TANA PASER - Sejak pembubaran Gugus tugas menjadi satuan tugas (Satgas) untuk penanganan Covid-19 di Paser pada akhir Oktober lalu. Evaluasi dilakukan terkait fakta dilapangan selama ini. Ibarat buah simalakama, banyak kebijakan yang harus diterapkan, namun mendapatkan gejolak dan perdebatan di masyarakat.
Salah satunya ketika pembubaran oleh Satgas, di momen berkumpulnya masa ingin menyaksikan kehadiran uztaz kondang dari Makassar, Das'ad Latif. Menurut Wakil Bupati Paser Kaharuddin, perlu upaya lebih keras lagi agar kasus penyebaran Covid-19 di Paser bisa menurun. Meskipun faktanya di lapangan kasus terus meningkat dan Paser masih masuk zona merah.
"Apalagi even terakhir yang paling menjadi sorotan. Banyak masyarakat mempertanyakan, mengapa kegiatan keagamaan ditunda, sedangkan tempat hiburan masih dibuka," kata Kaharuddin, Jum'at (20/11).
Wakapolres Paser Kompol Boney Wahyu Wicaksono mengatakan saat kegiatan keagamaan yang mengumpulkan masa di Desa Jone beberapa hari lalu. Satgas bukan membiarkan kegiatan keagamaannya, namun membubarkan pengumpulan massa.
"Semangat kita semua jangan sampai kendor. Apalagi seluruh instansi kini fokus tugas dan anggarannya diarahkan ke penanganan Covid-19," ujar Boney.
Dandim 0904/TNG Letkol Czi Widya Wijanarko mengatakan seluruh pihak harus memiliki semangat yang sama dalam penanganan pandemi ini. Khususnya agar Paser bisa ke luar dari zona merah.
"Masih ada 26 orang lagi yang sembuh dirawat agar keluar dari zona merah," tutur Widya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporpar) Paser Yusuf Sumako mengatakan arahan presiden untuk satgas sudah jelas, selain penanganan kesehatan, juga pemulihan ekonomi. Sehingga potensi wisata, rumah makan, dan sejumlah kafe dan tempat hiburan di Paser tetap buka. Namun dengan menjaga standar protokol kesehatan.
"Jika ini ditutup, maka ekonomi akan macet dan akan menjadi gejolak lebih besar lagi. Kalau untuk Tabligh Akbar memang jelas sudah tidak diperbolehkan," kata Yusuf. (Adv/jib)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan