Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

1 Persen Kemungkinan Tinggal di Lebanon Itu Hilang Sudah

izak-Indra Zakaria • Jumat, 7 Agustus 2020 - 18:55 WIB
Detik-detik Israa Seblani dan suami saat pengambilan video dan ledakan dahsyat di Beirut.
Detik-detik Israa Seblani dan suami saat pengambilan video dan ledakan dahsyat di Beirut.

BEIRUT– Selasa lalu (4/8) seharusnya jadi hari gembira bagi Israa Seblani. Perempuan 29 tahun itu sedang menjalani sesi pengambilan video di depan gedung pernikahannya di wilayah Saifi Square, Beirut, Lebanon.

Semua detail disiapkan sejak Seblani datang dari Amerika Serikat (AS) tiga minggu lalu. Seblani memang diaspora Lebanon yang bekerja sebagai dokter di AS. Dia datang ke kampung halamannya untuk menikah dengan Ahmad Subeih.

Namun, kebahagiaannya terhempas bersama ledakan di kompleks gudang Pelabuhan Beirut. Video yang seharusnya menangkap detail gaun putih ekor panjang dan senyuman Seblani malah jadi saksi dahsyatnya letusan ribuan ton amonium nitrat.

Videografer yang sedang asyik merekam Seblani terhempas jauh hingga ke seberang jalan sambil menahan angin kencang akibat ledakan tersebut. ’’Yang ada di pikiran saya cuma satu. Apa saya akan mati di sini,’’ ungkapnya kepada The Guardian.

Beruntung, Seblani dan kerabatnya selamat. Namun, dia mengambil kesimpulan. Dia tak mungkin tinggal di Lebanon. Dia makin mantap meminta suaminya ikut ke AS. ’’Sebelum ini, saya pikir ada 1 persen kemungkinan saya tinggal di sini meski ada krisis ekonomi dan virus korona. Sekarang, pikiran itu hilang,’’ ungkapnya.

Pikiran Seblani sudah disuarakan banyak orang. Mereka merasa Lebanon sudah bukan lagi tempat yang bisa ditinggali. Krisis ekonomi berkepanjangan membuat banyak orang terjerumus ke lubang kemiskinan. Munculnya wabah Covid-19 juga memperparah masalah.

Penduduk yang tak mampu bermigrasi jelas panik. Pemerintah sudah terbukti berkali-kali lebih mengutamakan kepentingan partai daripada negara. Pemerintah juga sudah berkali-kali terbukti korup dan teledor mengelola negara. Ledakan tersebut jadi bukti terbarunya.

Hingga kemarin, pemerintah Lebanon sudah melaporkan setidaknya 137 orang meninggal. Korban luka sudah menembus 5 ribu orang. Sedangkan orang telantar karena ledakan tersebut sudah mencapai 300 ribu orang.

Persoalan 2.750 metrik ton amonium nitrat sebenarnya bermula dari permasalahan bea cukai pada 2013. Saat itu, MV Rhosus berlayar dari Batumi, Georgia, menuju Mozambik. Namun, pemilik kapal mengaku bahwa uang operasionalnya menipis. Karena itu, kapten Boris Prokoshev dan awak kapal diminta untuk menaikkan kargo dari Beirut secara ilegal.

Aksi mereka ketahuan. Otoritas pelabuhan langsung menahan kapal beserta muatan. Sedangkan Igor Grechushkin, pemilik kapal yang tinggal di Siprus, tak pernah memenuhi panggilan. Kapal dan muatannya dibiarkan terbengkalai di Beirut.

Setelah 11 bulan tertahan, pengadilan memerintahkan agar awak kapal dideportasi dan muatan kapal dipindah ke gudang pelabuhan. ’’Saya sudah menulis surat ke Putin setiap hari. Sampai-sampai saya harus menjual bahan bakar untuk menyewa pengacara,’’ ungkap Prokoshev kepada radio Echo Moscow Rabu lalu (5/8).

Pada tahun yang sama, Mikhail Voytenko, pengelola situs pelacak kapal, sudah menyebut MV Rhosus sebagai ’’bom mengapung’’. Otoritas bea cukai juga sudah mempunyai firasat buruk.

Direktur Bea Cukai Lebanon Badri Hader mengatakan, lembaganya telah mengirimkan enam surat dalam enam tahun terakhir. Dia menyediakan berbagai solusi seperti mengekspor muatan itu atau menjualnya ke tentara Lebanon. Namun, semua surat tersebut belum mendapat balasan hingga saat ini.

’’Otoritas pelabuhan seharusnya tak mengizinkan muatan diturunkan. Tujuannya Mozambik, bukan Lebanon,’’ ungkap Hader kepada CNN.

Direktur Jenderal Pelabuhan Beirut Hassan Kraytem mengatakan hanya menjalankan perintah pengadilan. Dia juga tahu bahwa otoritas bea cukai, bahkan keamanan nasional, sudah mengemukakan risiko amonium nitrat. Namun, muatan tersebut masih tersimpan di gudang nomor 12 hingga Selasa lalu.

Kraytem bahkan mengatakan, pihaknya sempat mengunjungi gudang tersebut saat siang. Ketika itu, lembaga keamanan nasional meminta agar pintu gudang diperbaiki. ’’Kami melakukan perbaikan saat siang. Yang terjadi pada sore kami tidak tahu,’’ ungkapnya.

Amonium nitrat merupakan zat yang biasa digunakan untuk pupuk. Namun, karakteristik zat tersebut juga bisa diubah sebagai bahan peledak.

Karena itu, regulasi penyetoran muatan amonium nitrat biasanya sangat ketat. Tak boleh ada ruangan tertutup yang bisa menyimpan uap amonia dan harus jauh dari pusat populasi.

’’Ini benar-benar kealpaan regulator yang besar,’’ ungkap Andrea Sella, profesor kimia inorganik dari University College London, kepada Science Media Centre.

Pemerintah sudah berjanji mengupas tuntas insiden tersebut. Saat ini, mereka sudah menjadikan pejabat pelabuhan yang berkaitan dengan muatan itu sebagai tahanan rumah. Tim investigasi khusus pun telah dibentuk. ’’Tim tersebut punya waktu empat hari untuk mengungkap semua detail insiden,’’ ujar Menteri Luar Negeri Lebanon Charbel Wehbe.

Namun, pihak oposisi tak setuju. Partai Future Movement yang dipimpin Said Hariri meminta penyelidikan independen dilakukan lembaga internasional. Hal tersebut juga didukung Amnesty International dan tokoh sekte druze terkemuka Walid Jumblatt. ’’Kami tak percaya terhadap petahana. Jika mereka dibiarkan, Lebanon bisa hilang,’’ ungkapnya menurut Al Jazeera.

Saat ini, Lebanon memang sedang krisis. Menteri Perekonomian Lebanon Raoul Nehme sendiri yang mengakui bahwa mereka tak mampu berdiri sendiri. Cadangan pemerintah, bank sentral, maupun perbankan swasta tak mampu memenuhi kebutuhan saat ini.

Beruntung, banyak negara yang mengulurkan bantuan. Afghanistan dan Iraq sudah siap mengirimkan migas mereka. Negara-negara Eropa, terutama Prancis, bekas penjajah Lebanon, juga siap memberikan bantuan medis dan penyelamat. (bil/c7/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara