninggal pada Jumat (24/4) sekira pukul 02.05 Wita. Hasil rapid atau tes cepat corona pasien ini dinyatakan positif. Pasien berusia delapan tahun itu awalnya dirawat di Rumah Sakit Islam Bontang (RSIB). Jenis kelaminnya laki-laki.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, pasien masuk dirawat di RSIB sejak 6 April lalu. Pasien rutin berobat ke poli anak dengan riwayat klinis epilepsi dan anak berkebutuhan khusus. "Ia datang dengan membawa rujukan dari salah satu klinik di Bontang," kata Neni. Telah dilakukan screening sesuai prosedur di pintu masuk, pintu rawat jalan, dan rawat inap RSIB. Karena terus mengalami perburukan, pasien kemudian dirujuk ke RSUD Taman Husada pada 23 April.
"Kondisi saat dirujuk pasien mengalami penurunan kesadaran dan gagal napas," ucapnya. Pada hari yang sama, langsung dilakukan rapid test dengan hasil positif. Termasuk terhadap kedua orangtuanya. Berbeda kedua orangtuanya hasilnya negatif. Pasien lantas dilakukan swab untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Dilaksanakan tata laksana klinis sesuai kondisi pasien. Sebelumnya direncanakan akan dirujuk ke RS Abdul Wahab Sjahranie Samarinda," sebut Neni.
Dirut RSIB dr Hari Prasetya mengatakan, pasien dirawat inap selama 17 hari. Pada salah satu ruangan kelas 1 di rumah sakit tersebut. Keluhannya ialah menderita sesak napas. Menurutnya, anak ini merupakan pasien tetap rumah sakit.
“Sering memang ke sini untuk memeriksakan kesehatannya,” kata Hari. Pihak manajemen RSIB pun telah melakukan protokol kesehatan. Berupa pengukuran suhu tubuh di akses masuk dan menanyakan riwayat penyakit yang diderita. Bahkan, riwayat perjalanan pasien atau keluarga terdekat ditanyakan. Pasalnya, bila terdapat kontak dengan orang yang setelah bepergian ke daerah zona merah langsung di-tracing lebih lanjut.
“Setelah kami ketahui ternyata pasien ini memang tidak ke mana-mana. Ini yang kami bingung pasien ini tertular siapa. Saat ini masih jadi tanda tanya,” ucapnya.
Selanjutnya, pihak rumak sakit akhirnya merujuk ke RSUD Taman Husada pada Kamis (23/4). Sebab, pasien harus menjalani hemodialisa. Mengingat ketidaksediaan ruangan dan perlengkapan untuk upaya cuci darah itu.
“Memang ada problem di bagian ginjalnya,” tutur dia.
Ia pun tidak mengetahui ternyata ada pemeriksaan tes cepat oleh rumah sakit rujukan. Bahkan informasi meninggalnya pasien ini tanpa sepengetahuannya. Namun, Hari sempat mengaku berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan. Karena tidak diperkenankannya melakukan cuci darah. “Terus saya bertanya bagaimana kelanjutannya. Karena pasien harus menjalani perawatan lebih lanjut,” sebutnya.
Sementara, Plt Dirut RSUD Taman Husada dr I Gusti Made Suhardika membenarkan pasien rujukan ini masuk ruangan IGD pada Kamis (23/4) pukul 11.00 Wita. Selanjutnya pasien dibawa ke ruangan PICU di hari yang sama. Menurut dia, proses cuci darah tidak bisa serta-merta langsung dilakukan. Membutuhkan perencanaan terlebih dahulu. Bahkan perlengkapan hemodialisa untuk anak tidak layaknya orang dewasa. Metodenya yakni peritoneal dialisis.
“Ini adanya di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda,” sebutnya. Gusti pun enggan membeberkan keluhan maupun diganosis dari pasien ini. Pun demikian dengan upaya tenaga medis yang sudah dilakukan terhadap pasien selama masa perawatan.
Jenazah dimakamkan di TPU Bontang Lestari. Petugas medis pun melakukan prosesi pemakaman sesuai tata laksana pemulasaran jenazah Covid-19.
Sementara itu, satu PDP lainnya yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 dari Balikpapan. PDP yang dimaksud berusia 75 tahun. Dia meninggal dunia pada Kamis (23/4) sekira pukul 22.00 Wita di RSUD Kanujoso Djatiwibowo. “Saat ini masih menunggu hasil swab dari BBLK Surabaya terkait kejelasan status pasien. Hasil tesnya masih kita tunggu, jadi belum bisa kita pastikan statusnya. Tapi yang jelas satu pasien itu adalah PDP," sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan dr Andi Sri Juliarty. (*/ak/lil/riz/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria