Minim penerangan dan kondisi jalan yang sedikit bergelombang, membuat pengendara tak fokus dan berujung insiden kecelakaan. Namun, Dinas Perhubungan (Dishub) tak ingin jadi satu-satunya instansi yang “tersentil” dari peristiwa yang menewaskan seorang pengendara roda dua pada Minggu (21/6) dini hari lalu.
SAMARINDA–Kecelakaan yang menewaskan Naparin (35) di persimpangan Jalan Cipto Mangunkusumo dan Syahrani Dahlan, atau lebih dikenal dengan Gunung Lipan, jelas jadi peringatan pula bagi pemerintah.
Dishub Samarinda jadi organisasi perangkat daerah (OPD) yang paling disorot. Menurut Kanit Laka Satlantas Polresta Samarinda Ipda Henny Merdikawati, kawasan itu tak maksimal penerangannya. Pasalnya, saat dia datang pertama ke tempat kejadian perkara (TKP), dua lampu penerang jalan umum (LPJU) tak maksimal. “Memang agak gelap, itu sebelum subuh,” ujar perwira melati satu tersebut.
Dikonfirmasi (22/6), Kadishub Samarinda Ismansyah menyebut, tidak seutuhnya kecelakaan didasari penerang jalan yang minim. Pasalnya, dua LPJU yang terpasang dinilai sudah cukup membantu pencahayaan di malam hari. Namun, dia tak ingin ambil pusing. “Nanti dibenahi,” ujarnya.
Pada 2018, Dishub Samarinda mendapatkan kucuran Rp 5 miliar untuk perawatan dan pengadaan LPJU. Jumlah itu dirasa masih sangat kurang. Idealnya Rp 16 miliar untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. “Kami menggunakan lampu LED (light emitting diode) khusus untuk penerangan jalan. Jadi, Rp 5 miliar itu sama sekali kurang tapi tetap kami memaksimalkan,” jelasnya.
Kendati demikian, Dishub tidak pasrah dengan anggaran yang minim tersebut. Pihaknya mengusulkan dana ke APBN dan bantuan keuangan (Bankeu) provinsi. “Sudah termasuk penerangan jalan nasional dan jalan provinsi,” ungkapnya.
Namun, di tengah situasi pandemi, banyak anggaran dipotong. “Tapi kan sekarang dipangkas karena corona. Nanti coba kami anggarkan di APBD Perubahan. Paling tidak LPJU kembali berfungsi,” ungkapnya.
Dia juga meminta fasilitas umum dipelihara. Pria yang hobi bermain gitar itu menilai, banyak tangan jahil yang merusak kabel jaringan. “Ada aja yang gergaji. Kabel itu lumayan mahal lho kalau dijual,” ujar Ismansyah. Terkait LPJU di Gunung Lipan, disebut Ismansyah, memang ada yang harus diperbaiki. Namun, dia meminta instansi terkait harus secepatnya memperbaiki. Untuk urusan jalan, memang ranah Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR). “Bagus sama-sama tangani masalah, jadi cepat selesai, sehingga warga yang melintas aman,” tutupnya. (dra2/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria