Sejak mendapatkan real time-polymerase chain reaction (RT-PCR), Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) menjadi rujukan banyak pekerja. Khususnya perusahaan minyak dan gas (migas) untuk melakukan swab test mandiri.
M RIDHUAN, Balikpapan
BERBEDA dengan RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan dengan tes cepat molekuler (TCM), RSPB menggunakan RT-PCR untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh manusia.
Pemanfaatan alat RT-PCR bantuan badan usaha milik negara (BUMN) itu, selain untuk rujukan swab test pasien dalam pengawasan (PDP) dari Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid-19, juga digunakan untuk pelaksanaan tes mandiri bagi masyarakat umum, perusahaan dan rujukan rumah sakit lainnya.
Kepala Instalasi Laboratorium RSPB dr Suryani Trismiasih menjelaskan, sejak pemberlakukan hasil swab test negatif Covid-19 untuk keperluan penerbangan ke sejumlah kota, pihaknya banyak menerima peserta tes mandiri. Khususnya dari pekerja di bidang migas. “Tapi kuotanya terbatas,” kata Suryani, Kamis (11/6).
Karena ekstraksi sampel hasil swab masih menggunakan metode manual, pihak RSPB kini hanya sanggup menerima maksimal 96 sampel dalam sehari. Saat awak media ini mewawancarainya, Surnayi menyebut, daftar tunggu sudah membeludak. “Sampai Senin (15/6) sudah full,” ungkapnya.
Namun, peserta mandiri tetap diterima jika ingin mendaftar. Di mana seperti prosedur penerimaan swab mandiri, RSPB mewajibkan peserta membayar di muka agar bisa masuk daftar antrean. Karena diakuinya, saat ini kondisi peserta mandiri berebut untuk bisa melakukan swab test. “Jadi kalau bisa masuk kuota antrean dulu. Misal hari ini (11/6) daftar, Selasa (16/6) baru kami panggil untuk di-swab,” ucapnya.
Untuk bisa masuk daftar antrean, peserta swab test mandiri wajib mentransfer pembayaran Rp 2.130.000. Dan jika ingin mendapatkan surat keterangan negatif Covid-19 untuk bisa terbang, ada biaya tambahan sebesar Rp 180 ribu. “Karena memang ada yang perlu surat keterangan untuk terbang dan ada yang tidak,” ujarnya.
Sementara itu, jika peserta mandiri sudah menjalani swab test di fasilitas kesehatan lainnya dan memerlukan hasil, cukup membawa virus transfer media (VTM) sampel ke RSPB dengan biaya Rp 1.630.000. “Tapi mereka harus konfirmasi dulu. Bukan masalah kapan mengirimnya. Tapi kapan kami bisa mengerjakannya,” imbuh dia.
Dalam waktu normal, biasanya hasil swab test sudah bisa diketahui dalam tempo 2x24 jam. Namun, karena antrean yang panjang, peserta tes mandiri atau perusahaan wajib aktif untuk melakukan konfirmasi ke rumah sakit setelah menjalani swab test.
“Karena kondisinya memang banyak. Kami tidak bisa hubungi satu demi satu. Jadi kalau bisa telepon kami, baru kami pastikan apakah hasil swab-nya sudah ada atau belum,” jelasnya.
Dalam prosesnya, Suryani mengamini harus bekerja lembur. Bahkan jika ada permintaan swab test massal pekerja dari perusahaan, dia dan timnya bisa berada di laboratorium hingga dini hari.
Apalagi hingga kini, hanya dirinya yang memiliki otoritas untuk melakukan pembacaan hasil. Apakah sampel positif terinfeksi virus corona atau tidak. “Kami pernah rekor pemeriksaan 140 sampel sehari,” ujar dokter spesialis patologi klinis itu.
Suryani memastikan, jika alat ekstraktor otomatis asam ribonukleat (RNA) yang ditunggu rumah sakit sudah tersedia, pekerjaan mereka akan lebih cepat. Termasuk mampu menampung lebih banyak kuota yang saat ini. Untuk diketahui, RT-PCR milik RSPB adalah jenis LightCycler 480. Dan dengan alat ekstraktor otomatis, alat itu bisa menangani hingga 384 sampel sehari. “Dengan begitu tidak ada lagi peserta tes mandiri yang kami tolak,” ucapnya.
Sejak beroperasinya RT-PCR pada 19 Mei, hingga kini, RSPB disebutnya sudah melakukan pemeriksaan hingga 1.400 lebih sampel. Di mana 5 persen dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Dan untuk prosedur tata laksana penanganan Covid-19, bila ada peserta mandiri yang dinyatakan positif terinfeksi, maka diserahkan ke tim Covid-19 yang dibentuk rumah sakit.
“Kalau yang positif pasti segera ditangani sesuai protokol. Kalau dia peserta mandiri, bisa memilih apakah mau dijemput atau datang sendiri ke rumah sakit untuk menjalani karantina,” ungkapnya. (rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria