Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kabar dari Pekerja Kaltim di Industri Migas Qatar saat Pandemi Corona

izak-Indra Zakaria • Rabu, 13 Mei 2020 - 05:18 WIB
DILANDA CEMAS: Karyawan Qatar Petroleum asal Indonesia di Halul Island bersantap sahur pada Ramadan 2020. DOKUMEN PRIBADI UNTUK KALTIM POST
DILANDA CEMAS: Karyawan Qatar Petroleum asal Indonesia di Halul Island bersantap sahur pada Ramadan 2020. DOKUMEN PRIBADI UNTUK KALTIM POST

Hampir semua negara di berbagai belahan dunia terdampak wabah Coronavirus Disease (Covid-19). Tidak terkecuali Qatar. Imbas virus corona menghantam segala sektor. Industri migas di negara petrodollar itu juga terpukul.

 

AJID KURNIAWAN, Balikpapan

 

IBNU Jatmiko kembali waswas. Kecemasan untuk yang kesekian kali. Bayang-bayang rasionalisasi menghantui pikirannya. Mengingat kembali peristiwa pada 2015 membuat dada karyawanQatar Petroleum (QP)itu sesak. Harga minyak mentah pada saat itu tergerus hingga menyentuh 20 USD per barel. Perusahaan-perusahaan migas di Qatar seperti Qatargas, Qafco, Qapco, Qchem, Oryx GTL, Qatar Steel, tidak terkecuali Qatar Petroleum melakukan efisiensi. Kebijakan merasionalisasi karyawan dan menunda proyek-proyek tertentu akhirnya diambil.

Selamat dari gelombang rasionalisasi pada 2015, Qatar kembali dihadapkan pada persoalan pelik. Empat negara tetangga Qatar yakni Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan United Arab Emirate (UAE) menerapkan embargo ekonomi dan diplomatik. “Ada 80 TKA dari Indonesia yang bekerja di Qatar Petroleum. Setiap kali harga minyak mentah mengalami penurunan yang tajam, rasionalisasi selalu menjadi ancaman,” ujarnya kepada Kaltim Post melalui aplikasi pesan WhatsApp.

Kini, Jatmiko dan TKA lainnya kembali dirundung cemas. Wabah Covid-19 kembali membuat harga minyak mentah terpuruk menyentuh USD 14 per barel. Pukulan yang berat jika langkah rasionalisasi pada 2015 kembali dilakukan. Beruntung, tutur Jatmiko, belum ada kebijakan dari perusahaan untuk melakukan penurunan produksi minyak mentah terkait penurunan harga minyak dunia. “Operasi masih berjalan normal. Mohon doanya saja,” ucapnya.

Jatmiko menuturkan, dampak embargo tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dampak Covid-19. Ketika Qatar mengalami embargo, pengusaha-pengusaha lokal justru bermunculan. Sektor ekonomi lokal menggeliat pesat.

Sebut saja perusahaan susu kemasan bernama BALADNA yang sekarang menjadi besar sejak embargo berlangsung. Sebelum embargo, Qatar mengimpor susu dari Arab Saudi. Wabah Covid-19 membuat seluruh sektor terpukul. Pergerakan roda ekonomi serasa berhenti berputar. Rasionalisasi karyawan terjadi di mana-mana. Kondisi ini diperparah dengan harga minyak mentah yang menyentuh 14 USD per barel.

Sebagai perusahaan migas milik negara, QPmemiliki kebijakan prioritas. Kewajiban perusahaan adalah tetap melindungi seluruh karyawan dan komunitas dari pandemi Covid-19. Ketika pemerintah menutup bandara dan melarang masuk seluruh penerbangan menuju Qatar, selain transit, beberapa karyawan terjebak di negaranya masing-masing ketika mengambil libur cuti tahunan. Dahriansyah Jumansyah adalah salah satunya. Warga Balikpapan yang tinggal di Kebun Sayur itu sempat tertahan di Indonesia selama dua minggu setelah Bandara Hamad International ditutup untuk penerbangan komersial.

Tak hanya Dahriansyah, puluhan orang dari berbagai wilayah di Indonesia tidak bisa kembali ke Qatar. Akhirnya, QP mengirimkan pesawat khusus menjemput karyawan asal Indonesia untuk kembali ke Qatar secara gratis. Sesuai arahan Covid-19 Crisis Management Committee, Dahriansyah dan beberapa  karyawan QP lainnya harus dikarantina selama 14 hari di hotel berbintang 4 sesampainya di Doha.

Qatar mencatatkan kasus pertamanya dari Covid-19 pada 29 Februari 2020. Pasiennya adalah seorang perempuan yang dievakuasi dari Iran menggunakan pesawat carter.

Pada 15 Maret 2020, Qatar telah mengumumkan serangkaian langkah-langkah, termasuk penangguhan semua penerbangan yang masuk untuk periode dua minggu awal sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19. Langkah itu diumumkan menyusul pertemuan antara Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Komite Tertinggi untuk Manajemen Krisis. Paket ekonomi dan keuangan akan memberikan insentif sebesar 75 miliar rial Qatar untuk membantu sektor bisnis swasta selama wabah.

Pernyataan dari komite termasuk menghentikan semua penerbangan yang masuk ke Doha sejak Rabu (18/3) malam untuk periode 14 hari yang dapat diperpanjang. Sebelum wabah corona, seperti kota-kota besar lainnya di dunia, jalanan Qatar begitu macet, terutama pada jam-jam mulai perkantoran. Suara klakson yang bersahut-sahutan lazim terdengar di Doha. Mal selalu penuh, terutama pada akhir pekan. Kini, jalanan menjadi lengang. Check point dibuat oleh polisi di beberapa titik untuk memberhentikan mobil secara acak menanyakan keperluannya pergi ke mana.

Sebagai negara Islam, hampir setiap 1 kilometer di Kota Doha terdapat masjid yang selalu dipadati jamaah. Sekarang, masjid ditutup atas imbauan pemerintah. Hanya saja, azan tetap berkumandang di setiap masjid dengan menambahkan lafaz: al-salatu fi buyutikum (Salatlah di rumah kalian).

PIALA DUNIA 2022

Wabah corona memukul keras sektor perdagangan dan pariwisata di Qatar. Pun terhadap persiapan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebelum Covid-19 mewabah, Qatar aktif mengadakan event-event olahraga internasional untuk menegaskan bahwa Qatar siap menjadi penyelenggara Piala Dunia 2022. Sebut Saja WTA tennis tour, MotoGP, dan IAAF World Athletics Championship. Bisnis berkembang pesat dari infrastruktur hingga pariwisata.

Sektor pariwisata menjadi unggulan Qatar. Kapal pesiar dari berbagai negara sering berlabuh di negara petrodollar ini. Qatar menawarkan eksotisme alam dan budaya  middle east. Souq Waqif (pasar tradisional Qatar), The Museum of Islamic Art, KATARA, Pearl Qatar (salah satu pulau buatan yang merupakan real estate terbesar di timur tengah artificial), dan wisata gurun merupakan beragam wisata yang ditawarkan. Kini, wisata itu menjadi lesu. Banyak perusahaan merumahkan karyawannya, termasuk Qatar Airways, maskapai milik negara.

Setelah kebijakan lockdown, tidak ada lagi penerbangan menuju Qatar, kecuali pesawat logistik dan evakuasi warga negara Qatar yang kembali ke negaranya. Tidak ada larangan bagi pekerja asal Indonesia untuk pulang ke Tanah Air. “Persoalannya mungkin akan mengalami kesulitan untuk kembali bekerja di Qatar,” ujar Jatmiko.

Yusran Aprianto, pekerja migas di Qatar asal Bontang, mengakui bahwa Covid-19 mengubah suasana Ramadan tahun ini.  Istri dan dua anaknya yang menemaninya di Doha hanya bisa berdiam diri di rumah. Anak-anak tidak bisa sekolah, hanya belajar di rumah. Masjid tutup sehingga tidak bisa salat berjamaah. “Apalagi sekarang bulan suci Ramadan, biasanya kita sekeluarga salat Tarawih di masjid, sekarang salat di rumah saja,” ujarnya.

Sebagai negara terkaya di dunia dengan GNI per kapita $116,799, Pemerintah Qatar tidak memberikan kompensasi terhadap warganya setelah menerapkan kebijakan lockdown. Namun, pemerintah memberikan berbagai keringanan kepada perusahaan yang terdampak. Seperti bank diinstruksikan untuk tidak menagih pinjaman perusahaan selama tiga bulan. (rom/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona #Mancanegara