Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pelanggan: Kapan Air Ngalir Lagi?”

izak-Indra Zakaria • Rabu, 22 Juli 2020 - 20:23 WIB
Photo
Photo

BALIKPAPAN—Efek perbaikan pecahnya pipa PDAM di Km 8 Hutan Transad dan Km 5,5 masih terasa hingga kemarin. Pelanggan yang jauh dari jaringan pipa PDAM seperti wilayah Balikpapan Barat belum teraliri air.

Kalaupun ada hanya sebagian kecil di Baru Ulu, berkat pasokan dari IPAM Baru Ulu. Itu pun tidak sampai ke rumah warga yang berada di perbukitan.

Direktur Utama PDAM Balikpapan Haidir Effendi mengungkapkan permohonan maaf karena layanan air masih belum merata. Sebab, sejak kebocoran pertama pada Rabu (15/6) dan Kamis (16/6) masih banyak daerah belum teraliri, walau perbaikan sudah selesai.

Dirinya tidak bisa menjanjikan kapan air dapat mengalir dengan lancar, mengingat banyak jalur pipa yang kosong pada saat perbaikan dan belum terisi sepenuhnya. Sehingga tekanan air tidak bisa naik saat ke daerah perbukitan.

"Kami tetap monitoring, sekarang masih tahap normalisasi, dan air bisa kembali normal bila warga tidak panik. Tergantung dari pemakaian lagi," ujarnya.

Pelanggan yang mengalami suplai airnya berasal dari IPAM Km 8. Sedangkan untuk warga yang berada di Balikpapan Timur tidak ada kendala. Mengingat air dipasok dari Waduk Teritip. Sementara itu, aliran air di kawasan Kampung Damai Jalan MT Haryono, Markoni, Klandasan, Batu Ampar dan Pasar Buton mulai kembali normal.

BELI AIR TANDON

Karena air tak kunjung mengalir, pelanggan di Kampung Baru misalnya harus merogoh kocek untuk membeli air tendon.

Musdalifah yang tinggal di Gang Murni, Baru Tengah misalnya. Ia mengatakan sudah sekitar sepekan air tidak mengalir di rumahnya. Persediaan air di tandon maupun bak telah kosong. Mau tidak mau, Musdalifah pun harus membeli air bersih yang dibayar Rp 80 ribu per tandon.

Dia juga mengeluhkan pembayaran air yang turut membengkak hingga dua kali lipat. Yang biasa hanya Rp 200 ribu per bulan kini hampir Rp 500 ribu. Sebagai seorang orangtua tunggal tentu dirinya merasa kewalahan. "Biasanya air mati hanya 2-3 hari saja, ini sampai 10 hari. Kapan air ngalir lagi? Jangan sampai kejadian kayak tahun lalu, air mati berbulan-bulan, tapi kita disuruh tetap bayar. Kondisi lagi sulit, malah bikin tambah sulit," keluhnya. (lil/ms/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Pdam Balikpapan #Seputar Balikpapan