PADA 2017 silam, seorang penemu dan pengusaha Richard Browning memperkenalkan setelan jet “Iron Man” dari Marvel. Namun, hingga kini belum diketahui apa yang akan mereka lakukan dengan teknologi tersebut.
Namun, baru-baru ini Gravity Industries yang memproduksi teknologi tersebut telah menemukan rekanan yang tepat. Mereka bekerja sama dengan Great North Air Ambulance Service (GNAAS) Inggris untuk sesuatu yang berguna bagi banyak orang.
Dikutip dari Reuters, kemarin (30/9), Browning saat ini telah melakukan uji terbang simulasi korban di lokasi pegunungan. Dia pun berhasil sampai di lokasi korban hanya dalam waktu 90 detik, jauh lebih cepat ketimbang jalan kaki.
Semakin cepat paramedis menjangkau korban, semakin cepat mereka bisa menstabilkan dan memanggil helikopter atau bantuan lainnya. “Kami harap, teknologi ini bisa memungkinkan tim menjangkau beberapa pasien jauh lebih cepat dari sebelumnya,” kata Direktur Operasi GNAAS Andy Mawson.
“Dalam banyak kasus hal ini akan meringankan penderitaan pasien. Dalam beberapa kasus, itu akan menyelamatkan hidup mereka,” sambungnya.
Untuk diketahui, jetpack itu menggunakan microjets bertenaga bahan bakar jet atau diesel yang dipasang di lengan dan punggung pilot. Browning mengatakan, risiko kebakaran terbilang minim karena bahan bakar tidak terlalu mudah meledak atau mudah terbakar. Keberadaannya relatif dekat dengan tanah jika terjadi kerusakan mekanis.
Meski tesnya sukses dan terlihat sangat keren, mungkin perlu beberapa tahun paramedis jetpack itu benar-benar beroperasi. Model Gravity memiliki waktu terbang hanya 5–10 menit, dan memerlukan pelatihan yang sangat terspesialisasi. Selain itu, menuntut kebugaran yang cukup untuk menopang berat badan pengguna hanya dengan lengan.
Selain itu, harga produksi untuk jetpack itu tidak terlalu murah. Satu jetpack akan dihargai sekitar Rp 6,5 miliar. Tapi, harga itu jauh lebih murah dibandingkan membeli helikopter beserta pilot, bahan bakar, dan perawatan. (rom2/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria