Bambang Iswanto
Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda
SECARA fisik, sosok Bilal bin Rabah digambarkan sebagai lelaki bertubuh tegap dan kekar. Rambutnya hitam dengan bentuk keriting. Kulitnya sangat hitam untuk ukuran warna kulit kebanyakan orang yang hidup sezaman dengannya. Bilal pernah menjadi budak sebelum dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Proses pembebasan status Bilal dari budak menjadi manusia merdeka oleh Abu Bakar, terbilang dramatis. Dalam beberapa riwayat digambarkan, Bilal dihukum berat oleh tuannya yang bernama Umayyah bin Khalaf karena “kesalahan” memeluk agama Islam.
Sang majikan yang berasal tidak senang ada budak yang memiliki akidah yang didakwahkan Rasulullah. Umayyah menggunakan kuasanya sebagai pemilik budak memaksa Bilal untuk merevisi akidahnya.
Secara tidak manusiawi, Umayyah menghukum Bilal dengan menjemurnya di terik panas menghadap matahari, dengan leher terikat, dan tubuh ditindih batu panas yang berat. Dengan dugaan, Bilal pasti akan mau mengubah pendirian keimanannya kepada Islam, kembali kepada keyakinan lamanya menyembah berhala. Sesembahan Umayyah. Bilal dilepaskan dari hukuman jika mau mendustakan kerasulan Muhammad.
Bilal kukuh dengan ketauhidannya ketika dipaksa berulang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan. Kalimat itu sebagai bentuk ekspresi verbal kesadaran tauhid terdalam dari Bilal, selalu terucap ketika dihukum. Abu Bakar yang mendapat kabar penyiksaan mendatangi Umayyah dan membayar sejumlah uang sebagai tebusan Bilal, dengan harga yang lebih tinggi dari semestinya.
Dalam perjalanan sejarah hidup Bilal selanjutnya, derajat Bilal yang awalnya budak berubah menjadi orang yang mulia di antara sahabat-sahabat Rasulullah lainnya. Bilal menduduki posisi yang penting dan terus dicatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Beliau mendapat kehormatan selalu berada dekat dengan Rasulullah.
Rasulullah menjadikan Bilal sebagai orang yang pertama kali mengumandangkan azan sebagai panggilan salat, karena kemerduan dan nyaringnya suara yang dimilikinya. Asal-muasal azan sebenarnya bukan berbentuk lafal azan beserta langgam lagunya seperti yang dikenal saat ini.
Untuk menandai masuknya awal waktu salat dan memanggil umat muslim berjamaah awalnya diinisiasi menggunakan terompet dan akhirnya tidak dilanjutkan karena merupakan tradisi yang sering dilakukan orang Yahudi saat itu.
Hingga akhirnya diusulkan oleh sahabat bernama Abdullah bin Zaid bahwa untuk memanggil jamaah dan penanda waktu salat dengan menggunakan lafal azan seperti sekarang. Lafal tersebut diilhami dari mimpi Abdullah bin Zaid. Rasulullah setuju dengan lafal azan yang disampaikan dan menunjuk Bilal sebagai pengumandang pertama.
Sebagian masyarakat Indonesia khususnya di Kaltim, sering menggantikan istilah muazin sebagai orang yang mengumandangkan azan dengan kata Bilal. Bisa ditelusuri, dengan melihat beberapa masjid yang menulis kolom muazin pada media pengumuman, diubah menjadi bilal, di samping kolom imam dan khatib.
Padahal secara kaidah bahasa, kata muazin lebih tepat digunakan. Dalam bahasa Arab, muazin artinya orang yang azan, dibakukan ke dalam bahasa Indonesia menjadi muazin. Bisa jadi itu bentuk penghormatan terhadap Bilal sebagai manusia istimewa yang selalu diingat dalam sejarah.
Bilal layak mendapatkan karena keteguhannya mempertahankan ketauhidan dengan taruhan jiwanya dan torehan prestasi kehormatan sebagai pengumandang azan pertama kali.
Jejak kemuliaan Bilal bin Rabah juga tergambar dari cerita inspirasi yang dikabarkan kepada Rasulullah yaitu amalan yang sering dilakukan oleh Bilal. Rasulullah pernah menanyakan suatu hal yang ingin diketahui langsung oleh Rasul dari mulut Bilal bin Rabah.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim diperoleh informasi bahwa pertanyaan itu dilatarbelakangi peristiwa ketika Rasul berada di surga dan mendengar suara terompah (sandal) Bilal.
“Apa amal perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya untuk Islam?” Rasulullah menanyai Bilal, yang dijawab, “amalan yang paling kuharapkan manfaatnya untuk Islam senantiasa melakukan salat sunah semampuku, setiap selesai berwudu siang dan malam.”
Hadis tersebut menggambarkan Bilal merupakan penghuni surga. Dan Rasulullah menanyakan penyebab Bilal masuk surga juga. Ternyata keistikamahan salat sunah dan berwudu dari Bilal yang menyebabkan derajat ketakwaan Bilal di hadapan Allah menjadi tinggi dan berhak mendapat rida Allah untuk masuk surga.
Dari Bilal, semua bisa mengambil pelajaran bahwa derajat manusia di hadapan Allah tidak diukur dari pangkat, kedudukan, kepintaran, harta yang dimiliki, dan semua takaran yang sering dijadikan manusia sebagai indikator tingginya derajat. Apalagi ukuran warna kulit.
Semua manusia di hadapan Allah ternyata sama. Yang jadi pembeda hanyalah derajat ketakwaan manusia di hadapan-Nya. Derajat kemuliaan di hadapan Allah paralel dengan ketakwaan yang dimiliki manusia. Semakin takwa semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah.
Itulah ajaran agama yang harus terjabar dalam kehidupan sehari-hari. Satu sama lain harus memiliki pandangan egaliter. Tidak memandang rendah kepada yang lain dengan pandangan rasial dan diskriminatif. Rasul dan sahabat memberi teladan dengan tidak memandang fisik dan asal-muasal Bilal. Mereka semua hormat kepada Bilal karena ketakwaan yang dimilikinya. Wallahu a’lam. (rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria