Selain terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya, Pulau Derawan ternyata juga menyimpan situs sejarah. Dengan keberadaan makam berbatu nisan berbentuk kuda. Yang baru segelintir orang mengetahui siapa yang dimakamkan, dan mengapa diberi nisan berbentuk kuda.
MAULID HIDAYAT, Pulau Derawan
Secara administratif, (Kampung) Pulau Derawan masuk wilayah Kecamatan Pulau Derawan, yang terletak sekitar 10 kilometer dari Tanjung Batu –ibu kota Kecamatan Pulau Derawan. Palau ini memiliki luas 44,70 hektare. Ada dua jalur yang bisa dilalui menuju pulau berpenduduk sekitar 1.560 jiwa dengan 440 kepala keluarga (KK) ini. Jika melalui jalur darat dari Tanjung Redeb –ibu kota Kabupaten Berau, perjalanan bisa ditempuh sekitar 111 kilometer menuju Tanjung Batu, dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Kemudian dilanjutkan menyeberang ke pulau menggunakan speedboat dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jika melalui jalur laut, waktu tempuh lebih singkat, sekitar 2 jam dari Tanjung Redeb, dengan jarak tempuh sekitar 105 kilometer.
Tidak sulit mencari penginapan di pulau ini. Jika ingin menikmati suasana malam di pinggir pantai, Anda bisa menginap di resort. Puluhan resort berjejer di sepanjang bibir pantai. Jika ingin menikmati suasana kampung dengan keramahan penduduknya, Anda bisa memilih menginap di homestay milik warga. Namun di waktu-waktu tertentu, seperti libur akhir tahun dan libur hari besar keagamaan, biasanya resort maupun homestay dipenuhi pengunjung. Jadi jika ingin menghabiskan waktu pergantian tahun atau libur Lebaran, Anda harus melakukan pemesanan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.
Kamis (25/6) lalu, Berau Post berkunjung ke pulau wisata ini. Kebetulan pemerintah kampung setempat berencana membuka kembali akses masuk pulau yang sempat ditutup untuk wisatawan selama pandemi virus corona.
Selain ingin memastikan kondisi pantai yang mulai mengalami abrasi, awak media ingin mengetahui sejarah keberadaan makam dengan nisan berbentuk kuda di kampung ini.
Dari informasi warga setempat, tak sedikit wisatawan yang selalu menyempatkan diri mengunjungi makam nisan kuda ini. Tapi tak banyak yang mengetahui sejarah makam ini.
Berbekal informasi dari Retno, Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, awak media ini pun menemui Amiril Umrah, sejarawan yang juga tokoh masyarakat di Pulau Derawan.
Tak sulit untuk menemukan kediaman Amiril Umrah yang letaknya sekitar 150 meter dari dermaga kampung, di RT 02 Kampung Pulau Derawan. Kebetulan, pria yang usianya sudah menginjak 80 tahun itu tengah duduk santai di teras rumah kayu, bercat hijau miliknya. Dengan ramah, Amiril Umrah menerima awak media ini. Meskipun tidak lagi muda, namun pendengarannya masih baik. Setelah berbincang dan mengetahui maksud kedatangan media ini, dia tampak bersemangat bercerita awal mula keberadaan makam nisan kuda yang ada di kampungnya. “Itu bukan kuburan kuda, hanya batu nisannya berbentuk kuda. Itu makam Ligadung Malawi,” ujar Pak Umrah – sapaan akrabnya –menjawab pertanyaan media ini.
Lalu siapakah Ligadung Malawi yang dimakamkan dengan nisan berbentuk kuda? Mendapat pertanyaan itu, Pak Umrah lantas menjelaskan sejarah awal kedatangan Ligadung Malawi ke Pulau Derawan.
Kurang lebih 150 tahun silam, datanglah seorang anak sultan bernama Ligadung Malawi ke Pulau Derawan. Kedatangannya untuk mencari ayahnya, Dasar, seorang sultan yang bergelar Pangeran Aji Kuning II, saudara Datu Maharaja Dinda. “Pangeran Aji Kuning II akrab dipanggil Puan si Rambut Merah, karena memiliki rambut berwarna merah,” kata Pak Umrah.
Ia melanjutkan ceritanya. Pada masa kesultanan, Puan si Rambut Merah sempat ditawan perompak, kemudian dibawa ke Negeri Sulu Filipina. Selama ditawan, tidak ada satu orangpun yang tahu bahwa Puan si Rambut Merah merupakan keturunan sultan dari Kesultanan Kuran. Hingga suatu saat, Negeri Sulu kerap dilanda bencana gempa dan diserang wabah penyakit.
Bertubinya bencana dan wabah penyakit yang terjadi, membuat Pemangku Kesultanan Sulu khawatir. Hingga akhirnya mendapat mimpi bahwa salah seorang tawanannya merupakan keturunan bangsawan. Setelah dilakukan penelusuran, ternyata Puan si Rambut Merah yang dimaksud dalam mimpi itu, karena masih keturunan dari Kesultanan Kuran – cikal bakal nama Berau.
“Selama menjadi tawanan, Puan si Rambut Merah menikah dengan Musa Balimbing yang juga masih keturunan Kesultanan Sulu. Dari perkawinannya itu, mereka dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ligadung Malawi,”lanjut Pak Umrah.
Namun seiring berjalannya waktu, Kesultanan Sulu memulangkan Puan si Rambut Merah ke asalnya. Kepulangannya diantar Punggawa Sitaba dan Sitoke, pengawal Kesultanan Sulu. Namun Musa Balimbing dan anaknya Ligadung Malawi yang masih bayi, tidak ikut dan menetap di Kesultanan Sulu.
Ligadung Malawi pun tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya. Akhirnya saat bersekolah, Ligadung Malawi sering diejek temannya karena tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Ligadung Malawi pun kerap bertanya kepada sang ibunda, Musa Balimbing, tentang keberadaan ayahnya.
Saat Ligadung Malawi beranjak dewasa, ibunya akhirnya memberitahukan sosok ayahnya. Yang merupakan keturunan sultan dari Kesultanan Kuran. “Mengetahui ayahnya dari Kesultanan Kuran, Ligadung Malawi langsung melakukan perjalanan menuju ke Berau (Kesultanan Kuran). Niatnya mencari sang ayahanda,” jelasnya.
Sesampainya di Kesultanan Kuran, Ligadung Malawi bertemu pamannya, Datu Maharaja Dinda. Ligadung Malawi diterima dengan baik oleh sang Sultan Datu Maharaja Dinda. Dia pun diberitahukan bahwa ayahnya Puan si Rambut Merah telah wafat. Kemudian, ia dibawa berziarah ke makam sang ayah di kawasan Tanah Kuning, Kalimantan Utara.
Oleh pihak kesultanan, ia dipersilakan untuk tinggal di Gunung Tabur. Tetapi Ligadung Malawi memilih melanjutkan perjalanan menuju Pulau Nusa Dalawan (sekarang Pulau Derawan).
Selama di Pulau Nusa Dalawan, Ligadung Malawi ikut menyebarkan ajaran Islam. Ia memiliki seorang istri bernama Musta Bumbun. “Musta itu memiliki arti mutiara, sedangkan Bumbun itu cantik,” ujarnya.
Dari pernikahannya, Ligadung Malawi dikaruniai tiga orang anak. Yakni Ligadung Landalawi, Guanda, dan Ligadung Pajiji. “Beliau sempat menikah di sini (Pulau Derawan). Beliau memiliki tiga orang anak,” tambah Pak Umrah.
Dalam menyebarkan ajaran Islam, Ligadung Malawi menggunakan cara dakwah yang unik dan jenaka. Hal ini dilakukan untuk menarik minat warga. Meskipun keturunan seorang sultan, namun Ligadung Malawi tetap rendah hati dan berbaur dengan masyarakat. Bahkan hanya sedikit orang yang tahu bahwa Ligadung Malawi keturunan sultan.
Beberapa tahun di Pulau Nusa Dalawan, tepatnya 1926, Ligadung Malawi mengembuskan napas terakhir, saat sedang melaksanakan salat Zuhur. “Beliau dimakamkan di sini (Pulau Derawan, Red),” kata Pak Umrah.
Terkait makam yang diberi nisan berbentuk kuda, menurut Pak Umrah, adalah penghormatan warga kepada sang sultan. Sebab pada zaman itu hanya sultan ataupun keturunannya yang boleh menunggangi kuda.
“Nisan kuda itu terbuat dari batu Paddas diambil di Gusung Sanggalau, Pulau Derawan. Batu seukuran 4x3 meter itu diangkut menggunakan dua perahu oleh Litubud dan Lampe, keponakan dari Ligadung Malawi. Butuh waktu 3 hari untuk membuat nisan berbentuk kuda tersebut. Warga berinisiatif mengecat nisan tersebut dengan warna putih yang berarti suci,” jelasnya.
Letak makam yang memiliki lebar sekitar 1,5 meter dan panjang 2 meter itu tidak jauh dari rumah penduduk, tepatnya di Jalan SA Maulana, RT 4 Pulau Derawan. Di sekitar makam nisan kuda, ada beberapa makam lainnya yang menurut Pak Umrah, adalah makam dari keturunan Ligadung Malawi.
Setiap tahun, lanjut Umrah, warga Pulau Derawan melaksanakan doa bersama yang diberi nama Duattah atau doa arwah. Dalam kegiatan tersebut dipersiapkan beras, gula tebu, kunyit, dan kelapa. Kemudian dipimpin oleh pemuka agama untuk membacakan doa-doa. Ada juga beberapa warga yang memasak untuk santap bersama. Umrah menuturkan, kegiatan itu juga untuk memperkuat tali silaturahmi sesama warga, baik keturunan langsung Ligadung Malawi ataupun pendatang. “Setiap tahun rutin dilaksanakan itu,” pungkasnya.
DIUSULKAN SEBAGAI CAGAR BUDAYA
Sementara itu, Kepala Kampung Pulau Derawan, Bahri menuturkan, makam tersebut sudah ada sejak 1926. Namun baru diketahui secara luas sekitar tahun 1974, saat wisatawan mulai berdatangan ke Pulau Derawan. Meski warga setempat mengetahui keberadaannya, namun hanya segelintir yang mengetahui sejarahnya. Salah satunya Pak Umrah. “Informasinya anak dari sultan wafat dan dimakamkan di sini (Derawan, Red),” ujarnya.
Saat ini, pihaknya mengusulkan agar makam nisan kuda tersebut menjadi cagar budaya dan masuk situs sejarah. Sehingga sejarahnya bisa diketahui orang banyak dan jadi wisata religi ataupun sejarah. “Informasinya kan masih minim. Sedikit masyarakat yang tahu. Bahkan warga Pulau Derawan juga banyak yang tidak tahu sejarahnya,” katanya.
Terpisah, Retno, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau menjelaskan, untuk bisa masuk ke dalam wisata sejarah, pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut, terkait sejarah pasti makam tersebut.
“Seperti makam Raja Alam di Kecamatan Batu Putih. Itu butuh penelitian yang panjang. Harus mendatangkan peneliti dari luar Berau. Yang menguasai sejarah-sejarah seluruh Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, izin cagar budaya harus diurus di pemerintah provinsi. Dalam catatan yang ada, memang tidak tertera tahun berapa Lidagung Malawi datang ke Indonesia, tepatnya ke Pulau Derawan. Terlebih berapa lama, Ligadung Malawi berada di pulau tersebut. “Banyak yang mengaku keturunan beliau. Tapi untuk membuktikannya perlu penelitian juga,” ujarnya.
Terkait dengan pemugaran makam, pihaknya telah melakukan beberapa perbaikan. Termasuk pemasangan plang tanda makam tersebut. “Tahun-tahun sebelumnya selalu dilakukan perbaikan. Namun tahun ini terkendala anggaran, karena ada pengalihan anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19,” ungkapnya.
Sementara itu, Budayawan Berau, Safruddin Ithur mengaku hanya mengetahui selentingan berita soal adanya makam yang kabarnya keturunan sultan itu. “Mereka itu kan orang laut. Orang-orang Suluk (suku dari Kesultanan Sulu, red). Mereka bergerak dari wilayah Selatan Indonesia. Mereka bukan perantau, mereka memang hidup di laut. Di mana ada air tawar, mereka singgah dan menetap,” katanya.
Ia mengakui, sekitar 150 tahun silam, Pulau Derawan memang lebih dulu dihuni penduduk daripada Pulau Maratua. Saat Raja Alam berperang melawan Belanda tahun 1810, orang Bajau Suluk, termasuk Raja-Raja dari Bugis, membantu Raja Alam untuk berperang. Karena kalah berperang, banyak petinggi-petinggi dari Suluk yang mengabdi di Kesultanan Gunung Tabur maupun Kesultanan Sambaliung.
“Kerajaan Berau dulu pada masa jayanya, dari Teluk Sumbang yang berbatasan dengan Kutai, hingga ke Cina Batangan, masuk wilayah Malaysia. Saat itu belum terbagi dua kesultanan,” jelas Safruddin. “Terkait keberadaan Lidagung Malawi, dia memang keturunan Sultan Sulu. Pada zaman dulu, memang banyak sultan dari Berau yang menikah dengan keturunan Kesultanan Sulu,” jelasnya. (*/har)
Editor : uki-Berau Post