Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menilik Situasi IKN di Sepaku setelah Gempa Menggetarkan Tiga Kecamatan di Berau

izak-Indra Zakaria • 2020-07-18 11:32:37
Ahli geologi menilai aktivitas kegempaan di kawasan IKN relatif stabil dan aman dari tsunami.
Ahli geologi menilai aktivitas kegempaan di kawasan IKN relatif stabil dan aman dari tsunami.

Gempa bumi bermagnitudo 4 yang terjadi di Tanjung Redeb, Berau, Kamis (16/7) pagi, merembet ke rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

 

Untuk diketahui, gempa yang terjadi pada kedalaman 10 kilometer ini disebabkan oleh bergeraknya patahan (sesar) aktif Mangkalihat. Patahan itu diprediksi memiliki panjang sekitar 438 km. Adapun karakteristik patahan ini didominasi oleh patahan naik (reverse fault). Patahan Mangkalihat dikenali berupa sesar mendatar dan diidentifikasi di pantai timur Pulau Kalimantan. Potensi kegempaan di Kaltim, khususnya di Sepaku memang jadi pembicaraan seiring pemindahan IKN.

Pada seri webinar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) yang membahas IKN, terutama dari sisi potensi tsunami di Selat Makassar pekan lalu, potensi gempa bumi patahan aktif justru berasal dari patahan adang atau adang fault. Namun, anggota dewan penasihat IAGI Andang Bachtiar tidak sepakat jika patahan aktif itu dapat bergerak seperti Patahan Mangkalihat sehingga berdampak pada gempa bumi.

“Kalau disebut aktif, kayaknya enggak aktif dalam konteks 10 ribu tahun. Dia (Patahan Adang) bergerak sebagai episentrum. Tetapi dia mungkin longsoran yang ada di situ, tapi bukan patahan aktif,” kata Andang dalam diskusi daring tersebut. Mantan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2014–2017 ini melanjutkan, memang ada beberapa patahan di dekat wilayah inti calon IKN di Sepaku, PPU. Namun, dia merasa perlu ada pemetaan lagi.

Untuk memastikan jika patahan yang masuk dalam Sesar Adang itu cukup aktif. “Ada patahan-patahan di situ (inti calon IKN), tapi saya enggak yakin, (peta zonasi seismotektonik) ini didetailkan. Mungkin hanya evaluasi dari surface biologi. Atau dari permukaan. Kalau digabungkan dengan data seismik tadi, akan jauh lebih bagus,” tutur Andang.

Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Benyamin Sapiie menambahkan, calon pusat pemerintahan IKN di Sepaku, PPU, juga relatif stabil dari gempa tektonik. Namun, memang ada beberapa patahan aktif. Namun, lokasinya cukup jauh dan memiliki kekuatan rendah. Kurang dari magnitudo 7 di Sesar Tarakan dan Sesar Mangkalihat.

“Sementara West Sulawesi dari Sesar Palukoro mempunya potensi gempa lebih dari magnitudo 7,” kata dia.

Dari hasil penghitungan dan pemetaan Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR pada 2017, potensi gempa bumi di lokasi calon IKN sangatlah kecil. Kesimpulan ini menggunakan pendekatan peak ground acceleration (PGA) atau percepatan tanah maksimum yang merupakan dampak gelombang gempa bumi di lokasi pengukuran,

Meskipun ada Sesar Mangkalihat yang masih aktif, potensi gempa bumi di Sepaku, dinilai sangat kecil jika dibandingkan siklus gempa 500 tahunan. “Daerah ini secara tektonik, dia stabil. Secara aktivitas (kegempaan) tidak ada, secara getaran dari peak ground acceleration atau PGA sangat sekali tidak terlihat,” katanya.

Sebelumnya Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Erika Mardiyanti selaku koordinator BMKG Kaltim menyampaikan, gempa bumi di Tanjung Redeb, Berau, berkekuatan magnitudo 4,0 dengan episenter atau yang terletak pada koordinat 1,85 LU dan 117,39 BT. Atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 36 kilometer arah barat daya Tanjung Redeb.

Dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa ini termasuk dalam klasifikasi gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). “Diduga pembangkit gempa ini adalah Sesar Mangkalihat yang menerus ke arah Barat Laut,” katanya.

Erika melanjutkan, berdasarkan laporan masyarakat, gempa ini dirasakan di wilayah beberapa kecamatan di Kabupaten Berau. Seperti Kecamatan Tanjung Redeb, Kecamatan Teluk Bayur, dan Kecamatan Labanan.

Dalam skala intensitas II-III MMI, gempa Berau dua hari lalu mengakibatkan getaran yang membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Seperti ada truk berlalu.

“Gempa Berau yang terjadi menarik untuk dicermati. Dapat disimpulkan bahwa catatan gempa signifikan, dapat mengalami pengulangan. Karena sifat gempa yang memiliki periode ulang. Dengan demikian, daerah yang pernah mengalami gempa kuat pada masa lalu, dapat kembali terjadi pada masa yang akan datang,” katanya.

Untuk itu, sebagai upaya mitigasi bencana, wilayah yang memiliki catatan sejarah gempa merusak pada masa lalu, wajib membangun bangunan tahan gempa. Serta mengedukasi warganya bagaimana cara selamat saat terjadi gempa. “Ini penting sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi kejadian gempa berikutnya,” pungkas Erika. (kip/riz/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria